Anggaran Keluarga: Selalu Siap Dengan Perubahan

Kehadiran si kembar

Hari ini (16 Januari 2016), kedua anak kembar saya berulang tahunnya yang pertama. Benar-benar ngga terasa sudah 1 tahun ini saya dan istri berjibaku dengan semua kerepotan sekaligus keceriaan dalam memiliki anak kembar. Sebagian orang yang saya kenal dan temui, mayoritas memiliki tanggapan yang sama saat tau saya memiliki anak kembar: aahh… lucu bangeett…!!

Beneran kah memiliki anak kembar itu lucu? Well, tergantung sikon sih, hehehe. Dokter obgyn saya malah lucu, saat tau istri hamil kembar, pundak saya ditepuk-tepuk sambil bilang: Selamat dan tetap tabah ya sambil senyum; trus dia berbisik: untung cuma kembar 2 loh… 🙂

Anyway, apapun tantangannya, saya dan istri sangat bersukur atas berkat yang kami peroleh melalui pemberian anak kembar di keluarga kami. Banyak hal yang telah kami lewati selama 1 tahun ini dan thank God kedua anak kami ini tumbuh dengan normal dan sehat walafiat sampai saat ini (dan semoga seterusnya. amin).

Note: walaupun saya juga akhirnya paham banget arti bisikan si dokter obgyn terfavorit se-KMC itu, hehehe… Buat semua orangtua yang punya anak kembar (terutama yang lebih dari 2), I feel you… 🙂 #tetapsemangat #berkahTuhan

Perubahan dalam anggaran keluarga

Eh itu intro aja lho ya. Tulisan kali ini sebenernya ingin saya tekankan pada “perubahan” dalam personal budget/anggaran keluarga yang bisa terjadi dan harus diadaptasi dengan cepat oleh semua personal/keluarga.

Sebelum kita mulai terlalu jauh, apa sih personal budget atau anggaran keluarga, atau kadang disebut personal cash flow atau cash flow keluarga? Trus gimana cara menyusunnya? Silakan pantau tulisan-tulisan singkat saya sebelumnya, yang bisa diperoleh disini. Atau bisa cek blog teman saya di danirachmat.com, kebetulan beliau sedang membahas topik ini dalam beberapa tulisan di awal Januari 2016 ini.

Sharing: Perubahan anggaran keluarga saya

Saya cerita sedikit biar jelas maksud saya di sharing kali ini ya. Sampai awal 2014 lalu, saya dan istri sudah memiliki anggaran keluarga yang rapi, dengan semua tujuan keuangan sudah teralokasi dengan baik. Berdasarkan itu, kami memutuskan untuk berusaha memiliki anak lagi (anak kedua).

Berdasarkan alokasi anggaran, harusnya cukup banget nambah 1 anak lagi. Pertengahan tahun 2014 istri saya confirmed hamil, dan ternyata (jreeenng..), hamil kembar. Nah mulailah terjadi masalah karena anggaran keluarga HARUS berubah. Kenapa?

1: Biaya melahirkan

PERTAMA, karena saat itu yang berstatus karyawan hanya istri saya sehingga benefit asuransi melahirkan hanya berasal dari kantornya saja (yang kebetulan tidak mengcover 100% sehingga kami masih harus menyediakan sebagian besar dananya, dan juga tidak mengenal kelahiran kembar, hehehe).

Apa yg terjadi? Ya saya mesti mengalokasikan dana lebih banyak lagi untuk persiapan kelahiran ini. Rencana lahir di sebuah RSIA di bilangan Ampera Jaksel (ngikut obgyn yang menangani anak pertama). Biaya untuk melahirkan 1 anak saja udah lumayan disini, begimana kalo langsung 2 coba?! 🙂

Tantangan makin seru saat memasuki bulan ke 8 kehamilan dimana istri memutuskan untuk resign. Trus ternyata melahirkannya pun mesti melalui operasi caesar. Cakeeeppp… Langsung lagi utak-atik anggaran 🙂 Lumayan lah biayanya saat itu, kira-kira setara dengan TAG Heuer Monaco Calibre 12, hehehe. Akhirnya beres masalah pertama, dan lanjut ke berikutnya.

2: Biaya imunisasi dan stroller

Masuk masalah KEDUA. Saya mesti ngutak-ngatik lagi budget tidak rutin yang berkaitan dengan imunisasi. Berdasarkan pengalaman anak pertama, ketakar lah ya kebutuhan untuk imunisasi. Tapi ternyata sekarang imunisasi itu sudah lebih mahal dan saya mesti mengimunisasi 2 anak sekaligus.

Untuk bulan-bulan awal (kalo ngga salah inget mesti ada imunisasi bulan 1, 3, 4 dan 6), ada 2x saya mesti bayar Rp 3 juta per sekali kedatangan (untuk 2 anak). Whatt..?? Kalo ditotal sudah dapet berapa jam tangan Guess coba tuh? 🙂

Jangan tanya yang mana imunisasi yang mahal, saya tidak ingat. Saya cuma ingat tagihannya saja, hehehe. Belum termasuk imunisasi usia 1 tahun nih, karena masih harus cek darah dulu. Tapi ini kan kebutuhan, tidak mungkin saya bilang tunda dulu imunisasinya karena mau ngumpulin duit 🙂 Berikutnya lagi ada kebutuhan carseat, dimana saya harus beli 2 sekaligus.

Kemudian stroller, dimana istri prefer stroller yg double tapi depan belakang (biar bisa gampang masuk pintu). Tapi sukurlah semuanya bisa teratasi. So, beres masalah kedua. Lanjuuutt…

3: Biaya lain-lain: popok, ART, susu

Masalah KETIGA, masalah biaya rutin bulanan dalam keluarga. Saya mesti adjust lagi biaya-biaya yang ada dalam keluarga. Banyak yang berubah. Mulai dari popok. Dulu istri selalu pake clodi, sekarang dia nyerah. Yaiyalah, ngga kuat nyucinya sambil jagain 2 anak, hehehe. Akhirnya pakai popok biasa, dan sehari paling minim menghabiskan 10 popok. Jadi 1 pack popok paling besar yang ada di toko tuh, di rumah saya abis paling lama 1 minggu, hehehe.

Berikutnya masalah ART, terpaksa harus ada bantuan tambahan untuk istri saya, at least dalam mengurus rumah di saat dia repot mengurus anak yang bergantian rewel atau minta disusuin (yang artinya tambahan anggaran).

Nah ngomongin susu, itu masalah juga karena setelah 6 bulan ASI istri tidak lagi mencukupi sehingga terpaksa dicampur dengan susu formula. Coba perhatikan berapa harga susu formula, yang juga cuma tahan maksimal 1 minggu per box-nya 🙂

4: Dana pendidikan anak

Masalah KEEMPAT, masalah yang cukup sering dikicaukan oleh financial planner. Dana pendidikan!! Yes, alokasi ini juga harus dihitung ulang. Dulu dalam sesi seminar atau konsultasi, saya selalu menekankan agar jika bisa, keluarga mengatur jarak usia anak agar tidak tepat berjarak 3 tahun. Biar uang pangkal sekolah nantinya tidak memberatkan.

Ya walaupun ini bukan menjadi masalah jika diatur dengan baik, tapi at least akan meringankan alokasi biayanya. Dan sekarang, saya alami sendiri masalah tersebut, dan ngga bisa ngeles, hehehe. Yah benar, saya akan selalu berhadapan dengan membayar uang pangkal sekolah untuk 2 anak sekaligus. Fiuuuh… #tetapsemangat.

5: Dana darurat

Masalah terakhir, KELIMA, adalah masalah yang paling sering dan selalu dikicaukan oleh financial planner manapun di muka bumi ini. Dana darurat!!

Yes benar, dana darurat saya banyak tergerus karena kebutuhan-kebutuhan yang saya ceritakan dari awal. Ditambah lagi saat itu saya sedang dalam proses membangun rumah, yang mana sampai ditempati pun banyak kerja tambahan yang harus dilakukan dan membutuhkan dana lumayan besar. Sebagian besar sumber dananya ya dari dana darurat juga.

Jadinya sekarang saya sedang dalam proses untuk mengembalikan level dana darurat yang cukup optimal untuk keluarga saya.

Hal-hal penting mengenai Anggaran Keluarga

Beberapa poin penting dari sharing saya tentang anggaran keluarga di atas adalah:

  • Anggaran keluarga atau personal budget adalah sesuatu yang WAJIB anda siapkan. Dari sini anda bisa mengetahui gambaran pasti mengenai keadaan keuangan anda. Apa yang bisa dibeli dan yang tidak, apa yang bisa diusahakan untuk dicapai, apa yang bisa diselesaikan dengan perubahan alokasi biaya, skala prioritas dari semua kebutuhan, dll.
  • Lakukan review secara rutin terhadap anggaran keluarga / personal budget ini. Bersiaplah untuk semua perubahan yang terjadi. Banyak hal yang sebenarnya bisa kita capai tapi tidak kita kejar karena kita sendiri tidak memahami kekuatan finansial yang kita miliki. Demikian juga sebaliknya, banyak hal yang akhirnya menjerumuskan kita ke dalam masalah finansial karena kita tidak mengetahui kelemahan finansial kita.
  • Dana darurat adalah syarat mutlak untuk setiap keluarga. Harga mati. Dalam cerita saya, apa yang akan terjadi jika saya tidak memiliki dana darurat yang mencukupi? Yang pasti saya ngga akan sanggup cerita dalam postingan ini, hehehe… Intinya, para financial planner bukan tanpa alasan selalu dan selalu menekankan pentingnya dana darurat ini, karena ada saat-saat dimana dana darurat ini akan sangat terasa gunanya.

Akhir kata, buat saya (mengutip dari suatu tulisan yang saya lupa baca dimana):

“Kehidupan itu seperti mengendarai mobil di malam hari melalui suatu daerah yang belum pernah kita lalui. Apa yang bisa kita lihat adalah hanya sebatas sorotan lampu saja. Di depan bisa ada masalah di jalan, ataupun bisa ada hal-hal menarik yang menggoda kita untuk sekedar singgah beristirahat”

Apapun itu, semuanya butuh persiapan untuk dilalui. Dengan persiapan yang cukup di dalam mobil, apapun yang terjadi di jalan hanya akan menjadi cerita menyenangkan untuk diperbincangkan saat tiba di tujuan nanti. Yang perlu dipastikan hanyalah: kita bisa sampai di tujuan.

Semoga bermanfaat.

 

 

4 Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: