Punya Banyak Kartu Kredit? No Problem!!

Minggu lalu saya ikut sebuah seminar tentang bagaimana mempersiapkan masa depan yang lebih cerah. Harapannya sih dapet pencerahan lebih tentang bagaimana mempersiapkan masa pensiun, eh taunya malah dapet ide untuk nulis tentang kartu kredit.

Kenapa? Karena di salah satu sesinya si Bapak pembicara, yang katanya udah bergelar S3, menyinggung masalah kredit bagus vs kredit jelek dengan contoh pada penggunaan kartu kredit.
Seorang karyawan yang memiliki kartu kredit lebih dari 2, langsung dicap sebagai orang yang memiliki kredit jelek, karena selain meningkatkan hasrat hidup konsumtif, juga harus menanggung annual fee yang lumayan gede. Contoh untuk kredit baik adalah temennya si pembicara yang ngebiayain perputaran usahanya dengan kartu kredit, dengan memanfaatkan masa pembayaran sebelum jatuh tempo.
Pertanyaannya, apa benar semudah ini bikin judgementnya?

Apakah salah memiliki banyak kartu kredit?

Saya dengan tegas akan bilang kalo si pembicara, seorang lulusan S3 dan katanya punya banyak usaha dan aktif dalam organisasi kewirausahaan, terlalu cepat dalam mengambil kesimpulan hanya dengan melalui informasi tentang jumlah kartu kredit yang dimiliki. Akan lebih tepat kalo ditelusuri lagi bagaimana cara penggunaan kartu tersebut dan kedisiplinan pemegang kartu dalam pembayaran.

Saya sendiri saat ini memiliki 3 kartu kredit, dan apakah ini bisa digolongkan sebagai kredit jelek? Mari kita nilai bareng-bareng.

  1. Saya menggunakan kartu kredit hanya sebagai pengganti cash. Artinya, kartu kredit digunakan untuk membeli hal-hal yang memang dibutuhkan dan sesuai dengan budget bulanan.
  2. Kartu kredit juga digunakan untuk membeli beberapa barang yang nyediain cicilan 0%.
  3. Kartu kredit juga saya manfaatin untuk nyari diskon, terutama untuk kegiatan di weekend (makan, nonton bioskop).
  4. Semua hutang kartu kredit selalu saya lunasi sebelum tanggal jatuh tempo. Iyalah, kan belanjanya juga sesuai budget dan cuma sebagai pengganti cash, so duit tunainya juga pasti ada.

Keuntungan dari cara penggunaan kartu kredit di atas:

#1 Cashless dan reward point

Dengan belanja dengan kartu kredit, saya ngga perlu repot bawa-bawa cash kemana-mana. Keuntungannya lagi, tiap belanja dengan kartu kredit ini kita dikasih bonus point yang nantinya bisa digunain seperti voucher diskon di transaksi berikutnya. Ini paling favorit nih buat saya, karena dengan point reward ini saya sering dapet segelas kopi starbucks gratis

#2 Cicilan tanpa bunga

Dengan kartu kredit, saya bisa membeli beberapa barang elektronik dengan cicilan dan tanpa bunga. Lumayan banget. Apa ada instrumen kredit lain yang bisa nawarin fasilitas kayak gini? Hmmm, ngga pernah tau sih.

#3 Annual fee vs benefit

Satu lagi, masalah annual fee. Saya membayar annual fee utk 2 kartu saya dengan jumlah skitar Rp 25 ribu / bulan / kartu. Mahal? Mari kita hitung. Dengan sekali nonton bioskop di XXI dalam sebulan, saya bisa beli 1 tiket dapet gratis 1 tiket lagi (BCA). Artinya? Dibandingkan dengan pake cash, saya udah hemat Rp 50 ribu. Dikurangi dengan annual fee, saya untung Rp 25 ribu.

Berikutnya, dengan sekali dalam 1 bulan makan di Dome, saya bisa dapet diskon 50% (Mandiri). Asumsi makannya Rp 200 ribu, udah hemat Rp 100 ribu sendiri tuh. Annual fee mah bukan masalah atuh. Next, sekali beli es krim baskin robbins tiap akhir bulan, dapet diskon 50% (Mega). Secara annual fee kartu yang ini gratis, ya udah pasti nguntungin buat saya.

Masalah lain dengan penggunaan kartu kredit

So, masalah annual fee nya dipastikan gugur. No problem at all. Tapi gimana tentang perilaku konsumtif? Seperti saya bilang, selama kartu kredit digunain hanya sebagai pengganti cash dan untuk dapetin diskonan, udah pasti semua pengeluaran pastinya akan sesuai dengan budget.

Emang bener sih kalo ada banyak orang yang justru memakai kartu kredit sebagai sumber cashflow baru dan akhirnya malah konsumtif dan terjerat utang. Ini sangat tepat kalo dikategorikan sebagai kredit jelek. Bahkan kalo menurut Pak Elvyn G. Masassya, seorang analis perbankan, ini ujungnya akan berdampak kepada kecelakaan finasial.

Solusinya cuma satu, terapi kejiwaan (Kompas 9 Oktober 2011). Atau kalo menurut Pak Aidil Akbar dalam salah satu seminarnya, orang kayak gini mau ngga mau harus digunting kartunya, or minimal untuk sementara waktu kartunya dibekukan dalam arti sebenarnya (Masukin kartu kredit ke air dalam baskom trus taro di freezer. Serius!!)

Hanya saja sekarang kita ngga bahas itu, saya cuma ingin fokus ke masalah dasar judgment bahwa seseorang dikategorikan dalam kelompok pemilik kredit jelek hanya berdasarkan pada jumlah kartu kredit yang dimiliki. Terbukti ngga selalu begitu kan?

Kartu kredit untuk usaha? Hmmm…

Lucunya, contoh kredit baik yang diangkat oleh si Bapak S3 tadi adalah penggunaan kartu kredit dalam usaha. Ini malah justru ajaib bin gendeng. Masa iya kredit konsumsi (yang notabene lebih mahal bunganya) dipake untuk ngebiayai usaha?

Kalo pinter ngelolanya dan siklus bisnisnya berjalan dengan normal sepanjang masa sih ngga apa-apa. Tapi gimana kalo bisnisnya tertimpa sedikit masalah? Gimana kalo ternyata pada suatu saat konsumennya pada telat bayar semua? Apa ngga kelabakan tuh bayar pinjeman kartu kreditnya, hehehe.

Kalo pun mo ngutang dulu, bunganya mahal banget, diatas 3% per bulan, lebih dari 36% per tahun. Sadis banget. Coba bandingin risikonya dengan risiko saya sebagai pemilik 3 kartu kredit, mana yang harusnya dibilang sebagai kredit jelek? Duh, sayangnya saya ngga berani ngajak debat tu Bapak S3 di ruangan, cuma ngedumel aja dalam hati bisanya, hihihi.

Cerita pengalaman berkartu kredit banyak

Tambahan dikit, dulu saya pernah lho punya 11 kartu kredit (kalo kemaren ngaku di kelas seminar kira-kira reaksi si Bapak S3 apaan yah?!). Buruk? Ntar dulu, jangan buru-buru bikin judgement, anda bukan lulusan S3 ;p Jadi gini, dulu di kantor yang lama, pekerjaan saya mengharuskan saya untuk sering bepergian ke luar kota.

Nah waktu itu penerbit kartu kredit lagi gencar-gencarnya mengumbar kartu kredit gold, free annual fee, dengan berbagai macam fasilitas, salah satunya adalah free executive lounge di bandara. Nah, ini dia inceran saya. So saya apply ke semua penerbit kartu yang nawarin kartu gold (karena untuk masuk lounge minimal mesti gold) dengan fasilitas executive lounge. Keuntungannya, tiap ke bandara manapun di seluruh Indonesia (kota besar), tinggal samperin lounge yang ada dan keluarin kartu kredit yang diterima. Gratis, hehehe.

Tapi kalo ini ada kerugiannya:

  1. Panik luar biasa kalo tiba-tiba dompet ilang. Kebayang tuh mesti blokir semua kartu dengan nelponin banknya satu persatu.
  2. Saat pindah kantor or mo nutup kartu, cape juga nelponin banknya utk ganti alamat tagihan or nyari-nyari alesan biar menang debat ngelawan petugas penutupan kartu.

Moral of story

Gunakan kartu kredit anda secara cerdas. Sebanyak apa pun kartu kredit anda, jika digunakan dengan benar dan diikuti dengan kedisiplinan dalam membayar, justru akan memberikan keuntungan untuk anda. Sedikit tambahan, tingkat pendidikan seseorang ternyata tidak berhubungan langsung dengan kecerdasan penggunaan kartu kredit, hihihi….

8 Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: