Indonesian Middle Class

Bagi anda yang sering membaca tulisannya Mbak Ligwina Hananto pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah ini: “We are the strongest middle-class Indonesians” Betul sekali, biasanya tulisan itu selalu ada di akhir artikel beliau. Apa artinya? Seolah-olah beliau ingin mengatakan bahwa semua pembaca artikel tersebut adalah orang-orang kelas menengah di Indonesia.
Saya pribadi sih seneng-seneng aja dibilang termasuk kelas menengah, kedengerannya lumayan gaya soalnya. Iyalah, saya bukan kelas atas (jelas banget) tapi juga ngga mau dibilang kelas bawah. Pertanyaannya skarang, benarkah kita termasuk sebagai orang-orang yang dibilang kelas menengah tsb?

Definisi middle class

Apa sih arti middle class itu sendiri? Berikut definisi menurut Investopedia:
Individuals who fall between the working class and the upper class within a societal hierarchy. In Western cultures, persons in the middle class tend to have a higher proportion of college degrees than those in the working class, have more income available for consumption and may own property. Those in the middle class often are employed as professionals, managers and civil servants.
Ini adalah definisi yang sangat umum, untuk sekedar menggambarkan karakter dari masyarakat kelas menengah. Dari beberapa artikel yang saya baca, banyak cara pengelompokan yang dilakukan untuk mendefinisikan middle class ini dengan lebih spesifik lagi.

6 benchmark penentuan middle class

Ada sebuah artikel yang menurut saya menarik dan sepertinya cara pendefinisian middle class yang dipakai bisa juga diterapkan di Indonesia. Dalam artikel tersebut, James E. McWhinney menceritakan bahwa masalah definisi middle class ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah Amerika Serikat sehingga dianggap perlu untuk membentuk sebuah task force khusus.
Hasilnya, task force ini berhasil menemukan 6 benchmark yang bisa dipakai untuk menentukan anggota middle class di Amerika Serikat, yang juga bisa digunakan di negara lain.
Keenam benchmark itu adalah sebagai berikut:

1. Kepemilikan Rumah

Rumah tinggal yang layak adalah impian bagi semua orang, namun tidak semua orang mampu memilikinya. Fasilitas KPR yang menjadi andalan pun kerap mensyaratkan besaran gaji tertentu untuk memastikan bahwa fasilitas kredit tersebut dapat dibayar tanpa menggangu pengeluaran rutin rumah tangga.
Dengan demikian maka kepemilikan rumah ini telah menjadi saringan untuk membedakan tingkat pendapatan setiap orang.

2. Kepemilikan Kendaraan Bermotor (Mobil)

Mirip dengan kepemilikan rumah, untuk memiliki mobil dibutuhkan dana yang cukup besar dan fasilitas kredit yang tersedia juga mensyaratkan besaran gaji tertentu.

3. Jaminan Pendidikan untuk Anak-anak

Orang tua akan dianggap berhasil apabila berhasil mengantar anak-anaknya ke jenjang perguruan tinggi. Dana yang dibutuhkan tidak lah sedikit, dan harus sudah mulai dipersiapkan sedini mungkin sehingga tidak memberatkan pengeluaran rutin. Konsep persiapan dana pendidikan sangat diutamakan dalam tahap ini.

4. Jaminan Keamanan Masa Pensiun

Setiap orang menginginkan masa pensiun yang tenang dan nyaman, tanpa harus bergantung kepada anak-anaknya. Untuk itu maka setiap pribadi atau keluarga sudah selayaknya memiliki perencanaan pensiun yang matang dengan memproyeksikan kebutuhan dana di masa pensiun nanti. Investasi adalah cara terbaik untuk mengumpulkan dana pensiun, namun tidak semua orang mampu dalam berinvestasi secara rutin.

5. Perlindungan Kesehatan

Masalah kesehatan terkadang dapat menguras banyak uang di waktu yang tidak kita duga. Karena itu perlindungan terhadap segala penyakit harus dimiliki sesuai dengan kebutuhan. Asuransi adalah pilihan yang tepat namun tidak semua orang mau dan mampu untuk membayar premi rutin.

6. Liburan Keluarga

Liburan ke luar kota atau luar negeri secara berkala adalah hal yang menyenangkan namun belum tentu terjangkau oleh semua orang.
 
Jika anda telah memiliki keenam hal di atas maka anda bisa digolongkan sebagai Indonesian middle class, walaupun mungkin rumah anda berada di pinggiran Jakarta dan mobil anda hanya sebuah Avansa. Perbedaan tipe rumah dan mobil hanya menunjukkan perbedaan tingkatan kelas sosial di level menengah ke atas, namun yang jelas anda tidak termasuk dalam kalangan masyarakat bawah.
Bagaimana jika tidak semua benchmark itu anda miliki? Sayang sekali anda belum bisa digolongkan sebagai Indonesian middle class, kecuali jika anda mampu untuk memiliki bechmark tersebut namun karena alasan-alasan tertentu anda memutuskan untuk menunda proses kepemilikannya.

Tambahan: dana darurat

Saya pribadi memandang perlu untuk menambahkan ketersediaan dana darurat sebagai tambahan faktor benchmark untuk antisipasi kejadian-kejadian yang bersifat mendadak sehingga tidak menggangu pengeluaran dan perencanaan keuangan kita.

Kesimpulan

Pada intinya keenam hal di atas berhubungan langsung dengan pengeluaran rutin anda setiap bulan untuk kebutuhan primer dan kebutuhan masa depan. Rumah dan mobil jika dibayar secara mencicil tentu akan mengurangi cash flow.
Demikian juga dengan investasi rutin untuk kebutuhan pensiun dan dana pendidikan serta premi asuransi dan tabungan untuk dana liburan. Penghasilan besar tentu akan mempermudah dalam memenuhi keenam hal tersebut, namun kemampuan dalam mengatur penghasilan (perencanaan keuangan) lebih berperan penting.
Jika anda termasuk orang yang memiliki perencanaan keuangan yang baik namun masih belum memiliki salah satu dari 6 faktor di atas, maka sebenarnya anda tinggal menunggu waktu untuk naik ke golongan Indonesian middle class.

One Response

  1. Pingback: Middle class?? Are we? | Penunggu Karetan Agustus 21, 2013

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: