Mengenal Jenis Asuransi Jiwa Individu

tipe asuransi jiwa

Saya tertarik untuk membahas sedikit tentang jenis asuransi jiwa, terinspirasi dari tulisan Kompas tentang jenis-jenis asuransi yang dibagi dalam artikel1 dan artikel2.

Tulisan yang lengkap dan jelas sebenarnya, namun masih ada saja yang merasa penjelasannya masih terlalu berat dan tidak mudah dimengerti.

Jadi, saya coba tulis ulang dengan bahasa saya yah, semoga lebih gampang dimengerti. Biar lebih santai, saya coba tulis dalam bentuk cerita aja deh untuk mengenal jenis asuransi jiwa individu.

Jenis asuransi jiwa

Term life

Awalnya asuransi jiwa sama seperti asuransi lainnya, yaitu berbentuk proteksi akan jiwa manusia dimana berdasarkan kontrak, sejumlah uang pertanggungan (UP) akan dibayarkan dalam jangka waktu tertentu (sehingga disebut berjangka).

Jika sampai masa kontrak berakhir si tertanggung masih hidup maka tidak ada UP yang dibayarkan. Dengan sifat seperti itu maka premi yang harus dibayarkan oleh pemegang polis menjadi murah.

Whole life

Perkembangannya, ternyata banyak orang yang tidak begitu nyaman dengan produk termlife karena batasan waktu pertanggungan tersebut. Mereka mengharapkan pertanggungan yang lebih panjang, kalau bisa seumur hidup.

Jadi kapan pun pemegang polis meninggal, asuransi harus membayar UP sesuai dengan perjanjian. Akhirnya lahirlah produk whole life ini. Namanya wholelife, tapi umumnya masa pertanggungan mencapai umur 99 tahun.

Jadi, jika melewati usia 99 tahun ini, tidak ada UP yang dibayarkan (hanya nilai tunai asuransi, jika ada). Otomatis, masa pertanggungan asuransi menjadi panjang, dengan sendirinya premi produk ini menjadi lebih mahal daripada termlife.

Endowment (dwiguna)

Dalam perkembangannya, ternyata banyak yang masih tidak puas dengan produk whole life. Alasannya, tidak ada nilai tunai yang bisa dinikmati oleh tertanggung selama hidup. Gampangnya, masa iya kalo udah meninggal aja baru dapet duit? Gimana kalo sampai usia 99 pun masih tetap hidup? Uang tunai lebih dibutuhkan di saat seperti ini.

Akhirnya, lahirnya produk endowment untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut. Gampangnya, jika tertanggung masih tetap hidup sampai usia 99 tahun maka UP dan nilai tunai akan dibayarkan. Dengan sendirinya, premi yang harus dibayarkan menjadi lebih tinggi dari whole life.

Dalam perkembangannya, produk endowment ini dimodifikasi lagi sehingga bisa memberikan nilai tunai dengan jumlah tertentu dalam periode yang dijanjikan. Sebagai contoh, kebanyakan produk yang ditawarkan sebagai asuransi pendidikan menggunakan skema asuransi seperti ini.

Asuransi non tradisonal / unit-linked

Ternyata, produk endowment pun masih belum memuaskan. Alasan utama, karena nilai tunai yang dijanjikan relatif kecil, jauh dari hasil yang bisa diperoleh jika diinvestasikan di tempat lain.

Akhirnya, lahirlah produk unit-linked, yang menghubungkan asuransi dengan investasi di instrumen lain. Perbedaannya dengan endowment, hasil investasi tidak diperjanjikan, namun bergerak sesuai pasar dari jenis investasi yang diinginkan.

Hasilnya, nilai investasi bisa naik dan turun, namun berpotensi memberikan hasil lebih tinggi dari endowment. Dengan adanya pengelolaan investasi ini, maka premi yang harus dibayarkan juga menjadi lebih mahal. Fungsi asuransi sebagai proteksi masih berjalan, namun juga dibarengi dengan investasi.

Pada perkembangannya, fungsi asuransi ini sering dijadikan sebagai prioritas kedua setelah fungsi investasi.

=====

Demikian sedikit sharing tentang jenis-jenis asuransi jiwa yang bisa ditemui. Semoga berguna untuk kita semua. Selanjutnya saya akan coba membahas lebih dalam tentang kebutuhan asuransi jiwa ini dalam beberapa tulisan ke depan. Selamat berasuransi.

 

Image: caring-for-aging-parents.com

 

 

2 Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: