Kebiasaan Buruk dalam Keuangan Pribadi yang Harus Dihilangkan

perencanaan keuangan pribadi

Kebiasaan buruk dalam keuangan pribadi seringkali dimiliki tanpa kita sadari. Hal ini penting untuk dirubah agar seseorang berhasil dalam mengelola keuangan.

Dalam hal ini, memiliki pendapatan besar belum menjadi jaminan bagi seseorang untuk mampu mencapai semua tujuan keuangannya.

Saya merangkum 8 kebiasaan buruk dalam keuangan pribadi yang harus diatasi untuk mencapai sebuah perencanaan keuangan yang berhasil, sebagai berikut: (Sumber: The Network Journal, Shine, MSN Money, Womansday).

Kebiasan buruk dalam keuangan pribadi

Over spending

Ini biasanya terjadi saat belanja bulanan di supermarket, semua barang yang dipajang tiba-tiba menjadi kebutuhan untuk dibeli.

Solusinya? Cara lama, siapkan catatan belanja dari rumah dan hanya fokus pada barang-barang yang ada di daftar tersebut. Agar fleksibel, tentukan juga batasan maksimum anggaran yang bisa dibelanjakan setiap kali pergi ke supermarket.

Tidak memiliki anggaran

Artinya semua pengeluaran tidak memiliki perencanaan dan alokasi yang jelas, dan berpotensi membuat pendapatan kita habis tanpa kita sadari. Kembali lagi deh ke istilah gaji 5 koma 🙂

Padahal contoh jelas bisa dilihat di tempat kerja kita masing-masing. Adakah yang tidak dikerjakan dengan patokan anggaran? Solusinya, cobalah untuk mulai membuat anggaran belanja, dari mulai menggunakan catatan manual sampai dengan aplikasi di gadget.

Tidak memanfaatkan diskon

Ternyata kebiasaan untuk membeli barang sesuai harganya adalah kebiasaan yang kurang baik. Seperti yang dibahas di artikel sebelumnya di blog ini, cobalah untuk menahan diri dan manfaatkan beberapa hal untuk memperoleh diskon.

Caranya bisa dengan rajin melihat iklan program diskon, menggunakan kupon, program diskon kartu kredit, dll. Tapi yang penting, belanja lah seperlunya. Jangan justru memanfaatkan diskon untuk membeli lebih banyak barang.

Impulse purchase

Salah satu sumber kebocoran anggaran rumah tangga sebagai hasil jalan-jalan di mall, hehehe. Pertanyaannya, bagaimana membedakan antara impulsive purchase dan yang bukan? Kadang-kadang pembelian ini didasarkan pada “kapan lagi ada barang bagus dan murah kayak gini?”

Ada satu metode yang ditawarkan untuk membedakannya, yaitu metode 48 jam. Artinya, biasakan diri untuk menunda pembelian seperti ini selama 48 jam. Selama 48 jam itu coba lah untuk berpikir apakah kita benar-benar membutuhkan barang tersebut. Waktu 48 jam dianggap cukup untuk dapat berpikir dengan jernih.

Gengsi dan ikut-ikutan

Kebanyakan dari kita membeli sesuatu karena gengsi atau ikutan-ikutan. Tetangga membeli mobil baru atau merenovasi rumah bukan berarti itu pertanda kita pun harus melakukan hal yang sama. Temen kantor membeli gadget keluaran terbaru tidak berarti kita harus membeli barang yang sama agar tetap eksis dalam komunitas.

Coba lah menentukan prioritas dalam setiap tindakan yang berimplikasi pada keuangan kita. Cuma kita yang tahu persis apa yang kita dan keluarga kita butuhkan, bukan teman atau tetangga.

Membiarkan lingkungan mempengaruhi kita

Contohnya, jika kita merasa kita tidak mampu menahan diri untuk selalu membeli secangkir Starbucks, jangan selalu mengambil jalan yang melewati counter Starbucks. Godaannya akan membuat kita tidak bisa mengontrol diri.

Demikian juga jika anda merasa berada di lingkungan teman-teman yang menghabiskan banyak uang untuk berbelanja, cobalah mulai batasi pergaulan anda sampai nanti godaan untuk ikut berbelanja bisa anda kontrol dengan lebih baik, atau alokasikan budget yang sesuai untuk kebutuhan bersosialisasi ini.

Buy high sell low

Dimanapun pembelian barang konsumsi selalu lebih menarik daripada investsi. Contoh, gadget terbaru dan perhiasan selalu terlihat jauh lebih menarik daripada reksadana dan logam mulia. Padahal kenyataannya, kelompok pertama adalah barang-barang dengan nilai yang selalu menurun dan kelompok kedua justru sebaliknya.

Solusinya, kembali gunakan metode 48 jam. Dan jika harus membeli, pastikan barang yang anda beli harga yang berkecenderungan untuk naik atau minimal tidak tergerus terlalu jauh. Misal, pilihlah logam mulia daripada perhiasan, atau pilihlah mobil dengan merk yang umum daripada merk dengan model unik namun harga jual kembali berpotensi jatuh dengan signifikan.

Membayar kartu kredit dengan pembayaran minimum

Sudah menjadi naluri alamiah untuk berusaha untuk mendapatkan opsi paling efisien dalam mengeluarkan biaya. Namun dalam hal pembayaran kartu kredit, membayar taguhan dengan sesuai jumlah minimum justru potensial menambah jumlah tagihan bulanan kita dengan mempertimbangkan bunga tinggi dari produk tersebut.

Jadi, jika anda memiliki tagihan kartu kredit, segera lunasi. Mulailah memperlakukan kartu kredit sebagai alat pembayaran pengganti uang kas dan bukan tambahan uang untuk dibelanjakan.

=====

Demikian sedikit sharing tentang tips menghilangkan kebiasaan buruk dalam pengelolaan keuangan pribadi. Semoga berguna untuk kita semua.

 

Image: www.mutualsavings.org

7 Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: