Berapa Level Ideal Dana Darurat Keluarga?

Jumlah dana darurat keluargaLevel ideal dana darurat. Saya yakin kita semua sudah familiar dengan dana darurat. Jika belum, bisa juga simak di tulisan saya sebelumnya atau simply masukkan kata dana darurat di google dan anda akan memperoleh banyak penjelasan mudah tentang topik ini.

Contohnya adalah artikel di womenbizlife dan Kontan ini. Sudah jelas? 😉 Intinya simple, kita harus punya dana yang cukup sebagai perisai dalam menghadapi rainy days. So, sekarang mari kita masuk sedikit lebih dalam.

Berapa level dana darurat ideal?

Kali ini saya ingin membahas mengenai “berapa sih jumlah dana darurat ideal yang harus dimiliki?”. Ini merupakan pertanyaan yang paling sering ditanyakan walaupun secara umum saya yakin kita sudah sering membaca tentang jumlah dana darurat ideal seperti yang bisa disimak di artikel Kontan tadi.

Kenapa banyak yang nanya? Mayoritas sih karena merasa jumlah dana darurat itu terlalu besar atau merasa sayang jumlah dana sebesar itu hanya bisa menikmati bunga kecil di tabungan ataupun instrumen lain yang sejenis. Sayang banget gitu lho, mendingan diinvest, hehehe…

Level dana darurat ideal berbeda untuk setiap orang

Dalam opini pribadi saya, saya setuju jika dana darurat ini tidak harus sebesar apa yang menjadi konsensus kita selama ini.

Dari hasil membaca banyak referensi tentang dana darurat ini, saya berkesimpulan bahwa jumlah ideal dana ini bisa saja berbeda untuk setiap orang/keluarga tergantung dari kondisi dan karakternya, tidak hanya simply tergantung dari status (single/berkeluarga) dan berapa jumlah anak dan tanggungan dalam keluarga.

Pasti sampai sini banyak yang seneng nih, hehehe. Sebentar, mari kita lanjut dulu yah.

Faktor dasar perhitungan dana darurat

Sebelum masuk ke level dana darurat ideal ini, kita bahas dulu faktor yang menjadi dasar perhitungan dana darurat ini. Ada beberapa pendekatan, dan bisa diaplikasikan sesuai dengan kondisi kita:

1. Pendapatan bulanan

Ini yang paling gampang, karena jumlah dana darurat tinggal dihitung dari besarnya angka di slip gaji dikalikan faktor pengali yang sesuai. Gimana kalau untuk pengusaha atau freelancer?

Pakai saja pendaatan rata-rata bulanan, bisa dengan membagi penghasilan 1 tahun terakhir dengan 12 (lebih baik lagi jika menggunakan rata-rata pendapatan bulanan selama 3-5 tahun terakhir, jika memungkinkan).

2. Biaya hidup bulanan

Umumnya yang digunakan adalah pengeluaran rutin keluarga dalam sebulan, mencakup biaya rumah tangga, biaya asuransi, sedekah, cicilan hutang, tabungan dan investasi.

Namun ada juga yang mengeluarkan alokasi tabungan dan investasi dari perhitungan ini dengan asumsi pada saat darurat maka investasi dan tabungan akan ditunda dulu sampai keadaan kembali membaik.

3. Biaya hidup primer

Ini meliputi semua pengeluaran rutin yang bersifat pokok, tidak termasuk biaya entertainment, biaya makan dan transportasi di hari kerja, serta biaya lain-lain yang dikeluarkan jika kita masih bekerja. Asumsinya, semua biaya ini pasti akan ditekan saat kita tidak memiliki penghasilan.

Mana yang paling cocok untuk digunakan? Tergantung anda. Paling mudah adalah menggunakan pendapatan bulanan sebagai patokan, karena umumnya banyak orang yang tidak bisa menghitung berapa biaya bulanan mereka 😉

Konsensus umum mengenai level dana darurat

Mari lanjut lagi, kembali ke topik utama. Jadi, berapa level ideal untuk menghitung jumlah dana darurat ini? Apakah harus sesuai dengan patokan seperti dalam artikel di atas?

Satu hal yang pasti, saya belum menemukan satupun referensi internasional yang secara jelas menjelaskan argumen mengapa dana darurat ini harus bertambah 3 bulan biaya hidup setiap ada penambahan 1 orang tanggungan.

Umumnya, setiap orang/keluarga disarankan untuk memiliki dana darurat sebesar 3-6 bulan biaya hidup. That’s it. Tanpa ada embel-embel lain. Mau single kek, sudah nikah kek, punya anak 3 kek, semua sama. Memang, lebih dianjurkan lagi jika dana ini bisa ditambah menjadi 9-12 bulan, tapi bukan lah sesuatu yang harus kudu dipenuhi.

Toh dengan penambahan anggota keluarga atau tanggungan, biaya hidup dengan sendirinya akan meningkat. Otomatis, dana darurat pun akan meningkat secara jumlah walaupun pengalinya tetap, iya ngga?!

Belum lagi jika anda mulai melakukan hitung-hitungan, seandainya biaya hidup keluarga anda (2 anak) per bulan sebesar Rp 20 juta, artinya anda harus menyiapkan dana darurat sebesar Rp 240 juta dalam tabungan. Rela? Pasti banyak yang geleng-geleng kepala, hehehe…

Hal-hal penentu level ideal dana darurat

Setelah saya rangkum dari beberapa sumber, sebenarnya dana darurat ini tergantung dari beberapa hal penting, khususnya yang terkait dengan PHK, antara lain:

1. Bidang pekerjaan

Jika anda bekerja di suatu industri yang dimana keahlian anda banyak dibutuhkan di berbagai bidang, dengan kata lain anda tidak akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan baru jika terjadi sesuatu hal, maka kebutuhan dana darurat yang besar sebenarnya tidak menjadi keharusan.

Pekerjaan apa saja yang seperti itu? Anda yang bisa menilai sendiri. Belum lagi jika anda bekerja di perusahaan yang sudah well established, dimana jika terjadi pemutusan hubungan kerja maka anda akan dikompensasi dengan pesangon yang besar, otomatis ada tambahan keamanan untuk masa darurat anda.

2. Kestabilan pekerjaan

Jika anda berada di indutri yang relatif stabil, contoh gampangnya adalah pegawai negeri, maka kekuatiran untuk dipecat menjadi lebih kecil daripada di sektor lainnya.

Dana darurat yang anda butuhkan lebih diutamakan pada proteksi jika terjadi masalah dalam kesehatan atau hal-hal lain yang terkait dengan keluarga anda. Disini biaya yang mungkin terjadi bisa anda perkirakan juga dan berbeda untuk setiap orang.

3. Profil risiko

Seperti juga dalam hal pemilihan instrumen investasi yang sesuai, setiap orang memiliki pandangan terhadap risiko yang berbeda.

Seorang yang kreatif dan suka tantangan akan lebih yakin mengenai kemampuan dirinya untuk bertahan dalam rainy days dibandingkan orang-orang yang suka berada dalam comfort zone.

Orang-orang kreatif ini umumnya lebih yakin bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang lebih selama rainy days dan tidak perlu bergantung pada lowongan pekerjaan baru. Mereka akan lebih memilih untuk mencari pendapatan secara mandiri dengan memanfaatkan skil dan kekreatifan mereka.

Berbicara mengenai profile risiko, saya pribadi percaya bahwa setiap orang memiliki naluri untuk bisa survive dalam keadaan sulit. Banyak contoh pengusaha yang bisa lahir dari kondisi seperti ini, dimana faktor pemicunya sering disebut “The Power of Kepepet” (berdasarkan buku karangan Jaya Setiabudi).

Terkait dengan hal ini juga, saya suka sekali, saya ulangi: SUKA SEKALI dengan satu quote temen saya, Fanny Hartanti (www.sofanny.com) dalam salah satu tulisannya:

Kalaupun ‘rainy days’ datang menghampiri (knocking on woods), I know I have an umbrella. It may be not the biggest, strongest, most expensive one, but i have it. And when the umbrella is no longer available, deep down I believe I can face the rain anyhow. So, I will get wet, but I will fight. Hell, I might even dance in it.

Jika anda punya mental dan kemampuan seperti teman saya ini, tidak ada alasan bagi anda untuk menumpuk uang anda di tabungan. Go find something else 🙂

Kesimpulan

Jadi, berapa level ideal dana darurat anda? Coba baca dan renungkan lagi detail yang telah saya tulis diatas, dan tanyakan pada anda, dimana posisi anda dan bagaimana anda menilai masa depan anda.

Saran saya, dana darurat minimum yang wajib ada sebaiknya berkisar antara 3-6 bulan biaya kebutuhan primer keluarga anda. Tentu saja lebih besar akan lebih baik. Hitung-hitung sebagai cadangan jika ada peluang investasi menarik datang di depan mata.

Tulisan lain mengenai dana darurat ideal akan saya posting di lain waktu. Selamat menghitung dana darurat 🙂

 

Image: www.gobankingrates.com

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: