Tips Untuk Mengalahkan Penggerus Nilai Uang

Mengalahkan penggerus nilai uang ini sebenarnya merupakan sebuah topik lama, tapi saya jadi tertarik untuk kembali membahas karena kebetulan dua minggu lalu sempat (ngga sengaja) mencuri dengar suatu obrolan yang cukup menggelitik.

Intinya seorang karyawati di gedung kantor saya sedang menunggu lift sambil menasehati temannya:

A: Ngapain pusing mikirin biaya pendidikan? Lo beli emas aja. Daripada nabung, nilai uang kita akan tergerus perlahan-lahan.

B: Tapi katanya bagusan pake Reksadana?

A: Reksadana itu kan basisnya uang, nantinya akan dicairkan dalam bentuk uang tunai juga. Ya sama aja bakalan turun nilainya.

Kenapa menarik? Karena saya ngga tau siapa yang sebenernya ngga ngerti masalah investasi, hehehe. Yang saya paling ngga ngerti justru di statement bahwa RD kan basisnya adalah uang dan pasti akan turun nilainya waktu dicairin. Emang emas penilaiannya ngga pake duit apa yah? Trus pada saat akan membayar biaya sekolah, emang mo bayar pake emas?

Mengatasi nilai uang yang tergerus

Dalam pembahasan ini saya ngga bertujuan utk membandingkan instrumen investasi, tapi hanya fokus kepada apa yang dimaksud “Nilai Uang Tergerus” dan bagaimana cara mengatasinya.

Penggerus nilai uang = inflasi

Apa sih penggerus nilai uang? Cuma satu, inflasi atau peningkatan harga secara umum dan terus-menerus. Ilustrasinya, saat ini kita memiliki uang Rp 1 juta dan cukup untuk dibelikan 1 ekor kambing kualitas bagus. Dengan asumsi bahwa harga kambing akan naik 10% per tahun, maka tahun depan harga kambing akan menjadi Rp 1.1 juta.
Jika kita memilih untuk menunda pembelian, maka tahun depan uang Rp 1 juta kita ngga akan mencukupi untuk membeli kambing dengan kualitas sama. Dengan kata lain, nilai uang kita tergerus sebesar kenaikan harga tersebut. Misalnya lagi, uang Rp 1 juta tsb ditabung dulu dengan bunga 6%, maka secara riil, nilai uang kita tergerus sebesar 4%.

Cara mengalahkan inflasi

So, gimana caranya mengalahkan penggerus nilai uang? Simple, cukup carilah instrumen investasi yang bisa memberikan return di atas inflasi. Terserah mo pake emas, reksadana, deposito, atau instrumen lain, yang penting returnnya terukur dengan jelas.

Sebagai informasi tambahan, sampai dengan Nov-11, inflasi Indonesia menurut BPS adalah sebesar 3.20%, jauh lebih rendah dibandingkan dengan 6.96% di tahun 2010 (full year). Dengan inflasi serendah ini, maka sebenarnya untuk tahun ini, deposito pun bisa digunakan untuk mengalahkan inflasi (rata-rata suku bunga deposito: 6%, net 4.8%) dengan asumsi tidak ada kenaikan harga yg signifikan di bulan Desember 2011. Berbeda dengan kondisi di tahun lalu dimana bunga deposito ngga akan bisa mengalahkan inflasi.

Kesimpulan

Kesimpulannya, gunakanlah instrumen yang tepat untuk mencegah tergerusnya nilai uang kita. Perhatikan selalu nilai inflasi yang ada dan juga return instrumen investasi yang tersedia. Keadaan dimana return suatu instrumen investasi yang bisa mengalahkan inflasi pada tahun ini belum tentu dapat berulang di masa depan.

Image: moneyshi.com

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: