Asuransi Pendidikan dan Tabungan Pendidikan? No Way!!

Persiapan biaya pendidikan anak

Hari ini anak gw akan berusia tepat 1 bulan, dan menurut rencana yang udah gw bikin, harusnya dalam beberapa hari ini gw udah harus memulai investasi untuk danaΒ pendidikanΒ anak gw. Untuk instrumennya, sekali lagi gw pake reksadana saham.
Kenapa? Karena dari sekian banyak produk investasi rutin di pasar saat ini, cuma reksadana saham yang bisa ngasih hasil paling maksimum sampai nanti anak gw kuliah (18 tahun dari sekarang) tapi dengan jumlah investasi rutin yang tidak terlalu tinggi.
Dalam tulisan kali ini gw akan ngebahas secara umum mengenai kenapa gw milih reksadana (RD) dibandingkan produk lainnya disertai ilustrasi perbandingannya.

Asuransi pendidikan dan tabungan pendidikan

Jika kita berbicara mengenai tabungan untuk biaya pendidikan, produk apa yang langsung muncul di kepala temen-teman? Ga mungkin salah deh, pasti cuma asuransi pendidikan dan tabungan pendidikan. Terbukti juga dua produk ini lumayan laku di Indonesia, khususnya untuk kalangan orang tua muda yang baru merencanakan tabungan pendidikan.
Berikut sekilas deskripsinya:

Asuransi Pendidikan

Produk dari perusahaan asuransi yang berupa tabungan pendidikan dan sekaligus menyediakan proteksi jiwa dan kesehatan untuk anak. Tabungan rutin yang masuk akan dialokasikan untuk premi asuransi dan sisanya akan diinvestasikan di instrumen-instrumen investasi.
Biasanya produk ini disertai juga dengan ilustrasi berapa jumlah uang yang bisa diambil pada tahun-tahun tertentu sesuai dengan usia masuk sekolah anak.

Tabungan Pendidikan

Tabungan berjangka yang dikeluarkan bank dengan bunga diatas tabungan biasa dimana jangka waktunya akan didesain sesuai dengan kebutuhan pembiayaan sekolah anak. Jika pengambilan uang dilakukan tidak sesuai masa kontrak maka akan dikenakan denda.

Gw sendiri sempet tertarik pada kedua produk tersebut dan akhirnya gw melakukan survey kecil-kecilan di beberapa bank dan perusahaan asuransi. Hasilnya? Ga jadi tertarik deh, hehehe. Alesannya gw jelasin dengan simulasi perbandingan aja kali yah.
[Apakah uang harus dikenalkan pada anak sedini mungkin? Baca pembahasannya di Pentingnya pengenalan uang sejak dini]

Simulasi: asuransi pendidikan vs tabungan pendidikan vs reksadana

Dasar simulasi

Simulasi ini akan membandingkan antara asuransi pendidikan, tabungan pendidikan dan investasi langsung pada reksadana (ditambah asuransi kesehatan). Basic simulasi ini menggunakan patokan dari ilustrasi produk asuransi pendidikan milik salah satu asuransi asing yang berkolaborasi dengan bank terbesar di Indonesia.
Ada beberapa paket yg ditawarin, tergantung dari kemampuan pembayaran premi bulanan / tahunan. Untuk keperluan simulasi gw cuma ngambil salah satu paket pendidikannya yang detail asumsinya sbb:
  • Investasi / tabungan per tahun: Rp 6 juta (Rp 500 ribu / bulan)
  • Asumsi ketersediaan dana yang bisa ditarik: Pada tahun ke 5 atau saat masuk SD (Rp 5 juta), saat masuk SMP (Rp 7.5 juta), saat masuk SMA (Rp 10 juta) dan saat masuk universitas (Rp 20 juta).
  • Keterangan tambahan: produk ini menggunakan asumsi bunga 14% / tahun

Hasil simulasi

So, dengan rencana nabung rutin per bulan sampe anak gw berumur 18 tahun, gini nih hasil simulasinya:

Pembahasan hasil simulasi

Mari kita bahas detail simulasi satu persatu: (oiya, simulasi ini dilakukan di excel dengan menggunakan rumus FV sederhana, so silakan dilakukan sendiri jika ingin ngebuktiin or ngerubah2 asumsi bunga dll).

Asuransi Pendidikan

Simulasi ini murni gw salin dari ilustrasi yang gw dapet dari seorang mas2 marketing asuransi di bank yang dengan semangat dan PD-nya berusaha ngeyakinin gw kalo ini adalah produk pendidikan yg terbaik di Indonesia. Seng ada lawan deh pokoknya. Alesannya, produk ini bisa nyediain uang pendidikan yg besar di tiap jenjang pendidikan. Bahkan dilengkapi juga dengan asuransi jiwa dan asuransi kesehatan sehingga orangtua ga perlu khawatir lagi dengan masa depan anak. Yah, apa lo kate deh mas. Yang jelas, total duit yg gw dapet selama 18 tahun itu (termasuk uang yg diambil di tiap jenjang pendidikan) akan sebesar Rp 252,7 juta.

Tabungan Pendidikan

Simulasi ini gw dapet dari CS sebuah bank Indo Malaysia. Suku bunga yg gw ambil sebesar 7% sebenarnya adalah suku bunga untuk kontrak lebih dari 5 thn. Kalo kurang dari itu bunganya lebih rendah. Bunga ini merupakan yang tertinggi yang bisa gw peroleh dari hasil survey produk sejenis di beberapa bank di Jakarta. Ini masih jauh lebih tinggi dibanding bunga tabungan rencana milik sebuah bank bumn yg sebenarnya sangat populer di Indonesia. Bayangin aja, tu tabungan rencana cuma ngasih 5% untuk jangka waktu 15-20 tahun. Oiya, semua bunga ini masih gross, so mesti dipotong pajak lagi 20%. Jadinya total setelah 18 tahun adalah Rp 166,9 juta.

Reksadana + Asuransi Kesehatan

Ini simulasi gw sendiri dengan asumsi setiap bulan gw harus nabung or investasi sendiri di produk reksadana sejumlah maksimal Rp 500 ribu, biar sama ama simulasi untuk 2 produk yang lain. Khusus untuk simulasi ini, gw masukin juga asuransi kesehatan murni dibeli sendiri dengan premi Rp 76.505 per bulan. So yang akan gw masukin sebagai investasi di reksadana tiap bulan adalah sejumlah Rp 423.425. Jadi totalnya tetap Rp 500 ribu or Rp 6 juta per bulan. Sedikit tambahan, asuransi kesehatan yg gw ambil merupakan paket perlindungan termurah di salah satu perusahaan asuransi lokal namun bisa ngasih perlindungan yang jauh lebih tinggi dan lengkap (lihat tabel) plus benefit rawat inap dll. Gw ga pake asuransi jiwa karena emang anak gw blom butuh (lihat postingan sebelumnya). Hasilnya? Rp 379,6 juta.

Kesimpulan hasil simulasi

Kesimpulannya gimana? Ternyata dengan asumsi pengambilan dana yang sama selama periode menabung dan tingkat suku bunga yang sama (kecuali untuk tabungan yg memang dah ditentukan dari awal), maka simulasi no 3 (reksadana + asuransi kesehatan) adalah alternatif terbaik karena bisa ngasih hasil paling optimal.
Gampangnya liat aja total dana yang dikumpulin selama 18 tahun, hasil skenario ini ternyata 50% lebih tinggi dibanding skenario dengan asuransi pendidikan dan 127% lebih tinggi daripada hasil skenario tabungan pendidikan.
Padahal sebenarnya jumlah yg diinvestasiin per bulannya ga full Rp 500 ribu karna dipotong ama premi asuransi kesehatan juga. Bayangin aja gimana kalo kesehatan anak udah dicover ama kantor dan total budget Rp 500 ribu sepenuhnya dipake untuk investasi. Bakal lebih gede lagi pastinya.
So, begitulah dasar kenapa gw akhirnya mutusin untuk pake reksadana aja untuk nyiapin dana pendidikan anak gw yang rencananya akan gw mulai beberapa hari lagi. Asuransi kesehatan sendiri ngga gw pake, karna kebetulan udah di cover ama asuransi kantor. Paling rencananya mo ngambil asuransi kesehatan jenis hospital benefit aja untuk nambah-nambahin kalo ada rawat inap (tentunya dengan premi yang lebih murah lagi). Belum lagi karna gw pakenya reksadana saham, harusnya return yang bisa gw dapet (average) bisa jauh di atas 14% (historical returnnya bisa diliat-liat di Infovesta or portal reksadana). Tapi cara ini emang butuh tambahan effort lagi sih, kayak mesti nyari-nyari produk reksadana plus asuransi kesehatan (kalo perlu) yang tepat. Belom lagi kalo bayar bulanannya ngga pake autodebet, artinya kita mesti bela-belain dateng ke bank penjual setiap bulannya. Tapi gpp lah, hasilnya sebanding kok.

Pilihan gw? Reksadana pastinya

Overall, kalo mo bener-bener dibandingin, menurut gw tabungan pendidikan bukanlah pilihan untuk ngumpulin dana pendidikan. Kenapa? Karena produk ini ga akan bisa ngasih return tinggi, paling banter juga bunga nett nya dikisaran SBI doang.
Gimana dengan asuransi pendidikan? Secara return sih lumayan oke karena pada dasarnya asuransi pendidikan menginvestasikan sebagian premi ke produk-produk pasar modal (sesuai pilihan kita) yang serupa dengan reksadana. Bedanya, ada alokasi premi untuk asuransi jiwa (yang sebetulnya ngga dibutuhin) dan asuransi kesehatan serta investment fee yg lebih besar sehingga return yang dihasilkan menjadi lebih kecil dari reksadana namun tetap masih di atas tabungan pendidikan.
Buat temen-temen yang ngga mau repot untuk ngurusin investasi rutin bisa aja ngandelin produk ini sebagai pilihan utama. Tapi kalo mau hasil yang maksimal tapi mesti disiplin dan sedikit capek, reksadana is the best.
[Ingin mulai mengenalkan uang pada anak? Simak cerita tentang mengenalkan uang pada anak]

Pembahasan tambahan: premium waiver

Oiya, biasanya ada satu hal yang sering jadi andalan dalam penjualan asuransi pendidikan (dan juga asuransi jenis lainnya) yaitu rider berupa premium waiver kalo terjadi apa-apa dengan kita (kepala keluarga). Dengan waiver itu maka premi untuk pendidikan anak akan terus dilanjutkan oleh perusahaan asuransi sampe jangka waktu yang disepakati di awal.
Trus kalo pake reksadana gimana? Well, menurut gw sih kalo temen-temen melakukan perencanaan keuangan keluarga dengan baik maka hal ini bukanlah masalah. Investasi rutin di reksadana ini harusnya udah termasuk dalam penghitungan family cash flow yang nantinya jadi dasar untuk ngitung nilai uang pertanggungan asuransi jiwa sang kepala keluarga.
So kalo sesuatu terjadi pada kita maka return dari asuransi yg diperoleh bisa dipake oleh istri or ahli waris kita untuk terus ngebayarin investasi rutin ini sampe anak kita kuliah nanti.
=====
Mudah-mudahan sharing gw tentang perbandingan alternatif menyiapkan dana pendidikan anak bisa jadi bahan pertimbangan juga untuk temen-temen yang saat ini sedang mulai nyari-nyari produk yang tepat untuk mulai ngumpulin dana pendidikan anak.
Saran gw, teliti dulu kesesuaian dengan kebutuhan sebelum membeli. Selalu lakukan perbandingan dan jangan gampang terbujuk cerita sang penjual produk.
Selamat berinvestasi…

109 Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: