Profil investasi seorang pembantu rumah tangga

Siapapun bisa berinvestasi

Profil investasi seorang pembantu rumah tangga ini bukan sekedar judul untuk provokasi lho, ini kejadian nyata, dimana orangnya saya kenal dan saya wawancara sendiri khusus untuk artikel ini 🙂

Apa maksud penulisan ini? Simply hanya untuk menunjukkan bahwa investasi itu dibutuhkan dan bisa dilakukan oleh siapapun dari lapisan mana pun, selama ada tujuan dan kemauan untuk melakukannya.

Tulisan ini juga merupakan aplikasi nyata dari tulisan saya sebelumnya mengenai aspek-aspek penting yang harus diketahui dalam berinvestasi.

Profil Investasi seorang pembantu rumah tangga

Profil dan latar belakang

Nama akrabnya adalah Mbak Ai. Seorang asisten rumah tangga (ART) freelance di daerah Buah Batu – Bandung, sekaligus seorang ibu rumah tangga. Dia adalah ART di rumah mertua saya yang kebetulan berdomisili di Buah Batu, Bandung.

Kenapa saya sebut freelance? Karena Mbak Ai bukanlah asisten yang menetap di sebuah rumah. Dalam 1 minggu, dia bekerja di 7 rumah yang berbeda. Masuk jam 7 pagi, pulang jam 5 sore. Mertua saya kebagian jadwal di hari Minggu. Tarif per kedatangan adalah Rp 75 ribu.

Mbak Ai asli dari Garut. Dia tinggal bersama suaminya, seorang supir angkot jurusan daerah Pasar Sederhana – Pasteur, dan 2 orang anak wanita yang sudah beranjak remaja.

Awal pembicaraan tentang investasi

Awal 2015, saat istri saya baru melahirkan anak kembar kami, dia lebih banyak mengabiskan waktu di Bandung di rumah orangtuanya. Untuk itu terkadang bantuan Mbak Ai dibutuhkan di malam hari, di luar jam kerjanya.

Di satu momen jaga anak inilah Mbak Ai sempat cerita ke istri saya tentang bagaimana dia berusaha mengembangkan uang melalui investasi yang dilakukan di kampung. Istri saya sangat-sangat takjub dengan cerita dia, dan akhirnya menyampaikan hal tersebut ke saya.

Jelas saya penasaran juga dong. Ngga nyangka, seorang asisten rumah tangga punya pandangan sejauh itu. Suatu hal yang bahkan sering dicuekin oleh banyak keluarga muda berpendidikan tinggi di Jakarta. Ups… hehehe…

Profil investasi: Mbak Ai

Akhirnya di suatu kesempatan, pas lagi lagi ada momennya sekitar pertengahan tahun lalu (udah lama emang, ngga sempet nulis-nulis di blog), saya meminta waktu untuk ngobrol-ngobrol sedikit tentang investasi ini.

Alasan dan tujuan

Di awal cerita, Mbak Ai menyebutkan bahwa dia sadar bahwa masa depan dia dan anak-anaknya tidak hanya bisa mengandalkan pada hasil pekerjaan sebagai ART dan supir angkot saja. Dia harus memiliki sesuatu untuk bisa menjamin masa depan.

Mbak Ai dan suami memiliki satu tujuan untuk mencapai mimpi masa depannya. Tujuan mereka simpel: ingin punya sawah di Garut. Sawah ini nanti akan diolah untuk memberikan pemasukan rutin tambahan untuk keluarga. Selain itu harga tanahnya juga bisa naik terus dan bisa dijual kalau dibutuhkan.

Untuk bisa punya sawah, mau tidak mau dia harus memiliki sumber dana tambahan. Dan caranya adalah dengan “investasi”. Jujur saya amazed mendengar kata “investasi” keluar dari mulut dia. Gila, seorang ART lho ini, tapi bahasanya ngga kalah ama majikan-majikannya, hehehe.

Pemilihan instrumen investasi

Untuk instrumen investasi, Mbak Ai memilih memutar duit di “sawah” di Garut. Jadi gini, selama ini sebagian hasil kerja dia dan suami ditabung, kemudian uang ini digunakan sebagai “dana talangan” bagi pemilik sawah di kampungnya yang membutuhkan.

Kalau bahasa Mbak Ai, ini adalah transaksi gadai. Jadi suka ada pemilik sawah yang tiba-tiba butuh uang untuk berbagai macam kebutuhan, karena itu sawahnya digadaikan kepada orang lain dengan perjanjian penyedia dana berhak untuk mengelola dan mengambil hasil dari sawah tersebut selama periode tertentu.

Saya sempat bertanya, kenapa tidak mencoba instrumen investasi yang gampang seperti deposito? Jawaban dia: “Wah, saya ngga ngerti mas kalo udah urusan ama bank-bank gitu. Bunga-bunga gitu, dipotong-potong sana sini. Lagian saya juga malu mas masuk ke bank. Orang kayak saya kan belum tentu diliat ama petugas bank”. Hmmm…

Gadai sawah

Oke, saya bahas dulu tentang investasi yang dilakukan oleh Mbak Ai. Jadi begini teknis gadai sawah di kampungnya dia di Garut sana.

Satuan luas sawah yang digunakan adalah TUMBAK (1 tumbak = 14 m2). Umumnya gadai sawah yang dilakukan pada lahan seluas kelipatan 20 tumbak. Sawah seluas 10 tumbak secara rata-rata bisa menghasilkan beras sejumlah 1 kuintal per panen. Dalam 1 tahun panen bisa dilakukan sebanyak 3x, karena ketersediaan air di kampung Mbak Ai yang lumayan bagus (danau).

Periode gadai dengan pemilik lahan disepakati berdasarkan per panen, per tahun atau lainnya. Dasar transaksi ini hanya benar-benar kepercayaan. Tidak ada jaminan ataupun perjanjian apapun. Dan karena itu, Mbak Ai juga akhirnya melakukan background checking yang lumayan detail sebelum memutuskan untuk mengambil tawaran gadai sawah.

Perhitungan detail

Investasi terakhir yang dilakukan Mbak Ai adalah sebesar Rp 4juta untuk lahan seluas 40 tumbak. Periode gadai selama 1 tahun, dan selama itu dia melakukan kerjasama dengan petani penggarap. Perjanjiannya, hasil panen yang diperoleh akan dibagi 2 antara Mbak Ai dan petani tersebut.

Saat panen, sawah menghasilkan beras sebanyak 4 kuintal (400kg). Hitungan kasarnya 100kg langsung dikeluarkan sebagai komponen biaya selama menggarap sawah (biaya pupuk dll). So Mbak Ai dan petani penggarap masing-masing memperoleh 150kg.

Rata-rata harga beras per kuintal adalah Rp 500ribu. So, kira-kira setiap panen pihak Mbak Ai memperoleh imbal hasil Rp 750ribu atau 18.75%. Kalo disetahunkan jadinya 56.25% (3x panen). Lumayan? Ini keren banget lah, hehehe…

Namun ada lagi tambahannya. Karena lokasi sawah terletak di kampung, Mbak Ai menugaskan keluarganya di sana untuk jadi pengawas sehari-hari. Dan untuk jasa itu, keluarganya dikasih 50% dari panen bagian Mbak Ai.

Tetap aja, secara hitungan imbal hasil investasi Mbak Ai per panen ada di kisaran 9%, atau potensial memperoleh 27% per tahunnya. Separah-parahnya, jika hanya bisa 2x panen, dia tetap dapet 18% per tahunnya. Kalau di dunia keuangan mah cuma bisa disaingi ama saham nih, hehehe…

Good investment?

Buat saya sih ngga, hehehe. Malah cenderung berjudi kalo saya mah (baca: investasi dan judi). Karena ada beberapa pertimbangan:

  1. Saya sama sekali tidak paham akan dunia persawahan dan perberasan di tingkat petani.
  2. Faktor risiko tinggi karena benar-benar hanya mengandalkan kepercayaan, tidak ada perjanjian apapun. Kepemilikan lahan pun tidak dibuktikan dengan sertifikat apapun, karena rata-rata masih berstatus girik. Artinya jika terjadi perselisihan, posisi investor sangatlah lemah.
  3. Berisiko tinggi juga karena hasil investasi benar-benar bergantung pada cuaca. Selain itu juga bergantung pada petani penggarap yang kita percayai.

Tapi buat Mbak Ai, ini good investment. Kenapa? Karena dia mengerti masalah persawahan, plus dia kenal pemilik lahan plus petani penggarap yang diajak kerjasama. Plus diawasi juga oleh keluarganya. Istilah kerennya, faktor-faktor risiko ini sudah dimitigasi dengan baik 🙂

Pelajaran untuk kita semua

#1. Miliki tujuan

Tujuan yang jelas akan menjadi motor kita untuk melakukan sesuatu. Tujuan untuk memiliki/mencapai sesuatu di masa depan akan menjadi motivator dalam melakukan investasi.

#2. Kenali instrumen investasi

Kenali dan pahami alat/instrumen yang akan digunakan untuk berinvestasi. Jangan berinvestasi hanya karena ingin gegayaan atau karena ikut-ikutan. Mulailah dengan instrumen yang simple, sesuatu yang sudah kita kenal dengan baik atau gampang untuk dipelajari.

#3. Mulai berinvestasi

Tujuan dan niat masih belum bisa berjalan jika investasinya tidak pernah dimulai. Jika masih ragu atau takut, mulailah dengan jumlah sedikit.

====

Akhir kata, semoga sharing ini bisa menjadi masukan berarti buat kita semua. Semua orang bisa berinvestasi, tidak memandang usia, jenis kelamin, pendidikan ataupun status sosial.

Terbukti kan seorang Mbak Ai pun bisa dan mau berinvestasi. Kalau kata kasarnya, seorang pembantu rumah tangga aja serius berinvestasi untuk masa depannya lho, masa iya kita ngga? Hehehe…

Selamat berinvestasi…

 

 

2 Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: