Profil Risiko Investor: Analogi Berkendara Di Jalan Tol

investor agresif vs konservatif

investor agresif vs konservatif

Setiap bulan minimal saya menghabiskan weekend 1 kali di Bandung. Maklum, mertua tinggal di sana, jadi wajib hukumnya untuk nyetor cucu tiap bulan, hehehe.

Jika kebetulan sedang long weekend akan jadi keuntungan, jika tidak maka kemacetan Jumat malam di tol Cipularang sudah menjadi makanan biasa dalam perjalanan.

Mengemudi di jalan tol yang padat cenderung macet seperti Cipularang membuat saya menjadi familiar dengan beberapa tipe pengemudi.

Umumnya ada 2 gaya/tipe pengemudi di jalan tol yang padat: pengemudi yang setia di jalurnya dan pengemudi yang berpindah-pindah jalur, kadang malah sampai menggunakan bahu jalan, untuk mendapatkan waktu tempuh terbaik. Saya sih termasuk tipe average, diantara keduanya. Apa namanya yah? Agresif terkendali kali, hehehe…. #maksa

Hubungan gaya menyetir dan perencanaan keuangan

Terus, apa hubungan gaya menyetir dengan perencanaan keuangan? Ngga ada hubungannya sih sebenarnya, tapi saya suka menggunakan analogi lalu lintas ini untuk mendefinisikan risk profile seorang investor.

Orang yang selalu konsisten berkendara di jalurnya saya analogikan sebagai investor yang bertipe (profil risiko) konservatif sedangkan yang suka berganti-ganti jalur termasuk bahu jalan saya analogikan sebagai investor yg bertipe (profil risiko) agresif.

Tentu tipe konservatif dan agresif tadi masih bisa dibagi lagi tingkatannya berdasarkan level keberanian seseorang menginjak pedal gas.

Profil risiko agresif vs profil risiko konservatif

Intinya, orang yang berganti-ganti jalur bisa dipersamakan dengan seorang investor dengan profil risiko agresif yang berusaha mencari jalur terbaik untuk mencapai tujuan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Seorang dengan profil risiko konservatif lebih mementingkan target waktu tempuh yang telah dibuat di awal dan cukup puas dengan pencapaian rata-rata selama asumsi kecepatan per jam telah terpenuhi. Intinya ngga perlu ngoyo asal target kesampaian. Ngga perlu terlalu mengambil risiko membahayakan keluarga di mobil atau sampai diomeli ama istri #curcol.

Terkadang ada saatnya dimana kita harus berpindah jalur karena jalur yang kita pilih ternyata lebih lambat dibanding jalur lainnya. Tapi umumnya, jalur awal akan kembali digunakan begitu keadaan terlihat kembali normal, karena berada di jalur tersebut membuat kita merasa nyaman.

Gaya menyetir juga bisa menjadi lebih santai, tidak perlu selalu waspada dan selalu memperhatikan keadaan lalu lintas di jalur-jalur depan kita.

Seperti di investasi, ini kembali kepada preferensi instrumen yang sesuai dengan karakter kita dan bisa dipahami. Ada instrument-instrumen yang mengharuskan kita untuk selalu memonitor arah ke depan dan berganti-ganti haluan secara cepat.

Profil risiko (tipe) agresif = jelek?

Trus tipe agresif jelek dong? Ngga juga. Ada orang yang memang nyaman dengan gaya itu, malah ada yang memanfaatkannya untuk mengusir rasa bosan dan kantuk. Sama saja dengan di investasi, ada orang-orang yang selalu membutuhkan tantangan lebih.

Yang jelas, dia harus tau semua risiko dan konsekuensinya. Dia harus berkendara dengan penuh waspada, melihat semua peluang yang bisa dimasuki di depan, dan juga kuat mental jika diomelin istri, hihihi…

Yang jelas lagi, gaya ini bukan buat semua orang. Saya pernah mencoba mengekor sebuah mobil yang lincah menyalip mobil-mobil di depannya dari kiri dan kanan. Sayangnya tidak bertahan lama, karena nyaris celaka saat ragu-ragu mengambil keputusan. Skill dan mentalnya beda ternyata.

Sharing: manuver di jalan tol

Minggu lalu saya keluar dari pintu tol km 27 (Cikarang Utama, ke arah Bandung) berbarengan dengan sebuah mobil Karimun Estillo yang dengan percaya diri langsung saya salip. Iya lah, cc mobil saya lebih besar, secara naluri pantang disalip oleh mobil kecil, hehehe.

Tapi lucunya, beberapa kali Karimun tersebut selalu berhasil berada di depan saya (saya tipe yang hanya berpindah jalur jika dibutuhkan) walaupun akhirnya berhasil saya salip lagi di jalur menuju Bandung (kebetulan sudah sepi sehingga cc mobil memegang peranan lebih besar daripada strategi dalam berkendara).

Apa pelajarannya? Si Karimun, dengan cc kecil, berhasil melakukan manuver-manuver yang tepat utk bisa mencapai level waktu tempuh yang setara dengan mobil-mobil lain yang notabene lebih cepat darinya.

Saat perjalanan pulang, kejadian yang sama juga saya alami saat mulai memasuki tol Cikampek. Kali ini manuver di jalan tol yang padat tersebut dilakukan oleh sebuah sedan modiv nan berisik yang cc nya pasti di atas saya dan tidak sabaran berada di belakang mobil saya.

Kebetulan saat itu saya selalu stabil di sisi kanan karena saya anggap cukup lancar. Beberapa kali sedan tersebut melakukan manuver melewati saya, kadang mengambil bahu jalan, namun selalu berhasil saya lewati karena mobil tersebut terhadang oleh truk-truk besar di jalurnya. Akhirnya saya unggul jauh saat memasuki pintu tol Cikarang Utama.

Intinya, pengemudinya ngga berbakat untuk pindah-pindah jalur walaupun didukung dengan mobil bertenanga. Coba kalo dia setia di belakang saya, pasti masuk pintu tolnya berbarengan dengan waktu tempuh lebih cepat dan suasana yang lebih santai.

Pelajaran dari analogi menyetir mobil

Apa pelajarannya? Gaya atau profil risiko seorang investor bisa dianalogikan dengan gaya menyetir di jalanan, khususnya di jalan tol. Kadang dengan agresivitas yang berlebihan seseorang bisa mencapai waktu tempuh yang lebih cepat namun bisa juga terjadi sebaliknya, bahkan berakhir dengan kecelakaan.

Trader vs investor

Analogi ini sebenarnya paling tepat jika digunakan untuk mendefinisikan tipe seorang TRADER dan INVESTOR di bursa saham. Trader (kadang juga disebut sebagai investor jangka pendek) cenderung berpindah-pindah saham untuk mendapat hasil terbaik dalam waktu singkat sedangkan investor (jangka lebih panjang) cenderung lebih sabar, berorientasi jangka panjang dan hanya melakukan perpindahan jika diperlukan.

Kenali profil risiko pribadi

Intinya, kenali profil risiko diri kita dalam melakukan investasi, dan lakukan dalam bidang atau jalur yang kita kenal dan yang membuat kita merasa nyaman. Setiap orang memiliki gaya dan preferensi sendiri-sendiri. Lakukan sesuai dengan gaya tersebut dan jangan meniru gaya orang lain karena belum tentu tepat untuk Anda.

Selamat berinvestasi.

 

 

2 Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: