Alasan Mengapa Rencana Kerja Dan Anggaran Keluarga Wajib Anda Miliki

Sebenarnya ide tentang Rencana Kerja dan Anggaran Keluarga ini adalah topik yang ingin saya tulis di awal Januari 2016, namun karena satu dan lain hal akhirnya tertunda dan malah kesalip oleh artikel tentang perubahan anggaran keluarga (karena kebetulan bertepatan dengan ultah anak saya).

Dan kebetulan juga weekend kemarin ada tulisan dari Pak Eko P. Pratomo di harian Kontan yang membahas tentang Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Pas banget…

Pentingnya rencana kerja dan anggaran keluarga

Kenapa masalah anggaran keluarga ini yang ingin saya bahas di awal tahun ini? Ya simply karena ini awal tahun, semua orang masih sibuk (dan masih ingat) dengan resolusinya. Kalau bulan depan pasti sudah basi, sudah pada lupa juga tahun baru kemarin bikin resolusi apaan, hehehe…

Yang akan saya bahas adalah rencana anggaran keluarga di tahun 2016, dan juga ada kata “kerja” nya karena mungkin ada diantara teman-teman yang juga memiliki usaha (atau ingin memulai usaha sampingan) sehingga membutuhkan perencanaan anggaran yang sejalan dengan anggaran keluarga.

Buat sebagian teman-teman, akhir tahun dan awal tahun di kantor pasti disibukkan dengan yang namanya budget meeting. Semua divisi diharuskan membuat proyeksi biaya sekaligus target yang hendak dicapai di tahun depan.

Setelah itu diadakan suatu budget meeting (biasanya di luar kota ataupun di luar negeri) untuk memformulasi sebuah RKAP yang paling tepat untuk dijalankan. Biasalah jika hasil meeting akan ada biaya-biaya yang dikurangi, dan lebih biasa lagi jika target penjualan/pendapatan justru dinaikkan 🙂 RKAP inilah yang nantinya akan menjadi panduan perusahaan 1 tahun ke depan.

Pembahasan rencana kerja dan anggaran keluarga bersama pasangan

Nah, tahun ini saya mulai mencoba membuat meeting khusus membahas Rencana Kerja dan Anggaran Keluarga (RKAK) saya. Meeting ama siapa? Ya ama istri lah 🙂

Terlihat lebay? Ngga juga. Karena sebenarnya disadari ataupun tidak, ‘keluarga’ adalah suatu institusi yang dijalankan mirip dengan perusahaan, memiliki laba rugi dan neraca, dan dikelola secara profesional oleh suami dan istri.

Jadi sudah sewajarnya jika para pengelola institusi ini bersama-sama mengetahui keadaan institusi dan menyusun rencana agar bisa satu suara dalam mencapai impian-impian di masa depan (iya sih, yang ini bahasanya lebay).

Hal penting dalam membuat Rencana Kerja dan Anggaran Keluarga

Berikut adalah sedikit sharing saya mengenai beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam membuat Rencana Kerja dan Anggaran Keluarga. Oiya, untuk kepentingan penulisan artikel kali ini, saya asumsikan teman-teman semua sudah familiar dengan anggaran keluarga masing-masing ya 🙂

Pertama: Cari waktu dan tempat yang tepat, diskusikan secara terbuka rencana kerja dan anggaran keluarga ini bersama pasangan.

Cari waktu dimana anda bisa membahas hal ini berdua tanpa gangguan anak atau pekerjaan lainnya. Yes, ini yang akhirnya saya lakukan bersama istri. Biar tidak terlalu jauh dari rumah dan cepat tiba di rumah lagi jika ada apa-apa, kami memilih Komunal 88 sebagai tempat berdiskusi. Bukan ngiklan, tapi memang lokasinya deket rumah dan ternyata tempatnya enak juga buat ngomongin masalah serius tapi santai

Kedua: Lakukan review atas penerapan anggaran tahun sebelumnya.

Diskusi saya dan istri dimulai dengan membuka anggaran tahun lalu: apa yang tercapai dan apa yang tidak tercapai, permasalahan apa yang terjadi dan bagaimana potret keuangan keluarga di akhir tahun 2015 lalu. Banyak perubahan? Jelas. Tahun 2015 ternyata tahun yang berat, hehehe…

Ketiga: Tentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Tujuan ini mencakup keseluruhan ya, baik tujuan di tahun 2016 maupun tujuan jangka panjang yang akan dimulai dari tahun 2016 ini. Ini mencakup semua tujuan yang terkait dengan keuangan keluarga.

Keempat: Identifikasi penghasilan rutin yang diterima keluarga setiap bulannya.

Ini meliputi gaji ataupun rata-rata pendapatan setiap bulannya. THR dan bonus (perkiraan pesimis) boleh dimasukkan.

Kelima: Identifikasi penambahan/perubahan kebutuhan biaya rutin dan tahunan yang akan terjadi di 2016.

Dalam kasus keluarga saya, banyak hal yang berubah, terutama terkait ke perkembangan anak kembar saya yang mulai masuk usia 1 tahun. Ada juga kebutuhan anak pertama saya yang Juli nanti akan masuk SD, penambahan biaya hidup rutin, dan rencana non-rutin lainnya (secara umum, seperti misalnya rencana liburan, ganti mobil, renovasi rumah, dll).

Semua dituangkan dalam bentuk Rupiah. Sama seperti poin 3, tahapan ini sih cuek aja dulu, masukan semua kebutuhan biaya yang sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai. Memang menurut teori harusnya kebutuhan/tujuan yang penting saja yang dimasukkan, tapi percayalah, pada saat ini dibahas, tiba-tiba semua kebutuhan menjadi penting 🙂

Keenam: Bandingkan penghasilan dengan kebutuhan biaya.

Nah ini tahapan paling ngga enak. Ya wajarlah jika akhirnya tidak semua kebutuhan bisa terakomodasi. Kebanyakan soalnya, hehehe. Tapi buat beberapa dari kita, tahapan ini justru bisa menjadi pemacu ataupun guideline buat kita untuk mengejar penghasilan yang bisa mencukupi semua kebutuhan. Ini juga yang terjadi kan di budget meeting perusahaan?!

Biaya pada umumnya naik, dan untuk itu tentu saja yang namanya “target” akan naik juga. So, dalam konteks anggaran keluarga, (jika perlu) tentukan target pendapatan yang harus dicapai untuk memenuhi kebutuhan biaya yang diharapkan. Untuk non-karyawan, inilah yang menjadi patokan berapa kedalaman gas yang harus diinjak untuk melaju mencapai tujuan.

Bagi karyawan, mungkin ini saatnya mencari penghasilan tambahan atau mulai melihat-lihat ‘rumput di halaman tetangga’ 🙂

Ketujuh: Susun langkah-langkah yang diperlukan untuk untuk mencapai ‘target’ penghasilan yang diharapkan.

Ini terkait ke poin 5 juga. Atau bisa juga justru sebaliknya, pastikan pos-pos biaya apa saja yang harus dikurangi agar langkah-langkah dalam mencapai tujuan-tujuan keuangan bisa dimaksimalkan. Pendapat pribadi, dalam kondisi kebutuhan lebih banyak daripada penghasilan, kalau cuma mengurangi pos-pos biaya a.k.a berhemat sih biasanya lebih gampang untuk diterapkan.

Tapi jika mau lebih challenging, coba deh keep semua tujuan yang ingin dicapai dan tantang diri anda dengan suatu target penghasilan yang melebihi kemampuan anda saat ini. Menarik kan? Toh tidak ada salahnya mencoba mengeksplor kemampuan diri sendiri. Jika gagal kan tinggal berhemat aja 🙂

Kedelapan: Pastikan budget dan langkah-langkah pencapaian terdokumentasi dengan baik.

Jika perlu dibuat jadi poster dan pajang di kamar agar selalu menjadi reminder dalam setahun ke depan 🙂

Manfaat Rencana Kerja dan Anggaran Keluarga

Dengan adanya RKAK ini maka setidaknya ada beberapa manfaat yang akan diperoleh:

  • Suami istri memiliki pemahaman dan pandangan yang sama mengenai kondisi keuangan keluarga.
  • Keluarga memiliki tujuan dan target keuangan yang jelas terkait pemenuhan tujuan-tujuan yang ingin dicapai di masa depan.
  • Ada panduan/guideline yang jelas untuk mengarahkan dan mengukur tingkat keberhasilan dalam mencapai target/tujuan yang diinginkan.

Sekian dulu sharing saya kali ini, semoga berguna.

Salam.

 

Image: http://a248.e.akamai.net

One Response

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: