Review Pengenalan Uang Pada Anak: Bulan I

Melanjutkan tulisan saya tentang pengenalan uang pada anak, berikut saya akan sharing tentang hasil yang telah dicapai dalam 1 bulan pertama program mengenalkan uang pada anak ini. Sebelumnya saya sudah sharing mengenai cerita tentang mengenalkan uang pada anak saya, terinpirasi dari beberapa artikel mengenai pentingnya pengenalan uang sejak dini.

Sebagai referensi, simak six tips to teach your child about money matters yang berisi panduan singkat mengenalkan uang pada anak, atau juga 9 Ways to Teach Your Kids About Money dari Dave Ramsey dan Teaching Kids About Money yang berisi ringkasan cara mengajarkan uang pada anak berdasarkan usia.

Balik ke program pengenalan uang pada anak di keluarga saya, berikut perkembangan serta review nya setelah 1 bulan berjalan.

3 Jars Method

Saya menggunakan metode 3 jars method ini untuk mulai mengajarkan anak saya tentang uang. Well, ngga persis menggunakan toples sih, karena saya masih mempertahankan 1 buah celengan lama yang kebetulan sudah dimiliki anak saya (El) dari tahun lalu.

Sebelumnya untuk melengkapi celengan, saya menggunakan 2 buah kaleng bekas makanan dan permen. Tapi akhirnya saya ganti menjadi toples agar uangnya bisa kelihatan jelas dari luar. Sebelumnya saya tidak merasa masalah “kelihatan” ini menjadi sesuatu yang penting, namun ternyata pada prakteknya anak saya hampir selalu ingin memeriksa perkembangan uangnya. Dikit-dikit kalengnya dibuka, uang dikeluarkan (sekedar dilihat, tidak dihitung), kemudian dimasukkan lagi.

Akhirnya dengan penggunaan toples, semua aman. Cukup dilihat dari luar saja. Kecuali yang celengan yah, karena ini untuk tujuan jangka panjang (bahasa si El: beli mainan mahal), jadi dia tidak terlalu peduli menengenai isinya. Cukup diguncang-guncang aja, hehehe…

pengenalan uang untuk anak

Hasil penerapan 3 Jars Method dalam 1 bulan pertama

Hasil 3 Jars Method di bulan pertama

Setelah berjalan 1 bulan, ternyata semangat si El lebih tinggi dari yang saya bayangkan di awal. Dia sangat disiplin dalam mengikuti aturan alokasi uang jajannya setiap hari. Sehingga penampakan celengan-celengannya lumayan penuh seperti gambar di atas tadi. Kecuali untuk kolekte yah, karena isinya uang koin semua.

Berikut isi kedua toples yang berisi alokasi untuk “mainan” dan “kolekte” setelah 1 bulan:

mengajarkan anak tentang uang

Hasil 1 bulan pertama program mengenalkan uang pada anak

Hasil selama 20 hari sekolah

Toples untuk mainan

Terkumpul uang sejumlah Rp 53.000, dengan detail:

  • 3 lembar Rp 5.000
  • 19 lembar Rp 2.000

So, setiap hari El telah berhasil menjalankan target dengan menyisihkan Rp 2.000 selama 5 hari sekolah. Pengecualian buat 1 hari dimana dia menerima Rp 20.000 dari “tooth fairy” saat salah satu giginya copot. Jadi pada hari itu El membelanjakan uang dari tooth fairy sebesar Rp 5.000 dan menyimpan Rp 15.000 di celengan untuk mainan. Good, karena awalnya saya pikir uang ini akan dihabiskan untuk jajan, hehehe…

Toples untuk kolekte

Terkumpul sebanyak Rp 19.900, dengan detail:

  • 13 koin Rp 1.000
  • 13 koin Rp 5000
  • 1 koin Rp 200
  • 2 koin Rp 100

Lagi-lagi El berhasil menjalankan target menyisihkan uang Rp 1.000 per hari. Pengecualian buat 1 hari dimana sepertinya dia kehilangan  1koin Rp 500 dan akhirnya diganti dengan koinan Rp 200 dan Rp 100 yang dicari dan diambil dari koin-koin keselip di laci meja TV.

Dan kenapa uang kolekte ini masih utuh? Ups… Masalahnya minggu lalu kami cuma 2x masuk gereja, sekali lupa membawa kolekte ini dan sekali lagi masuk di Bandung (sama juga kolektenya ngga kebawa). So masih utuh deh, hehehe…

Review bulan pertama mengenalkan uang pada anak

Berjalan sesuai rencana

Ternyata program mengajarkan uang pada anak ini berjalan sesuai dengan rencana dan dijalankan dengan semangat oleh si El. Selama diberikan arahan setiap hari, ternyata anak bisa menjalankan arahan kita dengan disiplin dan tidak tergoda untuk jajan lebih banyak.

Beberapa hal penting dalam program mengajarkan anak tentang uang ini:

  • Ulangi instruksi mengenai alokasi uang setiap hari agar anak selalu ingat akan pembagian uangnya.
  • Jelaskan alokasi ini dengan menyenangkan, dan buatlah tujuan yang menarik yang bisa dicapai dengan menabung. Dalam kasus El, tujuan dia adalah membeli mainan. It’s ok, selama itu bisa memotivasi diri anak mengelola uang.
  • Kontrol nominal tabungan secara rutin. Tidak perlu setiap hari, tapi yang penting kita bisa mengontrol jika terjadi penyimpangan dari rencana.
  • Beri pujian jika target dalam periode tertentu, misalnya per minggu, bisa tercapai.

Tantangan

Selama sebulan pertama ini, untungnya cuma ada 2 tantangan yang dihadapi dan dua-duanya berhasil diatasi.

#1 Tantangan untuk tetap disiplin

Pertama, tantangan untuk bisa membujuk El tetap disiplin mengalokasikan uang sesuai rencana awal dengan tidak terkesan “memerintah”. Iyalah, dari biasanya bawa uang jajan Rp 20.000 per hari, sekarang jadi Rp 5.000. Beberapa kali El berusaha meminta ijin agar bisa jajan lebih banyak.

Tapi setelah saya ceritakan bahwa itu bisa membuat uang untuk membeli mainan menjadi tidak cukup, ternyata uang masuk toples tidak pernah kurang dari target, hehehe…

#2 Tantangan eksternal: tukang es bon-bon

Kedua, tantangan dari pihak eksternal. Nah sempat nih ada 2x dimana si El harus jajan lebih sedikit karena ulah dari tukang es bon-bon. Ini pentingnya kita mereview progres tabungan setiap hari, jadi langsung ketahuan jika ada masalah.

Jadi gini, si El suka beli es Bon-bon di sekolah, harga satuannya Rp 1.000. Suatu hari si El beli 2 buah es Bon-bon dengan uang Rp 5.000, seharusnya dia akan menerima kembalian Rp 3.000. Eh ternyata si tukang es ngga punya Rp 1.000, jadi El cuma dikasih kembalian Rp 2.000. Pilihannya, El disuruh ambil 1 es lagi atau disimpan untuk besok.

Nah kan, tantangan nih. Untungnya si El ngga mengambil es lagi tapi konsekuensinya dia tidak bisa mengisi toples kolekte. Belum lagi karena masih anak kecil, belum tentu besoknya dia masih ingat untuk menagih uang kembaliannya besok hari. Memang secara nominal kecil, tapi besar secara persentasi terhadap uang saku harian El.

Saya akhirnya meminta El agar besok harus meminta kembalian dari tukang es atau membeli es dengan kembalian yang masih ditahan. Untungnya bocah ini lumayan berani untuk ngadepin tukang es bon-bon, dan besok malemnya dia berhasil mengisi toples celengan dengan Rp 2.000. Jadi ceritanya pagi itu El jajan 2 es bon-bon dengan membayar “hanya” Rp 1.000 saja. Oke sip.

Eh ternyata terulang lagi kejadian ini seminggu kemudian. Lagi-lagi kembalian Rp 1.000 ditahan dengan alasan tidak ada kembalian, oleh pelaku yang sama: tukang es bon-bon. Hadeeeh… Untungnya selesai dengan baik juga seperti kasus pertama.

Tapi dengan kejadian itu, saya akhirnya sedapat mungkin memberikan uang jajan dalam bentuk pecahan dibanding berbentuk selembar Rp 5.000.

Penutup

Demikian sharing mengenai review 1 bulan pertama penerapan program mengenalkan uang pada anak di keluarga saya. So far masih sejalan dengan rencana, dan saya puas dengan hasilnya. Walaupun ada beberapa tantangan, namun masih dalam tahap bisa diatasi dengan mudah.

Semoga bisa terus berjalan lancar ke depannya, dan saya bisa masuk ke tahapan berikutnya dalam melatih anak mengelola uang.

Walaupun masih banyak kekurangan dan saya juga masih dalam tahap belajar kesana kemari, saya harap sharing ini bisa bermanfaat dan menjadi masukan bagi teman-teman semuanya dalam mengajarkan konsep uang kepada anak.

Terima kasih.

Image: https://www.pinterest.com/ab1/brain-power/

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: