Steve Jobs resign? Apa istimewanya??


Hari ini semua orang pada heboh gara-gara berita Steve Jobs resign. Wajar aja sih kalau yang heboh di Amerika sana, sampai-sampai saham Apple langsung drop 5%. Lha ini di Indonesia juga ikutan pada heboh. Emang dampaknya apaan sih buat kita? Ada gitu dampak langsungnya? Malah kalo menurut Henry Manampiring a.k.a @newsplatter ini malah bagus, biar semua orang bisa berpaling ke Koh Hengky dari Ti-Phone, hehehe… Oke lah pasti ada dampak-dampak tertentu di beberapa bidang karena kabar ini, tapi bukan itu yang akan saya fokuskan dalam pembahasan hari ini. Saya hanya akan fokus ke masalah resign itu sendiri.

Kalau dipikir-pikir, jika Steve Jobs adalah seorang karyawan or eksekutif biasa, memang bener kok ngga ada yang harus diributkan secara berlebihan dari berita resign beliau. Ada yang tau berapa umur beliau sekarang? Steve Jobs lahir pada 24 Februari 1955, yang artinya saat ini telah berusia 56 tahun lebih beberapa bulan. Kalau Steve Jobs kerjanya di Indonesia maka harusnya dia udah pensiun dari tahun lalu. So hebohnya di kita harusnya justru lebih fokus kepada alesan kenapa dia masih kerja sampe umur 56? Kenapa orang lain cuma boleh kerja sampai usia 55 tahun? Kenapa ada diskriminasi batasan usia kerja disini? Apakah ada unsur politisasi? Apakah ada pejabat tertentu yang menerima suap? #akibat kbanyakan dicekokin berita korupsi dan politik ngga jelas#


Singkatnya, harusnya ngga ada yang istimewa dari kabar pensiunnya seorang karyawan pada usia yang seharusnya emang udah mesti pensiun. Seharunya yang istimewa dan heboh justru orang-orang yang berani pensiun sebelum masa pensiun, or malah jauh sebelumnya or pensiun dini. Ini baru luar biasa, top abis…

Saya yakin pasti banyak diantara kita yang ingin sekali segera pensiun dari pekerjaannya, seperti yang dilakukan oleh Steve Jobs. Or at least punya impian untuk bisa pensiun dini pada usia tertentu. Memang betul kita ngga bisa disamakan dengan seorang Steve Jobs yang udah punya segalanya, yang ngga akan kekurangan apapun pada saat pensiun. Bahkan jika dia memutuskan untuk pensiun lebih muda pun pasti tetap ngga akan hidup melarat. Tapi bukan berarti kita ngga bisa pensiun dini juga kan? Hanya saja untuk kita, yang notabene mayoritas adalah karyawan dengan gaji terbatas, perhitungannya mesti matang banget dan dibarengi juga dengan mental yang kuat.

Trus apa maksudnya perhitungan yang matang untuk pensiun dini? Nah ini dia yang mau saya bahas hari ini, at least secara garis besarnya dulu. So, kalau suatu saat kita memutuskan untuk pensiun dini, biasanya karena pingin bikin usaha, maka ada beberapa hal yang harus disiapkan terlebih dahulu biar ngga menjadi beban dalam langkah kita ke depannya, terutama bagi keluarga muda yang udah memiliki tanggungan namun belum memiliki aset yang mencukupi. Awalnya, yakin dulu bahwa kita benar-benar mau dan bisa pensiun dari pekerjaan karena ada pekerjaan atau profesi lain yang lebih sesuai dengan diri kita dan mampu kita kerjakan dengan sebaik-baiknya.

Menurut Mbak Ligwina Hananto dari QM Financial dalam suatu seminar awal bulan ini, ada beberapa hal yang harus sudah anda miliki pada saat memutuskan untuk resign:

  1. Asuransi Jiwa: Pastikan kita memiliki asuransi jiwa dengan uang pertanggungan (UP) yang mencukupi namun tidak memberatkan dari sisi premi. Sangat disarankan untuk langsung mengambil termlife insurance untuk jangka waktu terpanjang (biasanya 20 tahun). Definisi mencukupi ini tentunya yang bisa mengcover biaya hidup bulanan rumah tangga jika sesuatu hal terjadi pada pencari nafkah dalam rumah tangga (baca cara menghitung UP disini).
  2. Asuransi Kesehatan: Ini dimaksudkan untuk menggantikan fasilitas kesehatan dari kantor. Kalau memungkinkan sebaiknya ambilah askes yang mengcover biaya rawat jalan dan rawat inap, namun jika ada keterbatasan dana maka coverage rawat inap bisa menjadi prioritas utama. Jika pasangan anda masih bekerja, pastikan limit perlindungan yang dimiliki saat ini. Mungkin limitnya udah bisa mengcover ekspektasi kita or mungkin kita tinggal membeli polis asuransi untuk menutup kekurangan limit perlindungan saja. Lumayan, jadi lebih berhemat biaya premi.
  3. Dana Darurat: Idealnya anda sudah harus memiliki dana sebesar 12x biaya bulanan. Jika itu masih terlalu tinggi, minimal 3x biaya bulanan tergantung dari ekspektasi tingkat keberhasilan usaha yang nanti akan anda jalankan. Kenapa perlu dana darurat yang lumayan banyak? Karena jika anda berhenti bekerja dan mulai merintis usaha, pasti akan terjadi penurunan income di bulan-bulan awal. Ini pasti akan memaksa anda untuk lebih berhemat, namun fixed cost bulanan dalam rumah tangga biasanya cenderung tetap dan ngga bisa dikurangi, apalagi yang berhubungan dengan anak. So, dana ini menjadi semacam buffer untuk mengcover kekurangan dana keluarga selama masa transisi.
  4. Dana Pendidikan: Pastikan juga anda masih memiliki dana or cash flow yang cukup untuk terus melakukan investasi rutin dalam dana pendidikan. Jangan sampai dana ini dikorbankan dalam masa transisi walaupun untuk sementara. Kalau pun anda ngga yakin mampu menutup investasi ini dengan income yang baru, anda bisa melakukan investasi sekaligus dalam jumlah besar saat resign agar anda tidak perlu lagi berinvestasi rutin untuk beberapa waktu ke depan sampai usaha anda benar-benar sudah berjalan dengan lancar. Duitnya dari mana? Kan kita kalo resign pasti ada yang namanya uang pisah (biasanya 2x gaji, untuk yang udah kerja >3 thn), trus ada lagi uang jamsostek dan uang pensiun. Cairin aja semua or sebagian untuk tujuan ini, beres kan?
  5. Dana Pensiun: Lho, kan ceritanya mo pensiun, tapi kok masih ada dana pensiun lagi? Jadi gini, kan ceritanya pensiun yang kita omongin adalah pensiun dari tempat kerja, bukan pensiun bekerja. Beda lho! Dana pensiun disini maksudnya untuk persiapan kita saat nanti benar-benar udah ngga bekerja or berusaha lagi, bener-bener mau istirahat dan bersenang-senang aja menikmati dunia. Strateginya sama dengan dana pendidikan di atas, kita bisa mempertahankan investasi bulanan dari cashflow atau memanfaatkan uang pisah, jamsostek dan uang pensiun untuk diinvestasikan sekaligus.
  6. Aset Aktif: Ini sangat penting. Maksudnya adalah anda jangan dulu resign kalau belum punya aset aktif berupa bisnis ataupun sesuatu yang bisa menghasilkan pendapatan secara rutin. Memang sih ada beberapa entrepreneur yang bilang kalau untuk memulai menjadi seorang pengusaha maka kita harus berani untuk menempatkan diri kita dalam posisi kepepet. Bener juga, dan terbukti banyak orang juga yang berhasil. Tapi dalam kasus ini kita maen save aja lah, jangan terlalu ambil risiko kalau mental belum siap. Akan lebih baik siapin dulu bisnisnya, yakinin prospeknya, baru deh resign. Bisa juga aset aktif ini berupa properti, dalam hal ini yang bisa menghasilkan seperti kontrakan atau rumah kos-kosan.
  7. Hal yang terakhir adalah Kendaraan. Kalau anda selama ini menikmati mobil dari kantor maka jangan lupa juga untuk mempersiapkan pengganti alat transpor ini. Jika dana anda terbatas, gantilah ke kendaraan bekas (sebaiknya dengan cash untuk mengurangi cicilan) atau sepeda motor biar lebih hemat. Jika anda sedang memiliki cicilan mobil dari kantor dengan bunga subsidi, segera lunasi jika memungkinkan atau pindahkan ke leasing company dengan memperpanjang tenor kredit untuk mengurangi beban cicilan.
Memang sih jadi banyak yang harus disiapin, tapi itulah kenyataannya jika ingin pensiun dini secara aman. Bukan berarti hal-hal di atas mesti dipenuhin semua juga sih, tapi at least anda tau apa risikonya dan punya langkah antisipasi jika ada poin yang ngga bisa anda penuhi. Pensiun dini itu memang susah, tapi bukan berarti ngga mungkin untuk dilakukan selama kita punya rencana yang terarah dan dipersiapkan dengan baik, plus tentunya keyakinan kuat.
Kalau anda nanya, apakah saya berencana dan sudah mempersiapkan untuk pensiun dini? Hmmm, rencana sih udah, tapi jujur aja persiapannya baru seadanya, hehehe. Trus kenapa juga nulis-nulis kayak gini? Yah namanya juga mo sharing pengetahuan dikit ;p Eh tapi ini adalah mimpi saya dan saya yakin juga menjadi mimpi kebanyakan dari kita: pensiun dari pekerjaan saat masih produktif dan menjadi tuan atas hidup kita sendiri. Moga-moga menjadi kenyataan, amien.
So, mari mempersiapkan pensiun sedini mungkin.
Notes: Topik ini ditujukan bagi anda yang ingin mempersiapkan pensiun di usia muda dan beralih profesi. Untuk persiapan pensiun secara normal (mundur dari pekerjaan karena usia, sakit, atau ingin menikmati hidup) akan saya bahas di topik selanjutnya.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: