Tertipu dalam berinvestasi. Salah siapa?

Investasi bodong

Mendekati hari raya Lebaran, ternyata lagi-lagi kita dikejutkan dengan penipuan berkedok investasi (bodong) yang kali ini bahkan membawa-bawa nama amanah (silakan dibaca disini).

Penipuan seperti ini membuktikan bahwa keinginan untuk memperoleh untung besar dalam waktu singkat ternyata selalu berada di atas nalar dan logika, disamping juga pengetahuan masyarakat yang rendah mengenai produk investasi.

Padahal sejak jaman QSAR dulu sampai terakhir kasus mengenai Koperasi Langit Biru, kita selalu diingatkan untuk waspada terhadap tawaran investasi yang menawarkan imbal hasil yang tinggi dan terkesan “too good to be true” seperti itu, yang seharusnya menjadi pembelajaran untuk kita semua.

Sesuai kata Warren Buffet:

“Never invest in a business you can’t understand.”

Well, saya ngga akan berpanjang lebar membahas tentang hal ini karena memang skema-skema di atas dirancang untuk menipu. (Bagi yang masih penasaran atau ingin mencari tips agar terhindar dari penipuan seperti ini, berikut beberapa link yang berguna: TempoWealthIndonesia.)

 

Tertipu atau kurang paham?

Yang ingin saya bahas kali adalah persepsi “tertipu” dalam perspektif lain yang justru ditimbulkan oleh kekurangpahaman investor akan produk investasi yang akan dipakai. Topik ini saya angkat berdasarkan dua cerita selama bulan Juli kemarin.

Contoh #1: unitlink

Awal Juli 2012 kemarin kebetulan saya diundang untuk mengisi suatu acara di salah satu organisasi karyawan sebuah perusahaan minyak di Balikpapan. Di sela-sela acara, ada seorang peserta (sebut saja Mas A) yang mendekati saya dan bercerita bahwa dia baru saja membeli unitlink dari sebuah perusahaan asuransi yang ditawarkan oleh temannya.

Berdasarkan materi saya, Mas A berkesimpulan bahwa dia telah ditipu. Pertanyaan saya waktu itu: emang tujuannya buka unitlink itu apa? Beliau menjawab: hanya untuk investasi, dan fokus utamanya bukan untuk membeli proteksi asuransi. Karena itu, si agen asuransi menawarkan produk dengan uang pertanggungan (UP) jiwa yang kecil untuk memaksimalkan hasil investasi.

Okay, sampai sini cukup jelas. So, apakah si penjual unitlink adalah penipu? Nanti dulu. Kemungkinan besar pada saat polis tersebut ditandatangani, konsumen tidak mendefinisikan dengan jelas mengenai apa tujuan pembelian polis tersebut, dan hanya menyebutkan bahwa beliau menginginkan hasil investasi yang maksimal.

Akhirnya si agen menyiasatinya dengan mengecilkan alokasi premi untuk asuransi jiwa. Hal ini tidak mungkin terjadi jika Mas A benar-benar menentukan tujuannya (hanya untuk berinvestasi) dan memahami dengan baik alternatif produk yang bisa dipakai.

Contoh #2: reksadana saham

Masih di bulan yang sama, ada seorang teman yang akhirnya memutuskan untuk mencairkan semua investasinya di reksadana saham (RDS) yang baru berusia 1 tahun dan memindahkan semua hasilnya dalam bentuk deposito.

Kenapa? Karena menurut beliau, hasil yang diperoleh dari RDS tersebut ternyata ngga sesuai dengan yang digembar-gemborkan di media masa ataupun yang diceritakan oleh teman-temannya. Terbukti bahwa selama 1 tahun return RDS beliau hanya berkembang sebesar bunga deposito.

Nah, kalo kayak gini, apakah para penjual reksadana adalah penipu? Seperti yang selalu diteriakin oleh Mbak Ligwina Hananto, pertanyaan awal sebelum berinvestasi adalah: tujuan lo apa? Pertanyaan berikutnya: kapan tujuan lo mo dicapai? Hal ini penting sekali untuk menentukan instrumen yang akan dipakai, karena menyangkut karakteristik dari instrumen itu sendiri.

RDS, by nature, sangat fluktuatif dan sensitif terhadap kondisi perekonomian negara (dan juga global) sehingga tidak bisa mengandalkan catatan return historis sebagai tolok ukur jangka pendek. Hal penting lainnya dalam penentuan instrumen investasi adalah mengenai profil risiko masing-masing investor. RDS seharusnya tidak menjadi pilihan bagi para invenstor dengan tipe risk aversion.

Dalam cerita di atas, RDS udah dianggap sebagai “penipu” karena imbal hasil yang kecil, gimana kalo malah rugi coba?! Lagi-lagi 1 quote penting dari Warren Buffet:

Unless you can watch your stock holding decline by 50% without becoming panic-stricken, you should not be in the stock market”.

Kesimpulan dan pencegahan

Kesimpulannya, masalah penipuan dan tertipu dalam berinvestasi tidak hanya disebabkan oleh produk investasi itu sendiri, namun juga oleh tingkat pemahaman investor akan produk investasi yang digunakan. Langkah pencegahan agar tidak tertipu dalam berinvestasi bisa dilakukan melalui beberapa hal dasar sebagai berikut:

  • Pahami profil risiko pribadi
  • Tentukan tujuan dan jangka waktu investasi
  • Pahami detail dan karakter produk/instrumen investasi yang ditawarkan (termasuk bagaimana return dihasilkan)

Semoga tips berinvestasi agar tidak tertipu di atas dapat menjadi sedikit pegangan bagi kita semua.

 

Akhir kata: Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

 

Selamat berinvestasi.

 

Picture: www.bigbuckstoyou.com

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: