Tips agar berhemat jadi menyenangkan

Boros vs pelit vs hemat

Boros vs pelit vs hemat merupakan topik lama nih tapi menarik untuk dibahas, karena beberapa waktu lalu saya sempet menyimak perbincangan beberapa temen yang membahas topik ini. So tips berhemat menjadi penting untuk diketahui.

Trus apa yang bikin menarik? Menariknya karena di perbincangan temen-temen beberapa waktu lalu itu, ada beberapa pernyataan yang menarik dari 2 orang temen yang keduanya menolak disebut boros dan pelit, dan lebih suka dibilang sebagai orang yang menerapkan hidup hemat dengan caranya sendiri-sendiri.

Well, ruang lingkup pembahasan ini sebenarnya cuma terbatas dalam gaya hidup, meliputi kebiasaan belanja-belanja or nyari hiburan yang justru merupakan dasar utama dari masyarakat untuk men-judge pola hidup seseorang.

Tukang boros vs si pelit

Ini sebenarnya yang memicu perbincangan dengan kedua teman tersebut, dimana yang satu sukses memperoleh cap “tukang boros” dan yang satu lagi “si pelit” or ansos (anti sosial) karena keseringan menghindar dari ajakan nongkrong bareng.

Si A bilang kalo dia selalu boros begitu gajian, namun kalo udah ditengah bulan berubah jadi pelit. So, secara rata-rata dia tetap menamakan diri sebagai orang yang “hemat”. Toh pada kenyataannya gak pernah terjerat utang kartu kredit. Hmm, bener juga sih.

Di sisi lain, si B bilang kalo dia saat ini lebih banyak menabung or berinvestasi sebanyak-banyaknya, sehingga mau ngga mau ada kebutuhan-kebutuhan lain yang jadinya harus ditunda. Misalnya, kebutuhan untuk mengganti BB Gemini edisi pertama yang udah butut, laptop yang berdasarkan usia harusnya sekarang udah kelas 1 SD sampe kebutuhan bersosialisasi dengan temen-temen kuliah karena batas minimum discount kartu kredit bank mega di coffeebean udah naik jadi Rp 65 ribu.

Pertanyaannya, ini kah definisi hemat yang bener? Hmm, gak tau juga. Tapi yang jelas, dua2anya tampak ngga menyenangkan, hehehe….

 

Definisi: boros, hemat dan pelit

Well, sebelum masuk lebih jauh, kita liat dulu view mengenai boros, hemat dan pelit ini yang sebenarnya udah sering dibahas di dunia maya, misalnya di femaleradio, chicmagz, or kompasiana, atau juga di beberapa blog seperti punyanya mas Hianoto, Haryobayu dan Mona Nuraliza. Semua lengkap, baik dari sisi definisi umum maupun dari sisi agama. Intinya kita semua sepakat, kalo yang namanya hemat itu ngga seburuk pelit. Ya iyalaaaahh… 🙂

Definisi versi saya: sesuai hitungan

Oke, balik ke topik. Untuk saya pribadi, saya ngga mendefinisikan gaya hidup saya, sebagai hasil dari financial planning pribadi, sebagai tidak “boros”, cenderung “hemat” dan tidak “pelit”. Mungkin lebih cenderung ke arah hemat namun saya lebih suka menyebutnya “sesuai hitungan“. Jelek sih sebutannya, abis ngga nemu juga istilah yang tepat dalam satu kata, hehehe…

Caranya: Personal budgeting

Caranya, lakukan personal budgeting dengan baik dan alokasikan semua biaya sesuai dengan budget.

Intinya gini, dengan personal budgeting, semua kebutuhan kita, baik yang rutin, non rutin, untuk masa sekarang maupun yang menyangkut masa depan, termasuk didalamnya adalah sedekah dan perpuluhan dll, udah diperhitungkan dengan baik dalam budget bulanan maupun tahunan.

Termasuk di dalamnya alokasi biaya-biaya yang dibutuhkan untuk belanja non rutin ataupun biaya “gaul” untuk sosialisasi. Untuk beberapa kasus, biaya gaul ini penting lho untuk investasi masa depan. Selama semua kebutuhan dasar dan investasi udah tercukupi, ga ada salahnya kok untuk menyenangkan diri dengan urusan duniawi, hehehe.

 

Tips agar berhemat jadi menyenangkan

Beberapa tips dalam personal budgeting yang bisa dilakukan setiap bulannya:

#1 Alokasikan biaya di hari kerja

Ini termasuk biaya makan siang dan biaya lainnya di luar jam kerja. Ini juga penting nih, secara kalo di kantor kita gampang banget tergoda dengan ajakan temen-temen untuk nyoba-nyoba tempat baru yang biasanya relatif mahal. Contoh, jika budget makan siang tiap hari Rp25rb, dan selama senin-kamis kita cuma menghabiskan Rp15rb/hari, maka kita bisa ikutan makan yg ‘lebih mahal’ di hari jumat.

#2 Alokasikan biaya untuk “gaul” dalam budget bulanan.

Ngga perlu gede, seperlunya aja, tergantung dimana temen-temen kita terbiasa ngumpul dan berapa kali kita mampu untuk bergabung. Saya pribadi memiliki budget mingguan untuk ini, termasuk didalamnya biaya rekreasi dengan istri dan anak di akhir pekan. Sama seperti di poin no 1, kalo ngga abis di minggu ini, bisa dipake sebagai tambahan untuk gaul or jalan-jalan dengan keluarga di minggu depan.

#3 Alokasikan biaya untuk shopping.

Penting nih untuk ibu-ibu, hehehe. Ngga untuk ibu-ibu aja sih, saya pun butuh biaya ini untuk keperluan pakaian kantor dan lain-lain. Apalagi kalo udah punya anak, dimana usia pakaian cuma seitungan bulan. Again, kelebihan alokasi sah-sah aja diakumulasiin ke bulan berikutnya.

#4 Alokasikan penghasilan non rutin untuk pengeluaran yang lebih bersifat non rutin.

Jika alokasi dari penghasilan rutin ngga memungkinkan, boleh lah diambil dari bonus or THR. Karena pada umumnya jika tanpa alokasi dari awal, bonus ini bisa jadi udah “lebih dulu habis” sebelum keluar. Biasanya penerbit kartu kredit nih yg seneng, krn pembelanjaan jadi meningkat karena kebanyakan karyawan tiba-tiba menjadi boros untuk hal-hal yang impulsif dengan alesan: ‘toh bulan depan ada bonus’ :).

Hasil dari alokasi dalam personal budgeting

Dengan adanya alokasi seperti di atas, dijamin ngga ngerasa dosa dan pusing kalo mo belanja-belanja yang mahalan dikit, hehehe. Emang sih lebih baik kalo sisa dari alokasi di atas bisa digunakan untuk nambahin tabungan atau investasi rutin.
Tapi kalo pun ngga, toh semua kebutuhan udah terpenuhi juga, so bolehlah manjain diri dikit biar gak dicap pelit ama orang, hehehe. Buat saya, ini adalah cara hidup hemat yang menyenangkan karena semua kebutuhan rutin, tabungan, investasi, sedekah, belanja lain-lain dan kebutuhan bersosialisasi bisa berjalan sesuai budget.
Kelebihan maupun kekurangan dari budget akan menjadi dasar untuk alokasi biaya bulan berikutnya. Satu lagi, jika biaya bulan ini lebih besar dari budget maka kita pun harus konsekuen untuk mengurangi jatah belanja di bulan berikutnya. Dijamin juga deh gak akan dibilang boros ama tetangga, hehehe…
So, kalo memang ada budgetnya, ngga usah merasa berdosa kalo bulan depan mo nonton Lady Gaga dan NKOTB sekaligus, asal bulan berikutnya jangan lagi nonton konser dulu yah, hehehe…

Pastikan semua kebutuhan rutin terpenuhi

But bear in mind, jika memang secara cash flow keluarga penghasilan yang ada masih terbatas untuk hanya menutupi kebutuhan rutin, maka sebaiknya fokus dulu untuk kebutuhan utama dan memanfaatkan pendapatan non rutin untuk menutupi semua kebutuhan non rutin.

Jangan sampai semua bonus dan THR habis hanya untuk membiayai kebutuhan rutin yang dibanyakin konsumsinya or dinaikin kelasnya. Misal, pake lah bonus untuk ganti handphone yang udah butut, dan bukan dengan balas dendam makan-makan di resto mahal dan beli pakaian branded.

Gunakan rekening terpisah

Yang terakhir, kelebihan alokasi ini sebaiknya disimpan dalam rekening yang terpisah biar terhindar dari godaan belanja rutin yang berlebihan. Dari pengalaman pribadi, kelebihan dana di rekening ini kadang-kadang bisa lho dijadiin tambahan untuk pengeluaran dadakan.

Tapi pada dasarnya, masalah personal budgeting ini adalah masalah pilihan, tergantung arah yang anda inginkan dengan konsekuensinya masing-masing. Yang penting anda harus tau dengan jelas ke mana uang anda pergi.

 

That’s the beauty of budgeting

 

Image: crown-financial-concepts.com

2 Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: