Masih Ragu Investasi Saham? Ini Pertimbangan Agar Berani Memulai Investasi Saham

Seringkali dalam kelas-kelas seminar, saya melontarkan pertanyaan kepada peserta, apakah mereka sudah ada yang berinvestasi di reksadana ataupun investasi di saham. Sudah bisa ditebak, hanya sebagian kecil yang menjawab sudah, hehehe.

Yang lebih parah lagi investasi pada instrumen saham. Banyak yang masih takut untuk mencoba berinvestasi langsung di saham. Dalam beberapa seminar yang internal di beberapa perusahaan yang notabene merupakan perusahaan terbuka (mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan sahamnya bisa dibeli oleh masyarakat umum), saya iseng bertanya: siapa yang sudah membeli saham perusahaan ini?

Hasilnya? Diam semua. Amazing!! Tidak ada satupun karyawan yang berani berinvestasi pada saham perusahaannya sendiri. Ini karena pada ngga ngerti tentang saham apa emang ngga percaya sama perusahaan sendiri sih? hehehe…

Resistensi Terhadap Investasi Saham

Kenapa banyak orang yang langsung jiper atau takut begitu ditawarkan untuk investasi di saham? Mungkin anda adalah salah satunya.

Menurut yang saya tau, biasanya masyarakat kita tidak berani berinvestasi di saham karena 4 alasan:
  1. Pemahaman bahwa saham = judi
  2. Transaksi saham tidak halal
  3. Butuh modal besar untuk bertransaksi saham
  4. Saham hanya untuk orang pintar

Dan sayangnya resistensi ini tidak diikuti oleh kemauan untuk mencari tau lebih detail tentang invetasi saham, hehehe. Padahal banyak lho topik tentang cara investasi saham dengan aman di internet.

Oke, saya coba bahas alasan resistensi terhadap saham satu-satu secara singkat ya.

#1 Saham = Judi?

Sebelumnya saya pernah bahas dengan jelas mengenai perbedaan antara konsep investasi dan judi. Bukan instrumennya lho, tapi justru pada pemahaman dan penggunaan instrumen investasi yang menentukan kita sedang berinvestasi ataukah berjudi.

Menurut Pak Nicky Hogan, salah satu Direktur BEI, gampangnya gini pemikirannya. Kita membeli saham artinya kita membeli kepemilikan atas suatu perusahaan. Apa yang membuat kita mau membeli sebuah perusahaan? Tentulah karena kita tau perusahaannya dan kenal dengan produk-produknya.

Contoh, kita suka makan mie instan dari Indofood (kode saham INDF). Kita menggunakan produk-produk seperti sabun dan pasta gigi keluaran Unilever (UNVR). Kita menyimpan uang di Bank Mandiri (BMRI) atau Bank BCA (BBCA), langganan TV kabel Indovision punya MNC (MNCN) dan menggunakan layanan telepon punyanya Indosat (ISAT). Terus beli mobil keluaran Astra International (ASII).

Semua orang tau lho tentang perusahaan-perusahaan di atas, tau dengan jelas produk-produknya dan tau juga business size serta market share mereka di Indonesia. Nah jika kita membeli saham-saham perusahaan tersebut, apakah bisa dibilang kita berjudi?

Lain cerita jika kita beli saham dari perusahaan-perusahaan yang tidak kita pahami apa bisnisnya. Bahkan mungkin baru pernah dengar namanya. Hanya membeli saham perusahaan itu karena “ikutan teman”. Nah, kalo ini sih bisa jadi masuk kategori berjudi. Ini contoh cara membeli saham dengan tidak aman, hehehe…

Pemahaman akan saham yang dibeli ini konsep yang sangat penting lho, tapi sayangnya kadang dilupakan atas dasar greedy. Padahal ya, kalau mau beli sepatu saja kita bisa mikir lama dan membanding-bandingkan dengan produk toko-toko sebelah. Kadang perlu masukan dari lebih dari 1 orang pula. Masa iya saat beli saham cuma main asal sikat aja? Hehehe…

“Never invest in a business you can’t understand.”

Warren Buffet

Investasi saham vs investasi bodong

Sedikit penasaran untuk membandingkan investasi saham dengan investasi bodong. Maklum kasus investasi bodongnya Pandawa Grup sekarang lagi hot-hotnya nih. Yang menarik perhatian saya adalah: menurut informasi di Liputan6, Pandawa Grup ini berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 2.85 triliun dari sekitar 31.600 orang investor.

Kok bisa ada sedemikian banyak orang dengan sedemikian banyak dana, berani dan percaya pada investasi yang benar-benar tidak jelas seperti itu? Dan ironisnya justru takut dengan investasi saham yang jelas-jelas teregulasi dengan baik dan didukung oleh infrastruktur keuangan yang sudah sangat maju?

Aneh ya?! Tapi itulah kenyataannya. Faktor pertimbangan risiko menjadi hilang, tertutupi dengan janji bunga sebesar 10% setiap bulannya. Padahal balik ke quote Warren Buffet di atas, darimana logikanya ada bisnis yang bisa memberikan imbal hasil sebesar itu setiap bulannya?

#2 Saham = Haram?

Kadang ada pertanyaan apakah bertransaksi saham itu haram atau tidak. Jujur, saya tidak paham jika berhubungan dengan konsep haram-halal dalam hal skema investasi. Taunya sebatas pada aspek spekulasi yang sering digunakan para trader, yang mana tidak masuk dalam definisi saya tentang “investasi”.

Yang saya tau, ada beberapa hal yang terkait dengan bisnis perusahaan yang memang dicap haram. Misalnya, mengandung bunga/riba, terkait perjudian atau memproduksi barang merusak kesehatan seperti rokok. Jadi yang diharamkan disini adalah bisnis perusahaannya. Jadi jika kita memang mencari perusahaan yang benar-benar halal untuk dibeli sahamnya, maka hindari lah saham-saham perusahaan seperti ini.

Biar tidak salah beli, coba cek Jakarta Islamic Index (top 30 saham) atau Indonesia Sharia Stock Index (ISS) yang memuat daftar saham syariah dengan lebih lengkap. Disitu telah diseleksi perusahaan-perusahaan mana saja yang masuk kategori halal. So tinggal pilih dari daftar tersebut untuk mulai berinvestasi saham.

#3 Butuh modal besar untuk bertransaksi saham

Saat ini dengan modal antara Rp 1juta – Rp 5 juta kita sudah bisa membuka rekening investasi saham di salah satu perusahaan sekuritas yang ada di Indonesia. Mahal? Ini lebih murah lho jika dibandingkan dengan penempatan deposito di bank yang biasanya antara Rp 8juta – Rp 10 juta. Benar ngga?!

Kita coba simulasi lebih lanjut. Salah satu saham termahal di BEI sekarang adalah saham Gudang Garam (GGRM), per hari ini (6 Maret 2017) ada di level Rp 63.400 / lembar saham. Pembelian saham di BEI minimal 1 lot (per lot 100 lembar saham). Artinya untuk berinvestasi di saham GGRM, hanya butuh modal investasi Rp 6.340.000 (1 lot).

Masih banyak saham lain yang pecahan harganya lebih kecil. Misalnya saham Telkom (TLKM) yang hanya butuh investasi sebesar Rp 400.000, Astra International (ASII) sebesar Rp 850.000, atau bahkan hanya butuh Rp 74.500 untuk menjadi pemilik saham jaringan Ace Hardware, hehehe.

So, berinvestasi saham itu mahal? Terbukti salah kan? Ternyata ngga lebih mahal dari membuka deposito atau membayar premi rutin unitlink, bahkan malah saingan dengan harga 1 tiket XXI di weekend, hehehe…

#4 Saham hanya untuk orang pintar

Yes memang benar untuk berinvestasi saham butuh pengetahuan lebih untuk memilih dan menentukan saham yang akan dibeli. Tapi sekali lagi, ini sih hal lumrah dalam setiap aspek kehidupan kita. Bener ngga?

Seperti analogi pemilihan sepatu tadi di atas, sudah seharusnya riset dan review tentang produk yang akan dibeli kita lakukan dengan teliti. Apalagi dalam berinvestasi, kumpulkan informasi sebanyak mungkin. Banyak kok analisa-analisa di media yang bisa dijadikan referensi.

So buat saya, bukan “pintar” yang dibutuhkan dalam berinvestasi, namun ketekunan dalam mengumpulkan informasi terkait investasi yang akan dilakukan. Contohnya bisa dilihat dari video dibawah ini, tentang investasi saham yang dilakukan oleh seorang supir taksi.

Mohon maaf, saya tidak bermaksud meng-underestimate profesi supir taksi atau mengatakan bahwa supir taksi bukan orang pintar ya. Tapi banyak orang yang menolak berinvestasi di saham karena “merasa” bahwa dirinya “kurang pintar” untuk bisa berinvestasi saham. Mereka meremehkan diri mereka sendiri.

Well, semoga profil Pak Aab Abdulah di atas bisa menjadi inspirasi buat kita semua. Sebelumnya saya juga pernah menulis tentang profil investasi seorang asisten RT di rumah mertua saya. Saya sendiri pun jadinya belajar banyak tentang motivasi investasi dari dia, hehehe… Contoh nyata kan jika yang namanya investasi bisa dilakukan oleh siapapun yang mau belajar.

Tips untuk berinvestasi saham dengan aman

Setelah memahami keempat hal tentang mengapa orang cenderung tidak berani berinvestasi pada saham, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memulai investasi pada saham, disertai beberapa quote dari Pak Warren Buffet.

#1 Pahami konsep investasi dan tujuan dalam berinvestasi saham

Saham adalah investasi untuk jangka panjang dengan risiko jangka pendek yang lumayan besar. Bisa dilihat dari pergerakan IHSG di bawah ini.

Dok. Pak Nicky Hogan

Dalam jangka pendek, pergerakan saham juga berfluktuasi, bisa naik dan turun dengan tajam. Namun dalam jangka panjang, bisa dilihat bahwa pergerakan indeks saham tersebut membentuk suatu trend naik. Ini data faktual selama 10 tahun terakhir (update Feb 2017).

Karena itu sebelum memulai berinvestasi saham, pahami dengan jelas konsep investasi terlebih dahulu dan apa tujuan kita melakukan investasi itu. Jangan menggunakan saham sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan jangka pendek.

Pernah dengar kata “main saham?” Nah, ini bisa memberikan persepsi yang keliru tentang saham itu sendiri. Dalam suatu kesempatan seminar, Pak Nicky Hogan menentang istilah “main saham” ini, karena terkesan bahwa jual beli saham adalah transaksi main-main (mendekati berjudi) untuk mencari keuntungan.

Beliau tegas mengatakan bahwa membeli saham adalah investasi, dan proses jual beli saham dilakukan melalui mekanisme perdagangan yang dianalisa dengan baik. Jika hanya melihat saham sebagai komoditas untuk mencari untung jangka pendek maka kemungkinan besar kita akan terjebak dalam konsep “bermain” dan membahayakan modal kita. Saham adalah investasi jangka panjang, bukan mainan jangka pendek.

#2 Belilah saham perusahaan yang kita tau dan paham bisnisnya

Poin ini sangat penting untuk menghindarkan kita dari kerugian, yang pada akhirnya justru membrandol saham sebagai instrumen yang tidak ada bedanya dengan judi.

Pilihlah saham dari perusahaan-perusahaan yang produknya kita gunakan atau kita temui sehari-hari. Banyak banget lho. Sebut saja perusahaan-perusahaan consumer goods seperti Indofood atau Unilever, atau perusahaan telekomunikasi seperti Telkom dan Indosat, atau juga perusahaan-perusahaan konstruksi seperti Wijaya Karya atau Adhi Karya yang saat ini logonya bertebaran di hampir seluruh Jakarta karena banyaknya pembangunan infrastruktur.

Jangan berinvestasi pada perusahaan yang bisnisnya susah kita pahami. Bukan berarti ini tidak menguntungkan, tapi mungkin ada trend tertentu di industri tersebut yang tidak kita pahami dan di waktu-waktu tertentu pergerakan kinerjanya potensial membuat kita panik.

So, balik ke quote Warren Buffet tadi: “Never invest in a business you cannot understand.”

#3 Mulailah secara bertahap

Sama seperti anak kecil yang mulai belajar menggunakan kaki, semua dimulai dengan berjalan tertatih-tatih. Tidak bisa dipaksa untuk langsung berlari. Semua aspek kehidupan ini membutuhkan tahapan untuk menjadi lebih baik lagi.

Di postingan sebelumnya, Pak Nicky Hogan juga menekankan pentingnya tahapan ini ketika membahas persamaan antara tahapan berlatih lari dengan berinvestasi.

Lakukan juga investasi secara rutin, salah satunya adalah melalui metode dollar cost averaging dimana pembelian saham dilakukan secara rutin dengan nominal yang sama. Konsep yang sama juga saat ini sedang digalakkan oleh BEI melalui gerakan Yuk Nabung Saham.

Konsep Yuk Nabung Saham ini juga saya bahas dengan lebih lengkap pada tulisan Cara Menabung Saham.

#4 Terus belajar tentang investasi

Jangan pernah puas dengan pengetahuan anda dalam berinvestasi, khususnya dalam investasi saham. Terus belajar, baik dari referensi maupun dari pengalaman dan kesalahan yang kita lakukan selama melakukan investasi. Ngga salah kata orang kalau pengalaman adalah guru yang terbaik, hehehe.

Umumnya kita membutuhkan diversifikasi untuk memperoleh hasil maksimal dengan risiko lebih terkontrol. Terkadang malah kita hanya perlu menggunakan satu saham yang kita pantau dengan baik. Untuk melakukan ini, dibutuhkan pengalaman dan pengetahuan lebih jauh tentang investasi saham.

At the end, investasi terbaik adalah investasi pada diri kita sendiri. Hasilnya bisa dinikmati seumur hidup dan jelas bebas pajak, hehehe…

Penutup

Demikian sharing kali ini tentang cara aman berinvestasi saham beserta pembahasan mengenai mengapa masih banyak orang yang tidak berani berinvestasi di saham. Hal-hal ini harus diperhatikan untuk memulai berinvestasi di saham.

Semoga bisa menjadi referensi bagi teman-teman untuk mau belajar lebih banyak tentang investasi saham. Topik mengenai investasi saham ini juga bisa dilihat dari pembahasan para blogger perencanaan keuangan seperti DaniRachmat dan Diskartes. Monggo diubek-ubek isi blog nya, hehehe…

Selamat berinvestasi.

 

Image: retailnews.id

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: