Tip Mengenalkan Konsep Uang pada Anak ala Opa Warren Buffett

Pasti kamu tahu Warren Buffett kan? Legenda hidup investasi ini sudah memulai aktivitasnya sebagai investor saat beliau masih berusia 11 tahun. Nah, ternyata, hal ini akhirnya juga membuat CEO Berkshire Hathaway ini juga memiliki kepedulian lebih terhadap pentingnya pelajaran keuangan sejak dini.

Sebagai bentuk kepeduliannya, banyak hal telah dilakukan oleh Warren Buffett untuk menyebarkan kesadaran mengenai pentingnya literasi keuangan ini. Salah satunya, ia meluncurkan serial animasi Secret Millionaires Club yang berisi tentang pelajaran bisnis dan keuangan untuk anak-anak. Saat ini bisa ditonton di Youtube, dengan total 26 episode.

Suatu kali, ia pernah berkata begini,

“Most parents already know how important it is to teach their kids about money and how to manage it properly. But there’s difference between knowing and taking action.”

Woots! Siapa nih yang kesindir?

Nggak perlu baper, tapi mari kita lihat deh, kelanjutannya.

Warren Buffett menekankan, bahwa ada 4 hal penting yang harus diajarkan kepada anak sejak dini agar bisa bertumbuh dengan kecerdasan keuangan yang baik. Hal-hal yang nantinya akan sangat berguna sebagai dasar bagi siapa saja untuk bisa mendapatkan kondisi keuangan yang sehat ke depannya. Apa saja? Simak yuk.

Foto: Stockbasket

4 Hal yang Diajarkan oleh Warren Buffett tentang Pendidikan Keuangan untuk Anak

1. Bagaimana menjadi flexible thinker

Warren Buffett menggarisbawahi, bahwa sangat penting bagi kita untuk memiliki pola pikir yang fleksibel, when it comes about finance. About personal finance, to be precised.

Dalam step yang pertama ini, anak akan diajari untuk tidak menyerah saat menghadapi masalah. Kemampuan untuk berpikir kreatif dan out of the box sangat dibutuhkan dalam menghadapi masalah keuangan di masa depan.

Bagaimana cara menstimulasinya? Bisa banyak cara.

Salah satunya, coba ajak anak ke museum seni dan ajak diskusi tentang jenis-jenis lukisan. Minta anak untuk melukis dengan gaya sendiri, dan juga minta anak untuk berpendapat tentang alat-alat alternatif yang bisa digunakan untuk melukis selain kuas lukis. Bisa saja menggunakan spons, tangan, dan lain sebagainya.

Cara kedua, misalnya dengan menantang anak untuk berpikir kreatif. Misalnya, pinta mereka membuat sesuatu yang berguna dari barang-barang bekas di rumah. Harus yang fungsional ya, biar bisa dipakai lagi.

2. Bagaimana memulai menabung

Hal kedua tentang mengajarkan uang pada anak adalah memperkenalkan perbedaan konsep needs dan wants pada anak.

You see, dalam pengelolaan cash flow, it’s merely about wants and needs. Pertama kali yang harus kita lakukan untuk menjaga arus kas kita agar tetap sehat adalah belajar mengenali mana keinginan dan mana kebutuhan.

Saat kita sudah bisa menyelami perbedaan konsep dari keduanya, maka selanjutnya akan lebih mudah bagi kita untuk menentukan prioritas dan mengatur keuangan yang pas dengan kebutuhan.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Mulai saja dari yang simpel dulu. Misalnya, beri 2 celengan untuk anak menabung dan belanja. Ketika hal ini sudah bisa dipahaminya dengan baik, saat ia dewasa nanti akan lebih mudah baginya untuk menentukan alokasi tabungan dan investasi dengan belanja kebutuhan. Ajak anak diskusi setiap kali ia menerima uang terkait alokasinya.

Bisa juga dengan meminta anak untuk mengumpulkan 10 foto barang yang ingin dibeli. Kemudian ajak diskusi untuk menentukan wants dan needs; mana yang menjadi kebutuhan, dan mana yang menjadi keinginannya.

Tip Mengenalkan Konsep Uang pada Anak ala Opa Warren Buffett

3. Bagaimana membedakan harga dan nilai

Harga dan nilai suatu barang ini penting untuk dipahami, bahkan harus dimulai sejak anak-anak. Dengan memahaminya, maka anak akan belajar untuk kritis terhadap penawaran barang dan jasa, sekaligus mengajarkan mereka untuk bisa menilai tingkat kelayakan sesuatu untuk dibeli.

Lalu, gimana cara melatihnya? Misalnya, kalau mau belanja ke supermarket, buat dulu daftar kebutuhannya. Setibanya di supermarket, hipermarket, atau di mana pun kita belanja, carilah semua promo dan diskon terkait barang dalam daftar. Ajak anak untuk melihat harga penawaran terbaik.

Kita juga bisa mengajak anak untuk menganalisis iklan. Coba diskusikan: Apa yang dijual? Apa pesan dari iklan tersebut? Apa perasaan anak terhadap iklan tersebut? Perasaan apa yang menjadi efek dari iklan?

4. Bagaimana membuat keputusan

Faktor-faktor yang dapat menentukan ketika kita mengambil keputusan penting untuk diajarkan pada anak sejak dini, apalagi jika menyangkut keputusan finansial. Tunjukkan pada anak bahwa perbedaan pilihan keputusan bisa memberikan hasil yang berbeda.

Caranya, misalnya dengan sharing berbagai opsi yang berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga dan bagaimana keputusan akhirnya diambil di rumah kepada anak. Contohnya nih ya, ada kebutuhan mengganti AC dan TV. Tapi, untuk mengganti keduanya saat ini belum memungkinkan. Nah, libatkan pada anak dan jelaskan, mengapa kita memilih mengganti AC terlebih dahulu dan harus menunda membeli TV.

Dengan begini, kita membiasakan adanya diskusi tentang skala prioritas setiap kali mereka ingin membeli sesuatu.

“The biggest mistake parents make when teaching their kids about money is sometimes they wait until their kids are in their teens before they start talking about managing money–when they could be starting when their kids are in preschool.”

Ini juga kata Warren Buffett. So, jangan nunggu sampai mereka besar untuk mengajarkan konsep keuangan, karena bakalan terlambat. Meskipun, yah, kalaupun terlambat, itu juga akan lebih baik ketimbang enggak sama sekali. Tapi kalau bisa enggak terlambat ya pasti sangat lebih baik, bukan?

Yuk, segera kenalkan konsep pengelolaan keuangan pada anak sejak dini. Siapa tahu kan, mereka bisa jadi Warren Buffett berikutnya, atau malah lebih sukses lagi?

Leave a Reply