Cerita Tentang Mengenalkan Uang Pada Anak

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang pentingnya pengenalan uang sejak dini, kali ini saya akan sharing mengenai bentuk penerapan yang telah saya dan istri lakukan di rumah untuk mulai mengenalkan konsep uang pada anak pertama kami, El (6 tahun).

Well mohon maaf nih, mau ngaku dikit. Selama ini saya beberapa kali memperoleh pertanyaan mengenai cara mengenalkan konsep uang pada anak ataupun cara mengajarkan uang pada anak, baik dalam sesi seminar maupun tanya jawab pribadi, dan saya selalu menjawab berdasarkan teori yang pernah saya baca atau dengar. Tapi masalah benar atau tidaknya, berhasil atau gagalnya, jujur saya tidak pernah membuktikan secara langsung.

Lha wong ngga pernah praktek, cuma bisa ngasih jawaban berdasarkan apa yang saya baca ditambahkan dengan pendapat/opini pribadi tentang konsep uang untuk anak ini. Ada sih yang sudah saya praktekkan sendiri ke si El, tapi masih belum terstruktur dan tidak bisa dibilang berhasil juga.

Nah kebetulan anak saya baru masuk SD, baru mulai kenal dengan uang saku, saat yang tepat untuk memulai praktek langsung di lapangan 🙂

So sharing ini lebih berisi cerita tentang penerapan tahapan konsep mengenalkan uang pada anak serta mendidik anak tentang uang di keluarga saya. Semoga bisa berguna sebagai masukan ataupun benchmark bagi teman-teman yang sedang memulai konsep yang sama.

Awal praktek mengenalkan uang pada anak

Artikel pertama yang membuat saya termotivasi untuk mengajarkan uang pada si El sejak dini adalah sebuah artikel singkat tentang Warren Buffet di CNBC. Come on, umur 6 tahun sudah berpikir untuk mulai berbisnis? Umur 6 tahun dulu mah saya masih mikirin gimana caranya selalu menang main gundu, hehehe…

When I was 6, I started my first business. I bought a six-pack of Coke for 25 cents and sold the cans for a nickel apiece. I also sold magazines and gum door to door – Warren Buffet

Tapi itu kan Warren Buffet. Mungkin memang itu special case, tidak berlaku untuk semua anak kecil. So akhirnya lanjutlah mencari artikel-artikel lain, salah satunya adalah petunjuk mengajarkan uang pada anak berdasarkan umur yang dimuat di Parents.com. Jika banyak artikel tentang ini, harusnya konsep pengenalan uang pada anak ini adalah sesuatu yang umum dilakukan. Hmmm…

Kesimpulannya, mulai umur 3 tahun pun anak sudah mulai bisa diajarkan tentang konsep uang, namun benar-benar dilakukan dengan bertahap sesuai dengan perkembangan si anak.

Ya sudah, lets do it kalo gitu. Dan akhirnya walaupun pelan-pelan dan tidak begitu konsisten, saya mulai coba menerapkan apa yang saya baca. Ada beberapa hal yang mulai coba saya kenalkan pada anak sejak dia mulai masuk playgroup (usia 3 tahun).

Pengenalan uang dan concept of exchange

Mesin ATM

Sebenarnya awalnya saya mau mengenalkan konsep menabung untuk anak. Kenapa? Karena kebetulan saya yang selalu mengantar jemput si El (seminggu 2x masuk) dan kebetulan juga di parkiran sekolahnya ada ATM BCA yang lumayan besar. Ya otomatis dia sering menemani saya mengambil uang di ATM.

Saya pikir bagus nih, sekalian mengajarkan konsep menabung. Karena kita menabung, maka kita bisa punya uang yang bisa kita ambil dari mesin ATM. Begitu terus yang coba saya ajarkan ke El. Makin lama dia makin tertarik dan bahkan meminta untuk ikutan memencet tombol-tombol menu ATM (selain keypad).

Tapi ya gitu, tertariknya cuma sama mesin ATM nya saja ternyata, hehehe. Malah saya agak takut jika ajaran lanjutan saya tentang konsep “earning“, bahwa uang harus diperoleh dengan bekerja, menjadi tidak masuk di dalam pikirannya. Yaiyalah, lha wong yang dia liat bapaknya bisa dapet duit cuma tinggal mencet-mencet tombol di mesin, hehehe…

Well, tapi setidaknya pada tahapan ini El jadi mengerti bahwa uang adalah suatu alat yang bisa dipertukarkan dengan barang yang kita inginkan. Walaupun dia sama sekali belum paham tentang nilai dari uang itu sendiri.

Menabung di celengan

Saya juga mengajarkan ke anak tentang menabung dengan membelikan celengan kaleng bergambar Cars. Semangat tuh akhirnya, berusaha menabung sebanyak mungkin agar celengan penuh dan bisa membeli mainan.

Bagus sih memang, tapi ada hasil yang masih kurang dalam prakteknya. Si El jadi kayak polisi cepek, malakin duit receh buat ditabung, hehehe. Plus saat tabungan sudah penuh, pemahamannya adalah uang ini bisa digunakan untuk membeli mainan, tanpa peduli perbadingan harga mainan dan nilai tabungannya.

Ya sudah lah ya, namanya juga tahapan belajar menabung. Yang penting dia makin paham bahwa uang bisa dipertukarkan dengan barang.

Concept of equivalence

Seiring bertambahnya usia, El akhirnya sudah bisa berhitung dengan baik (walapun kesulitan dengan angka ribuan saat dikenalkan dengan nominal uang). Tapi dia sudah mulai bisa paham bahwa setiap uang memiliki nilai yang berbeda. Ini saat usianya sekitar 4-5 tahun, saya lupa juga pastinya.

Jika menurut teori, harusnya El juga sudah bisa paham bahwa terkadang uang yang dimiliki tidak mencukupi untuk membeli sesuatu. Secara teori sih sudah saya ajarkan, tapi saya yakin seyakin-yakinnya bahwa tu bocah ngga paham. Untungnya kesempatan praktek langsung akhirnya datang secara tidak sengaja.

Saya rutin ke Bandung menengok mertua, at least 1 bulan sekali. Karena kebetulan rumah mertua dekat dengan lokasi InParfum (pada tau kan yah? hehehe), jadi kadang suka ada teman yang nitip beli. Nah yang paham tentang toko parfum ini pastinya paham juga lah ya gimana antriannya (atau lebih tepat selak-selakannya) kalau sudah menjelang siang.

Nah satu ketika (tahun lalu, El berusia 5 tahun), dia ikut menemani saya ke toko parfum ini. Karena masih pagi datangnya, saya dengan cepat memperoleh tempat di paling depan. El sibuk main-main sendiri di belakang. Tiba-tiba dia haus dan minta dibeliin minum. Nah PR banget nih.

Ada sih tukang minuman di depan toko. Tapi kalau saya berani meninggalkan posisi saya sekarang untuk beli minum dulu, artinya sama dengan memulai antrian lagi dari paling belakang. Udah rame soalnya. Ya sudah, mau ngga mau saya minta El beli sendiri dengan dibekali uang Rp 5.000.

Tau-tau El balik ke saya dengan menerobos antrian: “Papa, uangnya kurang. Kata abangnya harganya enam ribu!!” Haiyaah… Untung ada selembar Rp 10.000. Ngga lama kemudian kelihatan si El lagi duduk di belakang dengan botol minuman dan dengan sambil ketawa mengacungkan 2 lembar Rp 2.000.

Oke, saya anggap El lulus ujian concept of equivalence, sekaligus lulus urusan hitung-menghitung kembalian, hehehe… So, harusnya sebagian tahapan mengajarkan uang pada anak mulai menunjukkan hasil.

Concept of income

Konsep ini baru bisa mulai saya terapkan saat El masuk SD pertengahan tahun lalu. Itupun belum bisa saya mulai di awal masuk sekolah karena perdebatan dengan istri mengenai “jajan vs bekal dari rumah”. Awalnya si El selalu membawa bekal cemilan dari rumah, dengan alasan kebersihan tentunya.

Tapi lama-lama kasihan juga kalau dengan cerita si El tentang teman-temannya yang dikasih uang jajan oleh orangtuanya. Lebih ngenesnya cerita soal dia nemenin temennya jajan tapi ngga bisa beli apa-apa. Pernah suatu hari El dengan semangatnya cerita tentang temennya yang dicap baiiiiiik banget karena membelikan Choki-choki buat El saat dia nemenin tu anak jajan. Ya ampuuun, ngenes amat anak gw…

Alhasil, besoknya langsung secara resmi si El punya uang jajan. Sama mamanya tetap dikasih bekal, termasuk Choki-choki. Tetap aja El lebih suka beli Choki-choki di sekolah daripada makan yang dibawa dari rumah. Alasannya: lebih seru kalau belinya bareng teman-teman.

Duit jajan yang saya kasih adalah Rp 2.000 per hari. Patokannya: harga Choki-choki yang katanya Rp 1.000 per bungkus. Btw ini bukan iklan Choki-choki lho ya, cuma kebetulan aja secara kenyataan jadi benchmark.

[Baca juga: Tips pemberian uang saku anak]

Tapi dengan Rp 2.000 per hari ini perlahan saya mulai coba menjelaskan tentang nilai dari uang. Tentang bagaimana harus memilih barang untuk dibeli dengan jumlah uang yang terbatas, dan bagaimana caranya menyimpan sebagian uang jajan ini agar besoknya bisa beli jajanan yang lebih mahal. Hasilnya? Lumayaaan….

Tiap hari saya kontrol kembaliannya. Kadang uang jajannya ludes, tapi tak jarang dia masih membawa pulang Rp 1.000, yang niatnya biar bisa jajan lebih banyak besoknya. Okeh, saya anggap ini sebagai progres, mulai belajar tentang uang dan bagaimana mengatur penggunaan uang.

Praktek penggunaan celengan dengan pembagian tujuan

Nah, setelah jalan 3 minggu, tau-tau si El komplain: “Papa, kenapa sih tiap hari cuma dikasih dua ribu? El bosen, dua ribuuuu mulu. Beli teh botol aja ngga cukup”. Yeee, kecil-kecil udah bisa minta naek gaji?! Dikasih Rp 2.000 aja suka ngga abis, ini malah minta nambah…

Tapi gara-gara itu saya jadi melihat kesempatan untuk masuk ke tahapan berikutnya untuk mengajarkan konsep uang pada anak saya. Saya sudah lama ingin menerapkan penggunaan beberapa celengan untuk tujuan tertentu. So, inilah kesempatannya. Uang jajan naik, tapi konsep menabung dan alokasi sudah harus dijalankan.

Penggunaan 3 celengan

Dari teori yang saya baca sejak beberapa tahun lalu, banyak yang mengusulkan pengenalan uang pada anak ini dilakukan melalui penggunaan beberapa celengan untuk anak, sesuai dengan tujuan menabung. Jadi dimulailah proses mengajarkan anak untuk menabung. So, saya putuskan untuk mengikuti ide tersebut dan membagi tujuan menjadi 3:

  1. Tujuan jangka panjang
  2. Tujuan jangka pendek
  3. Persembahan gereja (kolekte)

Si El sebelumnya sudah memiliki celengan, lagi-lagi celengan kaleng bergambar Cars. Sudah ada isinya juga, sehingga saya gunakan untuk tabungan tujuan jangka panjang (yang biar gampang saya bahasakan ke El sebagai “tabungan untuk mainan mahal”).

Dua celengan lagi saya putuskan untuk menggunakan kaleng bekas makanan dan permen. Kenapa? Karena yang satu untuk tujuan jangka pendek (buat beli mainan di sekolah atau beli ikan di pasar malam komplek) dan yang satu lagi untuk kolekte mingguan, yang jelas butuh tempat menabung yang gampang dibuka tutup. Murah meriah juga menjadi alasan lain penggunaan kaleng ini.

So, inilah penampakannya:

Celengan sesuai tujuan

Pembagian celengan sesuai tujuan

Alokasi uang jajan harian

Yes, saya masih menggunakan uang jajan harian dulu di awal praktek lapangan pengenalan uang pada anak saya. Sekarang uang jajan si El saya naikkan jadi sebesar Rp 5.000 per hari, dengan pembagian sebagai berikut:

  • Rp 2.000 untuk jajan di sekolah
  • Rp 2.000 untuk ditabung di “mainan mahal” atau “mainan”
  • Rp 1.000 untuk ditabung sebagai “kolekte”

Sedikit surprise buat saya karena si El minta agar pembagian ini ditulis di kertas, yang ternyata kemudian ditempelkan di salah satu papan di belakang pintu kamar tidurnya. Lucu juga, sudah mulai paham tentang penggunaan note, hehehe…

Anak dan uang

Note kecil tentang pembagian uang jajan di antara gambar-gambar El

Saya jelaskan juga ke El bahwa bagian kolekte adalah wajib hukumnya, sedangkan bagian jajan dan mainan bisa fleksibel mengikuti kebutuhan. Maksudnya jika ingin jajan lebih mahal dari Rp 2.000 sih boleh-boleh saja, namun artinya harus mengorbankan uang untuk beli mainan-mainan kecil atau ikan hias di pasar malam.

Hasilnya?

Nah karena sudah panjang banget tulisan saya ini, kita lanjutkan di artikel berikutnya ya. Khusus sharing mengenai hasil yang dicapai dari penerapan konsep penggunaan 3 buah celengan serta perkembangan konsep mengenalkan uang pada anak saya.

Semoga berguna. Terima kasih.

Image: http://www.athoughtfulplaceblog.com/

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: