Unit Link vs Term Life

Unit link vs term life adalah topik hot yang sedang jadi fokus gw saat ini. Jujur aja sampe pertengahan tahun 2009 kemaren gw cuma tau kalo asuransi jiwa yang baik dan lengkap itu cuma berbentuk asuransi unitlink (UL). Thank you banget buat para financial planner yang udah ngebuka mata gw tentang produk-produk asuransi jiwa.

Jenis asuransi jiwa

Sedikit mereview ttg asuransi jiwa, pada dasarnya asuransi ini dibagi atas 3 bagian besar:

Term life (berjangka)

Hanya memberikan perlindungan sesuai dengan jangka waktu yang telah disepakati. Umumnya jangka waktu yang tersedia adalah 1, 5, 10 dan 20 tahun. Produk ini merupakan bentuk asuransi murni, tanpa ada unsur investasi atau pun janji premi kembali.

Konsekuensinya, semua premi yang dibayarkan nasabah akan hangus seiring dengan selesainya kontrak perlindungan. Karena sifat itu maka premi yang harus dibayarkan oleh nasabah pun menjadi kecil.

Endowment (dwiguna)

Mirip dengan termlife (TL), tapi bedanya produk ini menjanjikan pengembalian premi atau pun sejumlah dana pada periode tertentu atau setelah kontrak pertanggungan berakhir. Karena ada janji uang kembali inilah yang membuat premi produk ini menjadi lebih mahal dibanding TL.

Whole life

Sesuai namanya, perlindungan jiwa yang ditawarkan berlaku seumur hidup (biasanya sampai usia 99 or 100 tahun) dengan keuntungan tambahan yaitu peningkatan uang pertanggungan (UP) dan juga adanya nilai tunai yang bisa diambil jika kontrak perlindungan beraklhir di tengah jalan.

Unit link (UL) merupakan varian dari produk ini. Bedanya, UL menjanjikan adanya hasil investasi yang besarnya bervariasi mengikuti pasar keuangan. Tambahan nilai tunai dan hasil investasi inilah yang membuat produk whole life dan UL menjadi produk asuransi jiwa dengan premi yang paling mahal walaupun sekilas terlihat menguntungkan karena premi cukup dibayar dalam jangka waktu tertentu saja.

[SIMAK JUGA: Tulisan terbaru berisi pembahasan untuk menjawab pertanyaan apakah seorang karyawan membutuhkan asuransi kesehatan tambahan, selain yang telah diperoleh dari kantor]

Sekarang pertanyaannya,dari 3 deskripsi di atas, manakah produk asuransi jiwa yang paling bagus?

Jenis asuransi jiwa terbaik

Term life is the best!!

Dari beberapa seminar financial planner yang gw ikutin, juga dari beberapa referensi (Buku Safir Senduk, webnya Mbak Ligwina, diskusi di blog jangan serakah) yang gw baca, semua memilih TERM LIFE sebagai yang terbaik, dengan alasan bahwa produk ini memberikan proteksi maksimal dengan premi yang rendah, apalagi jika dibandingkan dengan UL.

Wajar sih kalo pembandingnya cuma UL, karena ternyata produk inilah yang paling laku dan paling banyak ditawarkan oleh agen asuransi di Indonesia, bahkan ada perusahaan asuransi yang hanya melatih agen nya untuk jadi penjual UL, bukan penjual asuransi jiwa.

Dari gw pribadi, tadinya gw ga percaya dengan pendapat-pendapat para financial planner, karena menurut gw, toh dengan UL tapi premi dialokasikan lebih banyak ke proteksi dibanding investasi, harusnya bisa ngasih proteksi yang maksimal juga.
Oke lah hasil investasi lebih kecil, tapi karena gw emang mo fokus nyari fungsi proteksinya maka ini ngga akan jadi masalah buat gw. Investasi ini juga kan merupakan daya tarik UL juga (kebetulan merupakan senjata agen UL) dimana UL merupakan solusi yang berfungsi sebagai alat perlindungan dan juga alat investasi, sehingga pada umur tertentu seseorang selain memperoleh proteksi juga memperoleh hasil investasi yang besar untuk biaya pensiun dan lain-lain.

Asuransi + investasi

Tapi abis itu gw jadi penasaran juga, dan akhirnya berusaha bikin riset kecil-kecilan ke beberapa perusahaan asuransi besar. Hasilnya: pandangan gw salah. Dengan premi yang jauh lebih murah ternyata gw bisa dapet proteksi yang jauh lebih besar dari TL.
Trus gimana dengan investasinya? TL kan ngga ada hasil investasinya, cuma bikin uang angus doang?! Ternyata dengan menginvestasikan selisih premi UL dan TL, hasil investasi yang gw dapet jauh lebih besar dari UL.

Ilustrasi: asuransi + investasi

Gw langsung kasih contoh deh. Ini gw pake sedikit ilustrasi punya temen gw (umur 29 tahun, smoker), dimana dia baru aja ikutan UL di salah satu perusahaan asuransi asing dengan premi 500 ribu / bulan selama 15 tahun.
Trus iseng-iseng gw minta agen gw di perusahaan asing lain untuk ngebuatin ilustrasi TL dengan semua UP dan raiders nya sama persis atau lebih besar. Ini gw jadiin dasar untuk bikin simulasi perbandingan antara TL dan UL, dari segi pertanggungan maupun hasil investasi.
 
Berikut detail simulasinya:
Di produk UL , dengan premi Rp 500 ribu / bulan (Rp 6 juta / tahun), masa pembayaran premi 15 tahun, pertanggungan yang diperoleh meliputi: (sebenarnya gw punya beberapa ilustrasi UL dari beberapa perusahaan, tapi UL ini gw pilih sebagai bahan simulasi karena dengan premi bulanan Rp 500 rib u, produk UL perusahaan ini memberikan UP yang paling tinggi jika dibandingkan dengan UL sejenis dari perusahaan lain, termasuk dari perusahaan asuransi terbesar di Indonesia saat ini).
  • UP jiwa : Rp 500 juta
  • Penyakit kritis: Rp 500 juta
  • Kecelakaan dan cacat tetap: Rp 300 juta
  • Premium waiver
Sebagai pembanding untuk keperluan simulasi, gw nyoba minta dibikinin TL (kontrak 10 tahun) dari beberapa perusahaan, dengan pertanggungan yang diperoleh dibikin sama persis dengan produk UL di atas, kecuali UP untuk kecelakaan dan cacat tetap dibikin lebih besar (Rp 500 juta).
Untuk investasinya, gw menggunakan asumsi investasi dilakukan di reksadana dengan tingkat return yang sama dengan tingkat return tertinggi yang dijanjikan oleh produk UL pembanding (dalam hal ini 17%).

Hasil simulasi

Hasilnya adalah sbb:
Kira-kira jalan ceritanya kayak gini: jika temen gw, sebutlah si R, menggunakan UL dengan pembayaran premi Rp 500 rb sebulan selama 15 tahun (total premi selama 15 tahun: Rp 90 Juta), maka pada umur 55 tahun (usia pensiun) hasil investasi yang diperoleh si R akan berjumlah Rp 829 juta. Gede? Sekilas sih iya, tapi ntar dulu.
UP jiwa pada usia tsb masih sama yaitu Rp 500 juta. Oiya, jangan menganggap bahwa UP yang meningkat di ilustrasi UL artinya perusahaan asuransi dengan baik hati nambahin UP tiap tahun lho ya. Itu sebenarnya cuma jumlah total yang kita terima kalo meninggal, diperoleh dari penjumlahan UP dan nilai investasi terkahir.
Sebaliknya, dengan produk TL, ternyata si R cukup membayar premi tahunan berkisar antara Rp 2.4 juta s/d Rp 3.3 juta selama 10 tahun atau Rp 202 ribu s/d 270 ribu per bulan (total premi selama 10 tahun: Rp 27.6 juta) untuk mendapatkan perlindungan yang sama.
Dengan asumsi bahwa selisih premi dari UL semuanya dimasukkan ke reksadana (total investasi selama 10 tahun: Rp 32.4 juta), maka pada umur 55 tahun nilai investasi yang akan diperoleh si R akan berjumlah Rp 1.3 Milyar. Luar biasa!! Ini lebih tinggi 52% dibandingkan hasilnya UL, padahal menggunakan asumsi return yang sama. Tambahan lagi, masa pembayaran premi UL adalah 5 tahun lebih panjang dari TL.
Kesimpulannya, untuk memaksimalkan proteksi dan investasi, jelas banget TL lebih baik.

FAQ terkait termlife + investasi

Setelah membaca simulasi di atas, pasti akan timbul banyak pertanyaan, dan karena itu gw coba ngasih jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang paling sering ditanya ttg masalah ini, sbb:

Pake TL bukannya rugi, kan preminya jadi hangus?

Masalah premi jadi hangus sih iya, tapi ngga akan rugi. Bisa diliat di ilustrasi di atas tadi, dengan total pengeluaran yang sama dengan premi di UL, hasil investasi yang kita dapet akan jauh lebih besar. Yang di perlukan disini Cuma disiplin untuk berinvestasi secara rutin dengan.

Kan intinya asuransi itu ditujukan untuk proteksi, kalo investasi mah ada lagi instrumennya.

Kalo UL kan cuma perlu bayar 10 tahun dan abis itu terproteksi seumur hidup, kalo TL kan mesti bayar terus?

Bener banget. Makanya balik lagi ke simulasi, walau pun premi term life harus dibayar setiap tahun, potensi hasil investasinya bisa nutupin biaya-biaya asuransi ini, dan tetap aja masih bisa ngasih return yang lebih tinggi. Bahkan di simulasi si atas, pembayaran premi UL dibikin selama 15 thn.

Kalo dibikin sama-sama 10 tahun kayak TL, makin kecil lagi hasil investasinya. Lagian kalo kita menjalankan perencanaan keluarga yang baik, harusnya kita ngga butuh asuransi seumur hidup, bahkan semakin lama kebutuhan asuransi jiwa kita akan makin berkurang (jelasnya lihat contoh di pertanyaan no 6)

Kalo gitu sama aja dong, dengan UL kan jadi ngga repot, proteksi ada tapi investasi juga ada?!

Istilahnya kalo meminjam kata-kata para agen, ini produk 2in1, asuransi skaligus investasi, hehehe. Ada benernya juga sih, tapi kalo meminjam ilustrasi Mbak Ligwina, UL itu ibarat handphone berkamera dan ber-mp3 player. Secara kemasan sih oke dan lengkap banget, tapi hasil foto HP tersebut pasti ngga akan sebagus hasil di kamera digital. Suara music pun ngga akan sejernih iPod.

So, intinya terletak pada maksimalisasi hasil, dimana proteksi dan hasil investasi hanya akan maksimal jika menggunakan instrument yang memang didesain khusus hanya untuk proteksi atau investasi saja. Memang bener jadi ada sedikit effort tambahan yang harus dikeluarkan, tapi sangat sebanding dengan hasilnya

Tapi kan dengan TL (dari simulasi di atas) artinya proteksi hanya berlaku sampe 10 tahun saja, sedangkan UL bisa seumur hidup?

Betul sekali. Dengan TL artinya kita mesti membeli polis baru lagi, medical checkup lagi, dan preminya pun akan naik 2 kali lipat dari sebelumnya. Tapi itu ngga masalah.

Kenapa? Pertama, jika melihat selisih return di usia 55, artinya dari usia 39 sampe dengan 55 si R memiliki budget asuransi sebesar Rp 21.68 juta per tahun (Rp 1.8 juta / bulan) dan pada usia 55 tahun si R akan memperoleh hasi linvestasi yang sama persis dengan hasil investasi UL.

Kedua, Seiring dengan berjalannya waktu, dengan sendirinya nilai investasi kita yang lain (baik itu dengan investasi dana pensiun atau pun lainnya) akan semakin bertambah (kembali ke pembahasan kita tentang menghitung UP di topic sebelumnya), maka dengan sendirinya kebutuhan UP kita akan menjadi berkurang.

Beban tabungan pendidikan anak (akan kita diskusikan lebih jauh di topic selanjutnya) pun akan semakin berkurang dimana dalam 10 tahun harusnya anak kita udah duduk di bangku SD. Implikasinya, kebutuhan premi kita pun ngga akan naik terlalu tinggi, dan yang paling penting, masih terus dapat ditutupi oleh hasil investasi

Trus setelah umur 55 tahun, apa yang mesti dilakuin? Kan udah susah nyari asuransi jiwa yang juga mo meng-cover kesehatan?

Saran gw, untuk contoh kasus si R, pada umur 39 tahun nanti, dia bisa ngambil TL lagi tapi focus hanya ke jiwa saja (plus wiver), mungkin dengan tambahan raider cacat tetap, dengan term langsung 20 tahun.

Untuk kesehatan, ambillah asuransi kesehatan terpisah, dimana ini nantinya bisa terus diperpanjang sampai berumur di atas 65 tahun dengan premi yang sangat terjangkau dan proteksi maksimal.

Jika memang concern utama adalah masalah kesehatan, maka ini bisa jadi solusi yang baik. Toh di UL pun yang dicover seumur hidup adalah perlindungan jiwa saja, sedangkan kesehatan juga dibatasi sampe dengan usia 65 tahun.

Berarti di usia 60 tahun, jiwa nya udah ngga tercover lagi dong? Lagian mana ada asuransi jiwa yang mau meng-cover orang berusia 60 tahun dengan proteksi maksimal?

Pernyataan ini bener banget, karena setelah berumur 60 tahun, premi untuk jiwa udah jadi mahal banget. Tapi balik lagi ke perencanaan keuangan secara keseluruhan. Kali ini gw ambil contoh diri gw sendiri. Saat ini usia gw 30 tahun, 1 bulan lagi akan punya baby, dan memiliki investasi dana pensiun rutin dengan target pada saat pensiun gw akan punya uang sekian milyar sebagai biaya gw pensiun.

Jika pada usia 60 tahun gw meninggal, istri gw akan tetep survive karena uang pensiun gw harusnya sudah terkumpul sesuai target. Malah harusnya bisa jadi janda kaya tuh, hehehe. Anak gw pun harusnya udah berumur 30 tahun, udah dalam tahap karir yang sama kaya gw sekarang, dimana udah tidak lagi tergantung ama orang tua.

Utang? Harusnya dah ga punya juga. So, masih butuh asuransi jiwa? Hmmm, kesehatan aja kali yah…

Tapi kan term life beresiko, gimana kalo ternyata pas mo perpanjangan asuransi trus tau-tau kita terdeteksi punya bibit penyakit kritis?

Betul, so far sih ini emang resiko TL yang gw juga blom tau gimana ngatasinnya. Tapi yang jelas, kalo emang kondisinya kaya gitu, paling pada saat perpanjangan akan ada penyakit tertentu yang ngga dicover oleh rider penyakit kritis, atau pun akan ada kenaikan premi.

Lagian ini kan, kalo kita mau ngambil TL 10 tahun trus diperpanjang lagi untuk 20 tahun, artinya selama 30 tahun ke depan risiko ini hanya akan kita hadapi 1x doang yaitu di tahun ke 10. Yah, kalo gw sih mendingan jaga kesehatan dengan baik dan percaya bahwa 10 tahun mendatang gw akan tetap bugar.

Toh umur 40 juga masih tergolong muda, temen-temen kantor gw yang above 40 juga masih pada kuat-kuat maen bolanya.

Kalo udah terlanjur ikutan UL kan sayang kalo mesti berhenti di tengah jalan? Gimana kalo nunggu kembali modal aja dulu?

Kalo pengalaman gw pribadi sih, UL gw langsung gw stop padahal udah berjalan nyaris 4 tahun. Nunggu balik modal mah lama, menurut ilustrasi mah minimal 10 tahun. Itu cuma balik modal doang lagi, blom untung. Apalagi jelas-jelas UP gw di UL jauh dari cukup, so ngapain gw bela-belain bayar sesuatu yang ngga sesuai dengan gw lagi.

Nyeseknya lagi gw mesti bayar premi selama 6 tahun tapi gw tau kalo ada alternatif lain yang lebih nguntungin. Kalo mo dibilang rugi, emang sih rugi karena premi gw yang 4 tahun baru balik 40%, tapi toh gw dah dicover selama 4 tahun ini, so 60% itu gw anggap sebagai costnya. Orang gw asuransi mobil aja ngga sayang preminya angus, knapa untuk proteksi jiwa mesti perhitungan?!

Akhir kata

Akhir kata, asuransi jiwa jenis termlife memang memberikan keuntungan yang lebih baik dibanding jenis,lainnya. Namun karena produk ini merupakan produk pure insurance, maka untuk memperoleh proteksi dan hasil investasi maksimum dibutuhkan effort lebih dan kedisiplinan untuk terus berinvestasi secara rutin.
Jangan lupa, maksud penggunaan term life sebenarnya kan dimaksudkan untuk menambah dana investasi rutin. Konsekuensinya tiap bulan kita harus meluangkan waktu untuk berinvestasi.
Sebaliknya, Jika temen-temen termasuk orang yang tidak mau terlalu repot dan takut ngga bisa disiplin dalam berinvestasi, maka unitlink bisa menjadi pilihan. Tinggal dibikin pertimbangannya aja dengan baik.
So, selamat menimbang-nimbang.

43 Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: