Mengatur Keuangan di Masa New Normal

Banyak orang yang bertanya, apa tip untuk membuat perencanaan keuangan di masa new normal?

Sayangnya, jawaban untuk pertanyaan ini adalah: enggak ada.

Loh, kok gitu?

Tenang, bukan karena pelit berbagi ilmu, tetapi yang namanya perencanaan keuangan itu nggak mengenal normal – new normal.

Loh, kok gitu?

Mari kita lihat pada definisi “new normal” itu sendiri.

Makna Kondisi New Normal

Mengatur Keuangan di Masa New Normal

New normal berarti adalah kebiasaan baru yang harus kita jalani, menyesuaikan kondisi saat ini yang telah terpengaruh oleh pandemi COVID-19 atas bawah, depan belakang, kiri kanan, luar dalam. Betul nggak?

So, perencanaan keuangan yang harus kita miliki bukanlah perencanaan keuangan “baru”, melainkan perencanaan keuangan yang disesuaikan dengan kondisi terbaru.

Kondisi terbaru seperti apa? Di antaranya:

  • Penyesuaian karena penghasilan yang berubah; kalau ada pengurangan karena satu dan lain hal, atau masih harus menjalani work from home hingga sekarang.
  • Penyesuaian terhadap pengeluaran; karena pasti juga akan berubah, lantaran beberapa pos sudah enggak ada lagi, tapi digantikan oleh pos yang lain. Misalnya, sekarang menghindari naik kendaraan umum massal, tapi jadi lebih banyak pakai taksi online yang lebih aman dari segi jaga jaraknya.
  • Pos kesehatan yang harus ditambah
  • Dan lainnya, disesuaikan dengan kondisi masing-masing

Yang pasti, karena ada perubahan di sana sini, yang berimbas pada keuangan, maka perlu untuk kembali mencatat secara harian, agar ketemu polanya lagi. Kalau sebelumnya, mungkin kita pakai proporsi 50 – 30 – 20, bisa jadi sekarang harus 60 – 30 – 10 saja dulu. Atau malah 70 – 30.
Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyesuaikan perencanaan keuangan selama new normal

Perencanaan Keuangan New Normal

1. Review

Untuk bisa melakukan penyesuaian di sana sini, sudah pasti kita harus melakukan review perencanaan keuangan yang ada lebih dahulu.

So, ini dia beberapa pertanyaan yang bisa kamu jawab, terkait penyesuaian rencana keuanganmu:

  • Berapa total penghasilanmu sekarang? Bagaimana posisinya dibandingkan sebelumnya? Masih tetap sama, atau berkurang, atau malah bertambah?
  • Berapa rata-rata pengeluaranmu setiap bulan? Berapa rasionya dibandingkan dengan penghasilan? Apakah masih di bawah batas aman, atau sudah melebihi aman alias besar pasak daripada tiang?
  • Cek pos pengeluaran, apakah ada yang bisa dipangkas agar lebih efisien lagi pengeluarannya?

Jika kamu belum (pernah) punya rencana keuangan, segera buat deh. Sekarang, sudah enggak ada alasan lagi buat menunda bikin perencanaan keuangan. Kita enggak pernah tahu kapan kondisi krisis ekonomi ini akan berakhir. Kalau kamu sudah merasakan “imbas” ekonomi akibat krisis dan resesi ini sekarang, seharusnya sih ini sudah membuatmu sadar betapa pentingnya perencanaan keuangan yang komprehensif itu.

2. Cek dana darurat

Keberadaan dana darurat sudah tak lagi bisa diremehkan. Barangkali buat sebagian orang, hal ini merupakan pelajaran terbesar yang bisa didapatkan dari tahun 2020. Akibat tidak adanya dana darurat, banyak orang kalang kabut ketika mengalami penurunan penghasilan, bahkan ada juga yang kehilangan mata pencaharian.

So, jangan mengulangi kesalahan yang sama. Jika sudah memungkinkan, segeralah untuk membangun dana daruratmu sekarang juga. Mumpung kita masih di awal masa new normal.

Penuhi besaran ideal dana darurat, yaitu berkisar antara 6 hingga 12 bulan pengeluaran. Kalau kondisi normal mungkin denagn 3 bulan pengeluaran saja, dana darurat sudah cukup aman. Tapi di kondisi seperti sekarang, kamu harus siap lebih banyak.

3. Cek asuransi

Apakah premi asuransi masih aman dibayar secara teratur? Asuransi apa saja yang sudah kamu miliki? Apakah sudah punya dua asuransi utama, yaitu asuransi kesehatan dan asuransi jiwa?

Jika ada yang belum memiliki kedua asuransi utama di atas—terutama jika kamu adalah tulang punggung keluarga—maka segeralah untuk survei dan beli polis asuransi yang sesuai dengan kebutuhan.

Sekali lagi, sesuaikan dengan kebutuhan ya. Jangan asal beli asuransi, apalagi kalau ada iming-iming yang enggak pasti atau malah memperbesar risiko keuangan yang seharusnya nggak perlu.

Satu lagi yang harus dicek. Tak hanya diri sendiri, cek juga asuransi untuk keluarga, terutama asuransi kesehatan. Apakah sudah semua ter-cover?

4. Tetap menabung dan investasi

Teruskan menabung dan investasi, jika dalam perencanaan keuangan sebelumnya, dua hal ini sudah dapat kamu lakukan secara teratur. Jika belum, segera buat rencana menabung dan investasi secara konsisten. Mulailah dari 10% dari penghasilanmu. Nantinya, kamu bisa menambah jika penghasilanmu sudah stabil atau mengalami peningkatan.

Mau investasi di mana? Lagi-lagi sesuaikan dengan tujuanmu berinvestasi, kebutuhanmu, seberapa besar kamu bisa menoleransi risiko yang datang bersama imbal investasi, dan kemampuanmu.

Jangan memaksakan diri. Belajar investasi yang bener, jangan cuma ikut-ikutan kata orang, apalagi nurut endorse influencer.

5. Pelajari skill baru

Di masa new normal ini, cobalah untuk mempelajari skill baru yang menyenangkan. Pilih saja dari sekian banyak hal yang menarik, yang sesuai dengan minat atau hobimu. Kalau memang sebelumnya sudah suka, kamu bisa memperdalam lagi.

Ini namanya investasi leher ke atas.

Suatu kali nanti, kamu akan bisa memanfaatkannya dan akan memberikan nilai tambah untuk dirimu sendiri.

Nah, demikianlah beberapa hal terkait perencanaan keuangan di masa new normal.

Sama saja kan, dengan perencanaan keuangan di masa normal? Sama, hanya saja memang ada yang disesuaikan dengan perubahan dan kondisi terbaru.

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang adaptif, so, mari berharap kita semua bisa melalui krisis ini dengan baik.

Semangat!

Leave a Reply