Ini Alasan Pentingnya Pengenalan Uang Sejak Usia Dini

Yes, pengenalan uang sejak usia dini adalah hal yang beberapa waktu belakangan ini menjadi concern saya dan istri. Kita sadar sih bahwa anak kami yang sudah mau masuk SD (awal tahun 2016) harus mulai diajarkan tentang uang. Tapi pendidikan keuangan untuk anak ini jujur menjadi susah-susah gampang untuk dipraktekin. Tidak segampang yang dibaca di artikel-artikel, hehehe…

Maksudnya kita sih selalu berusaha mempraktekkan pengenalan uang pada anak ini, tapi belum mengikuti sebuah proses yang konsisten dan disiplin. Selain itu juga karena kami mengganggap anak kami belum cukup siap untuk sepenuhnya dikenalkan pada konsep uang.

Baru 2 bulan terakhir ini, saat anak kami mulai terlihat bisa memahami konsep uang dan fungsinya, kami mulai benar-benar mencoba menerapkan konsep mendidik anak tentang uang yang kami anggap paling bisa diaplikasikan di keluarga kami.

Nanti saya share tentang hasil aplikasi konsep keuangan pada anak ini di artikel-artikel lanjutan yah. Sekarang saya mau sharing dulu tentang mengapa kami semakin terpacu untuk memulai mengenalkan uang pada anak kami.

Pengenalan uang sejak usia dini

Ada sebuah penelitian menarik yang dapat meningkatkan pemahaman mengenai mengapa pendidikan keuangan sejak usia dini mutlak diperlukan. Penelitian ini dilakukan oleh Dr. David Whitebread dan Dr. Sue Bingham dari University of Cambridge yang berjudul “habit formation and learning in young children”.

Hasil penelitian ini sangat menarik buat saya. Memang ada beberapa hal yang terlalu “psikologis”, namun ada beberapa hal yang menarik banget buat saya dan memicu percepatan penerapan pendidikan keuangan untuk anak di rumah saya.

Siapa yang mempengaruhi perkembangan behaviour anak?

Sebelumnya yang harus diperhatikan adalah bagaimana proses belajar secara umum terjadi pada anak, seperti gambar di bawah ini:

Source: The Money Advice Service

Source: The Money Advice Service

Bukan sesuatu yang aneh jika sampai pada kesimpulan bahwa tahap belajar pada anak dipengaruhi oleh lingkungan terdekat yang sering melakukan interaksi dengan dirinya.

So pada dasarnya ada beberapa hal yang mempengaruhi perkembangan behaviour seorang anak:

#1 Parenting style

Source: The Money Advice Service

Source: The Money Advice Service

Jelas lah ya, namanya orangtua tentunya memiliki peranan yang paling besar dalam membentuk karakter seorang anak. Bagan di atas adalah Dimensions of parental responsiveness and ‘demandingness’ (Baumrind, 1971) yang menjelaskan tentang beberapa tipe pengasuhan orang tua yang pada akhirnya akan memberikan hasil didikan yang berbeda.

Tipe Authoritative katanya terbukti menghasilkan anak-anak dengan hasil akademik yang bagus, memiliki fungsi kognitif, emosi dan tingkat stress yang lebih baik dibanding parenting style lainnya. Parenting style seperti ini juga yang dibutuhkan untuk memulai pendidikan tentang uang pada anak.

#2 Teacher dan peer

Ini jelas lah ya, apalagi memasuki usia sekolah pra SD (3-5 tahun). Pengaruh guru dan teman-teman di sekolah memiliki peranan penting dalam membentuk karakter anak.

Hal yang penting sih, tapi bukan sesuatu yang menarik perhatian saya di pembahasan ini. So ini sekedar info aja ya, hehehe…

#3 Media & advertising influences

Nah ini yang paling menarik buat saya. Kenapa? Karena saat ini anak-anak kita besar di dunia yang benar-benar berbeda dengan dunia saat kita dibesarkan dahulu. Di saat dulu aktivitas bermain dilakukan di luar ruangan, maka saat ini kontak dengan dunia digital di dalam ruangan menjadi hal biasa bagi anak-anak.

Televisi, gadget dan berbagai alat elektronik lain menjadi lingkungan yang normal untuk mereka. Saya yakin pasti sudah banyak banget pembahasan tentang efek TV dan gadget terhadap anak lah ya. Cuma satu hal yang perlu saya garisbawahi: eksposur iklan pada anak melalui alat-alat digital tersebut.

Yes, jangankan saat nonton TV ataupun Youtube, saat bermain games di HP pun banyak banget iklan berseliweran.

Menurut penelitian Pine & Nash (2002), ada beberapa keterkaitan antara iklan dengan perilaku anak dari pendekatan keuangan:

  • Jumlah iklan yang ditonton oleh seorang anak berbanding lurus dengan mainan yang dia beli. Memang “menonton” film atau iklan tidak secara langsung berdampak pada pembelian produk di iklan tersebut oleh si anak, namun secara umum meningkatkan keinginan anak untuk membeli sesuatu.
  • Sekitar 75% dari produk anak yang dibeli oleh orang tua / anak adalah produk yang dilihat oleh anak di iklan atau media.

Akibatnya?

Children who are exposed to many adverts are thus educated about a particular lifestyle and they learn certain attitudes related to the role or importance of money, what products are needed, how they are to be used and how products are supposed to make them feel. Seen thus, materialism can be defined as the view that products and their acquisition are the basis for determining one’s personal worth (The Money Advice Service)

Jadi jelaslah pendidikan tentang uang untuk anak menjadi penting agar bisa menanamkan kebiasaan yang positif dalam mengelola uang nantinya.

Cara membangkitkan kebiasaan positif pada anak

Masih menurut The Money Advice Service, selain peran dari guru, peran dari orang tua menjadi jalur pertama dan terbaik untuk dapat mulai menanamkan kebiasaan positif pada anak tentang penggunaan uang. Bagaimana caranya?

Cara terbaik adalah dengan melibatkan aspek sosialisasi dan emosional dari anak. Contoh gampang: saat memberi uang saku pertama pada anak. Saat itu tentunya anak membutuhkan bimbingan dari orang tuanya. So dengan bimbingan yang tepat, maka anak akan memiliki motivasi sosial dan emosional dalam belajar dan berinteraksi dengan suatu kebiasaan yang positif.

Kesenangan dalam melakukan sesuatu dengan orang tua, kebiasaan berbelanja mingguan atau perasaan menjadi “dewasa” saat ikut bertransaksi di bank memberikan kesan yang mendalam dan menjadi sebuah motivasi bagi anak untuk mengembangkan kebiasaan positif tentang uang.

Children develop financial and economic understanding when they have ‘‘personal economic experiences’’ (Schug and Birkey, 1985)

[Baca juga: detail tentang proses memperkenalkan dan mengajarkan arti uang pada anak di Cerita Mengenalkan Uang Pada Anak]

Kapan sebaiknya mulai mengenalkan konsep uang kepada anak?

Konsep uang bisa dikenalkan kepada anak secara bertahap, dimulai saat anak sudah bisa memahami angka dan berhitung. Namun kebiasaan positif tentang uang umumnya mulai bisa terbentuk saat anak berusia 7 tahun.

Kenapa? Karena pada usia ini (antara 6-7 tahun) anak-anak telah memahami beberapa konsep dasar tentang uang: counting dan conservation.

Counting

Untuk memahami tentang uang maka anak tidak hanya harus memiliki kemampuan menghafal angka , namun juga memahami penjumlahan dan pengurangan sederhana serta perbandingan antara besar kecil dari kumpulan angka.

Conservation

Nah ini yang mulai susah, karena pada konsep ini anak diharapkan memahami bahwa nilai dari uang tidak tergantung pada besar kecilnya fisik uang. Anak di usia kurang dari 6-7 tahun umumnya memilih uang berdasarkan bentuk yang menarik, bukan dari nilainya. Yaiyalah, masih kecil gitu lho, hehehe…

Nah untuk mendukung konsep conservation ini, ada 2 konsep yang juga harus dipahami oleh anak:

#1 Concepts of exchange and equivalence

Pada saat anak berusia 3-4 tahun, anak sudah mengetahui bahwa mereka membutuhkan uang untuk memperoleh sesuatu barang namun belum memahami bahwa mereka harus melakukan pembayaran terlebih dahulu. Yes, anak saya pada usia segitu selalu main ambil barang dan ngeloyor pergi keluar toko, hehehe…

Pada usia 4-5 tahun, umumnya anak sudah memahami bahwa mereka harus membayar untuk memperoleh sesuatu, namun masih belum mengerti mengenai perbedaan nilai dari lembaran uang. Saat usia 5-6 tahun biasanya anak sudah mulai mengerti bahwa terkadang uang yang dibawa tidak mencukupi untuk membeli sesuatu.

Barulah di usia 6-7 tahun seorang anak sudah mulai mengerti mengenai nilai uang dan harga barang, serta memahami bahwa dia akan menerima uang kembalian jika nominal uang yang dibawa melebihi harga barang yang dibeli.

#2 Concepts of ‘earning’ and ‘income’

Pemberian uang saku bisa dipahami sebagai “income” saat anak mulai menginjak usia 6-7 tahun, karena pada usia lebih muda maka anak hanya memahami uang saku sebagai hadiah dan bukan sesuatu yang bisa “dikelola” lebih lanjut. Dikelola ini dalam arti ada bagian yang bisa dibuat jajan dan ada bagian yang bisa disimpan untuk tujuan lain.

Pemberian pekerjaan kecil yang berbayar juga bisa mengajarkan tentang konsep memperoleh “gaji” pada anak, dan ini pun umumnya hanya bisa mulai dipahami oleh anak pada usia 6-7 tahun. Selektif juga dalam memberikan pekerjaan dengan kategori berbayar, jangan diterapkan pada semua kegiatan yang memang sebenarnya sudah menjadi kewajiban (misal: merapikan kamar, mandi sendiri, dll).

Satu tambahan, window shopping juga ternyata bisa menjadi pelajaran mengenai apa yang saat ini bisa dibeli dan tidak bisa dibeli, dan ujungnya menanamkan konsep menabung pada anak. Ini pun hanya bisa dilakukan pada anak berusia 6-7 tahun, karena jika lebih muda dari itu maka sudah pasti ujungnya adalah si anak nangis-nangis di depan toko, hehehe…

[Baca juga: Tips memberikan uang saku anak]

Akhir kata

Jadi dengan berdasarkan studi di atas, saya memutuskan untuk mulai menerapkan pendidikan keuangan pada anak saya dengan lebih serius. Kebetulan dia baru masuk SD, usia menjelang 7, dan sudah memahami dengan baik konsep counting dan conservation.

Caranya gimana dan gimana hasilnya? Saya bahas di tulisan berikutnya. Pokoknya teori mengenai pengenalan uang pada anak sejak dini ini akan langsung dibuktikan secara konkrit, ngga cuma nulis doang, hehehe…

Akhir kata, pendidikan tentang uang pada anak perlu ditanamkan sedini mungkin, saat anak sudah mulai mengerti mengenai konsep-konsep dasar mengenai keuangan. Kita sebagai orang tua adalah panutan utama, so pastikan kita juga memiliki kebiasaan keuangan yang baik.

Approaches, practices and skills which are modelled, discussed and demonstrated by parents and other significant adults, are most likely to be influential ‘levers’, supporting the development of efficient habits and practices (The Money Advice Service)

Semoga berguna.

[Simak juga hasil praktek penerapan cara mengajarkan uang pada anak di Review Bulan I Mengenalkan Uang Pada Anak]

Image: http://claratii.com

2 Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: