Cara Menabung Saham: Penjelasan dan Simulasi

Pernah dengar kan program dari Bursa Efek Indonesia (BEI) tentang Yuk Nabung Saham? Ini konsep yang sangat menarik lho, dan ditujukan untuk nasabah-nasabah retail yang bahkan masih awam terhadap pasar modal.

Saya jadi tertarik membahas topik ini setelah ikut serta dalam acara Financial Planning for Runner yang disampaikan oleh Pak Nicky Hogan, Direktur Pengembangan BEI. Selain materi yang berhubungan dengan lari, juga ada paparan singkat mengenai investasi saham dan skema Yuk Nabung Saham yang sangat membuka wawasan mengenai investasi.

Tapi sebelum kita bicara lebih jauh tentang gerakan investasi saham bernama Yuk Nabung Saham ini, simak dulu tulisan tentang beberapa hal dalam investasi saham yang penting untuk diperhatikan terlebih dahulu. Biar jelas kenapa sih kita perlu investasi melalui cara seperti menabung saham.

Sekilas Update Bursa Efek Indonesia (BEI)

Per Januari 2017, total ada 535 perusahaan yang telah tercatat di BEI. Dengan kata lain, ada sebanyak 535 perusahaan yang bisa menjadi pilihan kita untuk menginvestasikan uang dalam bentuk kepemilikan saham.

Hampir semua perusahaan besar di Indonesia telah tercatat sebagai perusahaan terbuka di BEI. Hampir semua perusahaan ini adalah perusahaan yang memproduksi atau menawarkan jasa yang sehari-hari kita gunakan.

Saat ini nilai kapitalisasi (nilai keseluruhan) saham yang diperdagangkan di BEI berjumlah Rp 5,749 triliun (Red: Lima ribu tujuh ratus empat puluh sembilan triliun Rupiah. Wow…), dengan nilai transaksi rata-rata per hari di level Rp 5.68 triliun.

Ada 114 anggota bursa (perusahaan sekuritas) yang terdaftar di BEI, dimana transaksi saham dari masyarakat bisa dilakukan melalui perantaraan mereka.

Kinerja IHSG 10 Tahun Terakhir

Data yang digunakan adalah dari Desember 2006 sampai dengan Januari 2017, dimana fluktuasinya bisa tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan / IHSG di bawah ini.

Bisa dilihat kan jika investasi saham adalah investasi yang menarik karena menawarkan kesempatan untuk memperoleh keuntungan tinggi, sekaligus memiliki resiko yang sepadan karena bisa turun cukup dalam pada waktu-waktu tertentu.

Namun harus diperhatikan, bahwasannya walaupun terjadi beberapa kali penurunan dalam jangka pendek, trend yang terjadi selama 10 tahun terakhir ini tetap menunjukkan pola peningkatan. Artinya apa? Saham adalah investasi jangka panjang dan tidak cocok dijadikan alat untuk mencapai tujuan jangkan pendek.

So, lupakan pembahasan mengenai trading saham dulu ya. Itu butuh keahlian dan pengetahuan berbeda. Kali ini kita hanya akan membahas saham secara murni sebagai sebuah instrumen investasi.

Untung Rugi Investasi Saham

Jangan salah, walaupun saham adalah investasi jangka panjang, namun bukan berarti semua saham menjanjikan trend yang sama dari segi keuntungan. Analisa dan pemilihan saham tetap penting dalam menentukan pada saham mana uang kita akan diinvestasikan.

Investasi saham ini kan ceritanya kita akan menjadi pemilik dari suatu usaha. Namanya juga usaha, ada yang untung dan ada yang rugi. Ada yang untung gede, ada yang untung seadanya atau malah cuma impas saja. Masalah untung/rugi ini juga kadang disebabkan oleh hal-hal diluar kuasa kita seperti keadaan ekonomi atau bahkan info negatif tentang usah kita.

Nah investasi saham ini kira-kira sejalan dengan cerita usaha ini. Naik turunnya harga saham mengikuti kinerja perusahaan dan keadaan ekonomi, serta juga sentimen atau rumor yang ada di pasar modal.

Kinerja Saham 1o Tahun Terakhir

Di atas adalah infografis mengenai kinerja semua saham yang per Desember 2016 tercatat di BEI. Sekedar keterangan, secara gampang CAGR (compound annual growth rate) adalah cara menghitung imbal hasil dengan memperhitungkan bunga berbunga. CAGR ini dianggap paling tepat untuk menghitung imbal hasil suatu investasi dalam periode tertentu.

Mari kita perhatikan infografisnya, penting banget nih informasinya. Dalam 10 tahun terakhir, dari 537 saham yang ada, ternyata tidak semuanya mengalami kenaikan. Ada 175 saham, atau sekitar 1/3 dari total saham yang ada, mengalami penurunan. Artinya rugi dong?! Ya gitu deh. Sisa 364 saham, atau 2/3 dari total saham yang tercatat, mengalami peningkatan alias berhasil mencetak keuntungan.

Secara rata-rata 10 tahun terakhir, pasar saham (yang tercermin dari IHSG), menghasilkan pertumbuhan sebesar 11.4% per tahun. Lumayan banget, jauh diatas inflasi dan bunga deposito pada periode yang sama.

Tapi itu rata-rata pertumbuhan ya, karena pada kenyataanya ada saham yang tumbuh dengan kencang dan dan ada yang malah nyungsep. Detailnya bisa terbaca di infografis di atas.

  • Dari 364 saham yang mengalami kenaikan, 228 saham diantaranya mencatatkan pertumbuhan rata-rata diatas 6% per tahun. Sisa 136 saham lagi mencatatkan pertumbuhan per tahun lebih rendah. Artinya? Ada 42.3% dari saham di BEI yang bisa memberikan return per tahun lebih baik dari deposito.
  • Jika standar pertumbuhan atau return dinaikkan ke 10%, masih ada 160 saham (29.7%) yang berhasil masuk di level ini. Dan seterusnya bisa dilihat di infografis.
  • Yang paling dahsyat, ada 33 saham, atau 6.1% dari total saham yang ada, ternyata mampu menghasilkan pertumbuhan lebih dari 40% per tahun. Wow…

Apa yang bisa kita pelajari dari gambar di atas? Investasi saham memiliki resiko yang cukup besar, sehingga sikap hati-hati dan teliti mutlak dibutuhkan dalam pemilihan saham. Yang penting nasib saham pilihan tidak masuk dalam golongan 1/3 yang mengalami penurunan, sukur-sukur termasuk dalam golongan saham dengan pertumbuhan >40% per tahun, hehehe…

Pilih Saham Anggota LQ45

Pe-er juga emang kalau harus nyari sendiri dan memilih satu-satu saham dari total 537 saham yang tercatat. Biar ngga susah, coba cek daftar saham yang termasuk dalam LQ45 deh. Ini adalah daftar saham yang terdiri dari 45 saham terlikuid dan berkapitalisasi besar di BEI. Daftar ini diupdate setiap 6 bulan sekali (Februari dan Agustus).

Sebagian besar saham dalam LQ45 adalah saham perusahaan dengan produk-prduk yang umumnya sudah dikenal dengan baik oleh masyarakat. Jadi minimal kita bisa terhindar dari istilah membeli kucing dalam karung.

Perbandingan Investasi Saham

Nah sekarang kita bermain simulasi sedikit nih, dengan menggunakan real data dari beberapa aset investasi (termasuk saham) selama 10 tahun terakhir.

Oke, data pertama yang paling penting, inflasi rata-rata selama 10 tahun terakhir ada di 5.66%. Inflasi inilah target yang harus kita kalahkan pada saat melakukan investasi.

Data kedua yang harus dipahami juga adalah: rata-rata bunga tabungan dan deposito (bunga setelah pajak: 5.52%) dalam 10 tahun terakhir belum mampu mengalahkan inflasi. Artinya untuk tujuan jangka panjang, kedua instrumen ini bukanlah pilihan yang tepat.

[Baca juga: Bagaimana deposito bisa mengalahkan inflasi untuk tujuan jangka pendek dalam Deposito vs Inflasi]

Emas masih lumayan, tipis mengalahkan inflasi. Namun perlu diperhatikan, itu terjadi karena adanya peningkatan harga secara signifikan pada periode 2009-2012 lalu. Hanya obligasi negara dan saham yang secara rata-rata bisa memberikan imbal hasil yang cukup signifikan mengalahkan inflasi.

Dari contoh di atas, jika 10 tahun yang lalu kita membeli saham dengan uang Rp 100.000, berapa hasil pengembangannya pada saat ini? Dengan investasi saham maka uang itu akan berkembang menjadi Rp 293.190, atau hampir tiga kali lipat dari nilai awal. Pencapaian tertinggi dibanding instrumen investasi lainnya.

Ini baru perbandingan dengan menggunakan IHSG sebagai dasar perhitungan ya. Gimana coba kalau menggunakan saham-saham yang masuk level 40% tadi?! Uang Rp 100.000 kita akan berkembang menjadi Rp 2.9juta, bertumbuh 29x lipat. Wuiiih…

Simulasi: Yuk Nabung Saham

Nah sekarang gimana skema dan hitung-hitungannya kalau mau investasi saham ala yuk nabung saham? Ya simpel aja, cukup alokasikan sejumlah uang secara tetap secara rutin, misalnya per bulan.

Bagi yang sudah terbiasa menabung rutin atau melakukan investasi rutin reksadana, ini mah hal gampang. Beda instrumen saja.

Biasanya menabung rutin di tabungan, atau rutin beli reksadana atau logam mulia, sekarang rutinnya beli saham. Lebih keren judulnya, hehehe…

Sumber: klcbs.net

Coba kita main sedikit simulasi ya. Berbeda dengan simulasi yang sebelumnya, kali ini kita menghitung hasil investasi dimana sekarang strateginya adalah dengan “menabung” dengan nominal tertentu secara rutin setiap bulannya. Tentunya dengan menggunakan data historis asli pergerakan harga saham yang digunakan.

Asumsinya, kita menabung secara rutin setiap bulannya sebesar Rp 500 ribu. Maksudnya menabung disini adalah kita melakukan pembelian saham tertentu secara rutin setiap bulannya.

Lah kan harga sahamnya berbeda setiap bulan, emang cukup duit Rp 500 ribu? Tenang aja, tanpa program autodebet pun bisa dijalankan.

Saat membuka akun saham di sekuritas, kita akan memiliki rekening khusus yang biasa disebut Rekening Dana Investor. Nah setiap bulan kita transfer uang Rp 500 ribu ke rekening RDI tersebut, dan dari situ baru dibelikan saham.

Jadi kalau ada sisa uang setelah pembelian saham, biarkan saja mengendap dulu. Nanti jika saat pembelian berikutnya harga saham sedang tinggi dan Rp 500 ribu menjadi kurang, tinggal menggunakan saldo mengendap sebagai tambahan.

#1 Menabung Saham Unilever (UNVR)

Dengan membeli saham UNVR secara rutin sebesar Rp 500 ribu per bulan selama 11 tahun (total Rp 66 juta), maka pada akhir tahun 2016 uang kita akan berkembang menjadi Rp 341 juta.

Ini sudah meliputi investasi saham pada saat harga UNVR sedang berfluktuasi. Ada yang dibeli di harga rendah dan ada juga yang dibeli pada harga tinggi.

Hasil yang diperoleh hampir 3.5x lipat lebih banyak dibandingkan investasi rutin pada deposito dengan tingkat bunga 6%. Ini juga dengan asumsi penempatan deposito bisa dilakukan dengan nominal hanya Rp 500 ribu, plus belum memperhitungkan pajak sebesar 20%

#2 Menabung Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI)

Bagaimana dengan BBRI? Apa yang terjadi jika selama 11 tahun terakhir kita berinvestasi saham BBRI secara rutin sebesar Rp 500 ribu setiap bulannya?

Hasil yang akan diperoleh adalah sebesar Rp 294 juta. Sedikit lebih rendah daripada hasil investasi saham rutin pada UNVR, namun tetap jauh lebih besar dibandingkan hasil investasi di deposito.

Sama seperti UNVR, saham BBRI juga adalah saham langganan LQ45 yang seharusnya lebih memberikan rasa aman pada investornya.

Poin penting: Resiko

Yang harus tetap diperhatikan adalah faktor resiko investasi. Walaupun kedua saham ini memberikan imbal hasil yang sangat memuaskan, namun tetap harus diingat bahwa investasi ini dijalankan selama 11 tahun. Jangka waktu yang lumayan panjang.

Perhatikan grafik yang terkadang menukik dengan tajam. Apa artinya? Dalam jangka pendek saham adalah instrumen yang memiliki risiko tinggi. Jadi pemahaman akan saham itu sendiri dan tujuan investasi menjadi hal yang sangat krusial untuk menjaga agar jantung kita tetap sehat saat pasar saham sedang bergejolak.

Jangan terpancing beli saham hanya dengan pertimbangan harga

Resiko lain terkait ke masalah besaran investasi / tabungan rutin ini sendiri. Karena semua saham memiliki harga masing-masing dan pembelian di BEI paling sedikit 1 lot (100 saham), maka besaran investasi rutin yang kecil dengan sendirinya memiliki pilihan saham yang terbatas.

Bukan masalah sih, namun yang perlu diingat adalah, jangan sampai tergoda untuk membeli saham-saham bernilai kecil namun beresiko tinggi. Tetap fokus pada saham-saham yang lapis atas atau gampangnya pilih dari daftar LQ45.

At least buat belajar dulu lah. Jika nanti sudah lebih paham tentang saham dan resikonya, bisa lah coba-coba untuk berinvestasi pada saham-saham lapis kedua, hehehe…

Keuntungan Tambahan Investasi Saham: Dividen

Plus poin lagi dalam berinvestasi saham: ada dividen atau pembagian keuntungan dari perusahaan pada para pemegang sahamnya. Imbasnya? Hasil investasi kita semakin meningkat.

Dalam simulasi di atas, asumsinya kita berinvestasi pada saham-saham pembagi dividen sebesar Rp 10 juta selama 10 tahun. Hasilnya? Selain ada keuntungan dari kenaikan harga saham atau capital gain, ada juga keuntungan dari sisi dividen. Lumayan banget kan?

Hasil investasi yang diperoleh tentu akan semakin maksimal jika investasi dilakukan secara rutin seperti pada skema Yuk Nabung Saham.

Penutup

Investasi secara rutin dengan jumlah yang sama adalah salah satu cara untuk mengurangi risiko investasi. Konsep yang ngetop dengan sebutan dollar cost averaging ini sering diterapkan dalam berbagai instrumen investasi, seperti emas ataupun reksadana.

Dan saat ini konsep ini dibawa oleh BEI dalam kampanye Yuk Nabung Saham untuk semakin memasyarakatkan investasi saham. Konsep Yuk Nabung Saham ini adalah suatu skema yang sangat menarik untuk diterapkan, dengan memperhatikan faktor-faktor risiko dalam berinvestasi saham.

Terima kasih kepada Pak Nicky Hogan yang telah mengijinkan penggunaan materi presentasinya untuk saya bahas dalam tulisan ini.

Selamat berinvestasi.

 

 

 

2 Comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: