Tip Belajar Investasi Saham untuk Anak: Biarkan Dia yang Memilih

Sudah baca tentang pentingnya mengajarkan konsep uang sejak dini ke anak-anak kan? Juga sudah baca tentang memperkenalkan investasi? Nah, melanjutkan tentang ngajarin anak investasi, sekarang lebih spesifik lagi yuk. Yaitu, investasi saham.

Kenapa sih saham duluan yang harus dikenalkan pada anak-anak? Yah, sebenarnya sih enggak ada keharusan, mesti saham dulu. Boleh kok dari mana saja. Mulai dari deposito juga boleh, atau dari emas juga bisa. Reksa dana pun bisa. Tapi, kayaknya investasi saham itu agak sedikit rumit ya, makanya mari kita sharing aja sekalian. Dan lagi, “objek” belajarnya bisa pakai produk yang cukup dekat dengan dunia anak. Kalau emas atau deposito, justru agak lebih sulit karena mereka belum bisa melihat logam mulia sebagai hal yang berharga. Begitu juga dengan deposito.

But, please, silakan aja kalau mau mulai dengan investasi lain, selain saham.

Ini sekadar sharing saja, dan kalau ada yang mau komen atau mau nambahin insight apa saja, silakeun langsung ditulis di kolom komen di bawah sana, yes?

Tip Memperkenalkan Investasi Saham pada Anak

1. Kenalkan dengan saham milik perusahaan atau merek yang dekat dengan mereka

Salah satu tip penting dalam proses pengenalan investasi saham pada anak ini adalah kenalkan saham milik perusahaan dengan produk atau merek yang dikenal baik oleh sang anak.

Misalnya saja di Amerika Serikat, bulan lalu investorplace.com sempat merekomendasikan 7 saham ini.

Tip Belajar Investasi Saham untuk Anak: Biarkan Dia yang Memilih

Jadi, yang direkomendasikan adalah:

  • Sektor retail: Starbucks, Chipotle (sejenis taco bell), dan Five Below (jaringan toko diskon)
  • Sektor olahraga: Lulu Lemon (yang dijuluki the next Nike) dan Ferrari (brand paling kuat dalam olahraga otomotif)
  • Sektor game: Electronic Arts (pembuat game) dan DraftKings (operator fantasy sport)

Semua saham yang direkomendasikan di atas merupakan saham dari perusahaan yang “katanya” dekat dengan kehidupan anak dan keluarga di Amerika.

Nah, ini bisa kita tiru. Fokuslah pada brand dan produk yang dikenal anak, masalah valuasi ada di urutan kedua.

Ingat loh, kita merekomendasikan saham yang bagus dari kacamata mereka, bukan yang bagus menurut orang tua. Apalagi bagus menurut analis saham. Siapa itu analis saham? Bisa jadi mereka bingung malahan.

2. Selalu lihat dari point of view anak

Tip Belajar Investasi Saham untuk Anak: Biarkan Dia yang Memilih

Yes, lihat apa yang menarik dan familier di mata mereka. Mata anak-anak. Coba kesampingkan dulu pandangan pribadi sebagai orang tua. Apalagi yang suka cuan-minded.

Biar saja pada bilang sekarang saham batu bara lagi bagus. Atau, sekarang lagi zamannya saham bank digital. Ya, kalau memang mau, beli saja untuk diri sendiri, dan masukkan ke portofolio pribadi. Anak biarkan saja memilih saham yang mereka mau, dan sesuai dengan pengetahuan mereka.

Ini kan bagian dari pembelajaran mereka.

Tapi, kenapa sih anak harus dibiarkan memilih saham mereka sendiri? Bukankah bagus kalau sedari sekarang mereka sudah diajarin gimana cara melihat saham yang bagus ke depannya?

Ini dia keuntungan anak pilih saham sendiri:

  • Belajar mengambil keputusan sendiri, karena nanti ke depannya mereka juga yang harus memutuskan sendiri berdasarkan analisis dan pertimbangan yang mereka lakukan sendiri juga, bukan?
  • Hal ini juga sekaligus melatih mereka untuk percaya diri. Pada akhirnya, mereka juga akan lebih percaya diri dalam menentukan pilihan.
  • Nah, kalaupun salah, ya enggak apa-apa. Ini bisa jadi bahan belajar juga. Kita bisa ajak anak untuk belajar dari kesalahan yang kita buat, dan moveon untuk memperbaikinya.

Contohnya seperti apa nih, saham di pasar saham lokal yang cocok untuk anak-anak?

Misalnya saja:

  • TLKM, karena si anak sekarang mempergunakan nomor Telkomsel, mayoritas keluarga besar juga memakai Telkomsel, dan rumah pun ada Indihome.
  • MYOR: karena dari dulu, setiap minggu, selalu minta dibeliin produk camilan dari Mayora. Mulai dari Bengbeng, Choki-Choki, sampai Kopiko. Belum lagi orang tuanya yang selalu beli varian biskuit Roma untuk jaga-jaga kalau kelaparan tengah malam pas lagi nonton Netflix.
  • ULTJ: karena mereka minum susu Ultra setiap harinya
  • ICBP: karena pada suka makan mi instan (eh, jangan banyak-banyak tapi ya!)
  • Dan lain sebagainya

Disclaimer is on: ini sekadar contoh saham saja ya, bukan rekomendasi. Silakan dicari saham dari perusahaan yang produknya sangat dekat dan dipakai oleh anak-anak setiap harinya.

Dalam perjalanannya, mungkin kita juga akan menghadapi pertanyaan dari anak-anak. Ya, siap-siap saja dengan jawaban yang dapat mereka terima dengan segala “keterbatasan”-nya. Tapi, percayalah, “keterbatasan” anak itu justru adalah titik unggul mereka di kemudian hari. Otak mereka masih sangat berkembang, masih banyak ruang kosong yang masih bisa diisi, maka isilah dengan hal-hal yang berguna buat mereka di kemudian hari.

Akhirnya, ingat ini:

“Learning about investing is a life skill that will help kids be more successful in adulthood.” – Stuart Ritter

Semoga bermanfaat!

Leave a Reply